DDHK News English Version
Home » Romantika BMI » Yakin pada Satu Tujuan

Oleh NUR HIDAYAH

Cerita ini terjadi sekitar 4 tahun yang lalu, sewaktu saudara kita –sebut saja namanya Aisyah– masih bekerja di Saudi Arabia. Aisyah bekerja pada keluaga yang berjumlah 6 orang. Tuan, Nyonya, dan keempat orang anaknya yang masing-masing berusia 18, 17, 13, dan 7 tahun.

Tahun pertama bekerja di keluarga itu, semuanya terasa nyaman karena semua anak-anaknya sangat nenurut kepada ibunya. Nyonyanya pun sering membantunya mengerjakan pekerjaan rumah yang memang pada umumya pekerjaan pembantu di Saudi Arabia sangat berat. Tapi semuanya itu berubah ketika Nyonyanya tiba-tiba menjadi sering sakit-sakitan. Setelah dioperasi, bukannya sembuh yang didapat, tetapi ia malah menjadi lumpuh.

Sejak saat itulah pekerjaa Aisyah menjadi sangat berat. Harus menjaga orang lumpuh yang setiap saat memanggil dan memerlukannya. Belum lagi anak-anak mereka yang tadinya penurut berubah menjadi bandel dan susah diatur. Dulu sewaktu ibunya masih sehat, mereka tidak pernah asal lempar pakaian, sepatu dan tas keseluruh penjuru rumah saat pulang sekolah. Ibunya selalu mengajarkan disiplin pada mereka. Tapi sekarang, semuanya berubah. Ditambah Babah (panggilan untuk majikan laki-laki di Arab) mulai sering berbuat “genit” pada Aisyah.

Pekerjaan yang satu belum selesai, sudah datang pekerjaan yang lain. Apalagi saat Ramadhan tiba, baru saja ia selesai membereskan pekerjaan untuk berbuka puasa, ia harus memulai lagi pekerjaan untuk sahur. Setiap hari Aisyah hanya bisa istirahat 1-2 jam saja dalam sehari semalam.

Untuk membersihkan diri saja Aisyah hanya sempat mencuci muka dan sikat gigi saja. Ia hanya bisa mandi 1 minggu sekali. Sejak saat itu Aisyah mulai merasa takut dan khawatir. Ia takut kalau suatu saat Babahnya melakukan pelecehan seksual terhadapnya seperti nasib TKW-TKW lain yang bekerja di negeri Arab. Apalagi usianya saat itu masih 16 tahun. Terlebih selama 17 bulan bekerja disana, ia tidak mendapatkan gaji.

SUATU hari Aisyah memberanikan diri untuk “mencuri” paspor miliknya yang disimpan majikannya di lemari pakaian. Kemudian ia berpura-pura menjemur pakaian. Dompet, pakaian ganti (gamis dan cadar), dan parpor ia taruh di baskom, kemudian ia tutupi dengan handuk. Setelah di luar, Aisyah segera berganti pakaian dan membuang baskomnya ke tempat sampah. Aisyah segera mencari taksi.

“Saya dalam bahaya, cepat antarkan saya ke bandara,” pintanya kepada supir taksi.

“Kamu orang mana, kenapa kamu dalam bahaya, kamu orang Pakistan?” tanya sopir taksi.

 “Na’am!” kata Aisyah

“Bukan, kamu tidak bisa bahasa Pakistan, Anti Indunisii?”

Aisyah pun bilang kalau dia orang Indonesia dan kabur karena tidak digaji oleh majikannya. Tapi supir taksi itu malah merayunya. “Kamu jadi istri saya saja, tidak usah kerja, tinggal menunggu saya pulang kerja saja!”

Aisyah berpikir sejenak. Dalam hatinya berkata, kalau ia jadi istri supir taksi itu, maka ia tidak bisa pulang ke Indonesia dan pasti ia akan dibawa ke Pakistan sana. “Tidak, saya ingin pulang ke Indonesia, cepat antar saya ke bandara, saya punya uang untuk membayar,” jawab Aisyah.

Supir taksi itu bersedia mengantarnya. Tapi ia bilang hanya taksi tertentu saja yang bisa masuk bandara. Setelah sampai di Makkah nanti, Aisyah akan dioper ke taksi lain yang supirnya orang Arab asli yang akan mengantarnya sampai ke Jeddah. Aisyah pun setuju.

Setelah sampai di Makkah, ia dioper ke supir taksi lain. Seperti supir tadi, Babah itu pun curiga atas kaburnya Aisyah. Babah taksi itu khawatir jika Aisyah kabur karena mencuri atau membunuh majikannya. Aisyah berusaha meyakinkan kalau ia kabur karena tidak digaji. Babah itu percaya dan menawarkan Aisyah untuk bekerja di rumahnya.

“Kamu bekerja di rumah saya saja, kamu akan saya gaji,” tawar Babah taksi. Aisyah agak sedikit tergiur dengan tawaran Babah itu. “Kerjaannya apa saja?” tanya Aisyah. “Saya punya 3 anak laki-laki usia 30 tahunan, kerjaan kamu masak, bersih-bersih rumah,” jawabnya.

Mendengar jawaban itu, Aisyah pun merasa takut. Karena anak-anak Babah itu semuanya laki-laki. Ia takut jika yang ia takutkan saat bekerja di majikannya akan terjadi jika ia menuruti kata-kata Babah supir taksi itu. Ia pun bersikeras agar ia bisa diantarkan ke bandara. Tapi Babah bilang, kalau ia akan dapat masalah kalau ia langsung ke bandara. Karena biasanya pembantu yang pulang ke Indonesia harus ada surat pengantar dari majikan atau KBRI. Kalau tidak, Aiyah tidak akan dipulangkan karena dikhawatirkan ia telah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.

Babah menyarankan agar Aisyah lapor ke KBRI dahulu agar ia dapat bantuan. Aisyah setuju dan ia diantar sampai KBRI. Di sana paspor Aisyah sempat dirampas oleh polisi Arab yang sedang bertugas. Tapi Babah itu melarangnya dan memarahi polisi itu. Babah bilang, kalau Aisyah adalah orang yang butuh pertolongan dan jangan diganggu!

Setelah masuk ke KBRI, ia betemu banyak sekali TKW yang bermasalah. Di antara mereka ada yang kaki dan tangannya patah karena terkilir saat berusaha kabur, dengan lompat dari jendela apartemen majikannya saat ia akan diperkosa. Sangat beraneka ragam masalah yang mereka hadapi.

Petugas dan TKW lain pun salut atas keberaniannya “mencuri” paspornya dari majikan dan sangat beruntung karena Aisyah langsung lapor ke KBRI, tanpa harus menginap di tempat lain selain rumah majikan. Kareja jika itu terjadi, Aisyah akan dikira kabur dengan laki-laki hidung belang atau bekerja tidak sesuai kontrak kerja dan kasusnya tidak dapat langsung diproses.

Keesokan harinya KBRI memanggil majikan Aisyah. Tapi yang datang bukan majikannya, melainkan adik laki-laki Babahnya. Dia pun bertanya perihal kaburnya Aisyah. Aisyah hanya menjawab kalau ia tidak digaji selama 17 bulan bekerja di sana. Setelah itu majikannya bersedia membayar gajinya.

Hanya dalam 3 hari, kasus Aisyah selesai diproses. Ia dapat pulang ke Indonesia tanpa melalui proses deportasi yang memakan waktu minimal 3 bulan. Itu semua karena ia punya paspor dan uang untuk membeli tiket pulang dan yakin kalau ia ingin pulang dan bisa pulang ke Indonesia.

Kalau saja ia tergiur dengan rayuan kedua sopir taxi tadi, mungkin saja nasibnya akan berbeda. (Nur Hidayah, BMI Hong Kong. Email: n.hidayah@myself.com).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org