Hong Kong dilanda hujan dan angin topan (typhoon) dari signal T8 menjadi T10, Sabtu 23 Juli 2012. Pohon-pohon tumbang. Daun-daun berguguran, berserakan di mana-mana. Jalan lengang. Transportasi pun diberhentikan untuk sementara, bahkan kabarnya ada yang terpaksa tidur di dalam stasiun MTR karena tidak beroperasi, jadi tidak bisa pulang, tidak ada kendaraan.
Pasar-pasar dan toko-toko pun tutup. Sudah sejak sore kemarin datangnya si hujan angin ini. Dhai-dhai pun pulang kerja lebih awal dari biasanya, pukul 6 sore sudah sampai rumah. Awalnya tidak tahu kalau ada typhoon, dhai-dhai pulang langsung memberitahukan kalau hari ini typhoon no.8 dan masih bisa naik lagi, kami diimbau agar tidak bepergian ke mana-mana.
Sinsang pulang seperti biasanya pukul 8 malam. Kami langsung makan malam bersama. Angin menderu-deru menyanyikan lagu kebangsaannya, seram sekali, meliuk-liuk, debam-debum, breg –breg, dan entah apa lagi suaranya.
Tanaman rias di teras pun diturunkan karena takut terbang terbawa angin, atap teras bahkan sobek karena saking kencangnya angin, barang-barang berjatuhan, dengan sigap sinsang dan dhai-dhai membereskan dan memasukkan barang-barang yang ada di teras ke dalam rumah, karena kebetulan saya sedang berkutat dengan catatan laporan Ahad kemarin acara pelatihan komunikasi jadi tidak begitu mempedulikan si typhoon.
Selama hampir 6 tahun di Hong Kong, baru kali ini angin topan mencapai signal T10, biasanya hanya T8 dan itu pun paginya reda jika datangnya malam. T8 saja sudah seram sekali suara anginnya, apalagi T 10. “Ya Allah ,sesungguhnya aku mohon kepada-Mu kebaikan angin (ribut ini), kebaikan apa yang di dalamnya dan kebaikan tujuan angin di hembuskan. Aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan angin ini, kejahatan apa yang di dalamnya dan kejahatan tujuan angin di hembuskan…”
Walau angin topan sampai signal T10, menumbangkan pohon-pohon, memberhentikan transportasi, tapi jaringan internet tetap lancar, lampu pun tidak padam. Jadi ingat dulu ketika di kampung halaman, waktu itu hujan deras mati lampu itu sudah langganan, hal biasa. Jangankan hujan deras, terkadang tidak ada angin atau hujan pun listrik suka mati sendiri, banyak yang protes dengan kinerja PLN, tapi ya cuma ngegerundel di belakang alias hanya ngomong dengan tetangga atau sesama warga lainnya.
Pagi hari hujan dan angin masih belum reda, tapi sinsang tetap berangkat kerja lebih pagi dari biasanya karena sekarang masuk shift pagi, semalam ngobrol waktu dinner katanya pagi ini berangkat lebih awal karena ada yang harus dikerjakan.
Dhai-dhai agak khawatir kenapa kok masih kerja jika ada typhoon? Sinsang hanya menjawab nanti mungkin pulangnya juga agak awal.
Dhai-dhai berangkat kerja agak siang, pukul 10.30 WHK, salut dengan warga sini typhoon tidak menghambat aktivitas mereka, rasa tanggung jawab terhadap pekerjaannya sangat tinggi, dan disiplin. Apalagi ketika musim dingin pun demikian, ketika banyak yang bersembunyi di balik selimut karena dingin yang menggigit, justru mereka bangun lebih awal dan lari pagi untuk menghangatkan badan.
Berangkat kerja pun jadi semangat, begitu kata sinsang, ketika aku tanya kenapa bangun dan jogging lebih awal. So buat teman-teman, jangan mau kalah ya..semangat! (Rima Khumaira, Reporter DDHK News/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org




