SAAT berhijrah merantau mengadu nasib ke negeri orang, di mana pun itu, pastinya setiap orang punya alasan dan harapan tersendiri. Jika yang dikejar hanyalah materi dunia, mungkin sebagaian besar para TKI akan mendapatkannya, meskipun juga banyak yang mengalami nasib kurang beruntung.
Gaji yang besar, kebebasan bergaul, gaya hidup yang fantastis, kesuksesan terkadang membuat orang tidak sadar bahwa tujuan hidup bukan hanya untuk itu. Kualitas keimanan seseorang kadang naik kadang juga turun. Hal itu sangat rentan, terutama bagi TKI di negara non-Muslim.
Berikut ini pengalaman salah satu TKI pria asal Garut di Korea, sebut saja namanya Eza, sebagaimana dituturkan kepada reporter DDHK News Anita Sri Rahayu.
Meskipun seleksi untuk bekerja di Korea termasuk sulit ditambah dana pemberangkatan yang besar, namun sekitar 12 ribu perkerja migran asal Indonesia yang mayoritas kaum Adam, ada di sana. Mereka calon pemimpin keluarga atau bahkan sudah menjadi pemimpin keluarga. Tapi bisakah mereka memimpin dirinya sendiri di jalan yang baik selama merantau? Meskipun tidak semua terjerumus ke dalam gemerlap kebebasan, tapi kegiatan keagamaan yang harusnya bisa menjadi filter masih minim.
“Pemerintah (Indonesia) hanya semangat saat menangani devisa, tapi perhatian pada pekerja belum sebanding. Pembangunan masjid di Daegu saja 5 tahun belum kelar-kelar. Seringnya mengadakan acara yang sifatnya hiburan, seperti turnamen sepak bola, musik, lomba masak, tapi untuk pengajian jarang, bahkan tidak pernah dengar,” ujar Eza yang lama mondok di pesantren daerah Tasikmalaya Jabar.
Dia juga menceritakan banyaknya organisasi kedaerahan, tapi tidak semua dilandasi ‘amar ma’ruf nahyi munkar. Saat libur kerja kebanyakan dimanfaatkan untuk refreshing duniawi. Selain alasan letih kerja, tidak ada tempat dan kurangnya penyemangat, Eza menilai shalat jarang dilaksanakan oleh sebagian besar TKI Muslim di sana.
“Tergantung orangnya memang, tapi tidak dipungkiri banyak yang melalaikan. Bahkan, dunia maksiat malam seperti hubungan seks bebas (zina) sudah jadi hal yang tabu di sini. Minuman keras juga hal biasa. Terlalu banyak tempat hiburan, sedangkan asupan religi tidak ada, tidak seimbang. Masjid ada satu di ibu kota, Seoul, tapi mushola ada di tiap kota, hanya saja kondisinya memprihatinkan, kami shalat Id saja gelar tenda,” lanjutnya.
Selain menyampaikan harapannya, agar Dompet Dhuafa (DD) bisa buka cabang di Korea, ia juga yakin kebebasan di negara itu tidak akan menghancurkan akidah dan moral para pekerja, jika keagamaan lebih diaktifkan.
“Masyarakat di sini kebanyakan ateis (tidak beragama), dengan prinsip hidup kerja dan kerja. Organisasi pekerja banyak, yang diperlukan itu penggeraknya, terutama bidang dakwah. Kerja harus, tapi ibadah lebih harus, semoga DD bisa buka di sini,” pungkasnya penuh harap. (Anita Sri Rahayu/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



