Tidak Sempurna Iman Tanpa Ukhuwah

Published on August 18th, 2010 by | Category: Opini dan Kajian


didin-225x300Oleh K.H. Didin Hafidhuddin

Ukhuwah Islamiyah  adalah sesuatu yang menyatu dengan iman dan takwa. Tidak akan sempurna iman tanpa ukhuwah. Dan tidak ada ukhuwah yang hakiki tanpa iman. Tidak ada persaudaraan yang abadi tanpa takwa. Dan tidak ada takwa  yang sempurna  tanpa persaudaraan.

Allah berfirman dalam Q.S al-Hujarat:10, “Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara. Karena itu, damaikanlah  antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah supaya kamu mendapat rahmat.” Intinya, ayat tersebut menyuruh kita agar selalu memelihara persaudaraan. Selain itu, kita juga diwajibkan untuk mencegah konflik dan berupa untuk mendamaikan pihak-pihak yang bersengketa.

Dalam Q.S. az-Zukhruf ditegaskan, teman akrab bisa menjadi musuh kalau pertemanan itu tidak dilandasi takwa. “Teman-teman akrab pada hari itu sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.”

Jika ukhuwah kosong dari iman dan takwa, maka yang menjadi ikatan persaudaraan adalah kepentingan sesaat. Yang tidak mustahil akan mudah retak dan rapuh jika terjadi perbedaan  dalam menyikapi kepentingan tersebut. Hal ini diingatkan Allah dalam Q.S. al-Maidah:27, “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima  dari salah seorang di antara mereka berdua (Habil) dan tidak diterima  dari yang lain (Qabil). Ia berkata, ‘Aku pasti membunuhmu!’ Berkata Habil, ‘Sesunguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang bertakwa.” Pada ayat selanjutnya ditegaskan, “Sesunguhnya kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku,  aku sekali-kali tidak akan  menggerakkan tanganku kepadamu  untuk membunuhmu.  Sesunguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam” (Q.S. al-Maidah:28).

Ukhuwah Islamiyah yang dilandasi iman dan takwa adalah perekat yang sangat penting dalam melaksanakan amal jama’i. Dakwah secara berjamaah  dalam barisan yang rapi dan teratur,  dengan pembagian kerja yang baik, merupakan sebuah kewajiban sekaligus sebuah kebutuhan.

Ini bisa kita simak dari Q.S. ash-Shaf:4 yang menyebutkan “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan  mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.” Sedangkan dalam Q.S. al-Anfaal:73, Allah memperingatkan, “Adapun orang-orang yang kafir, sebagian mereka menjadi pelindung bagi yang lain.  Jika kamu tidak melaksanakan apa yang diperintahkan Allah, niscaya akan terjadi kekacauan  di muka bumi dan kerusakan yang besar.”

Untuk tegaknya ukhuwah Islamiyah, diperlukan beberapa persyaratan yang sekaligus merupakan pilar utamanya.

Pertama, memiliki kepamahaman yang sahih tentang ajaran Islam. Upaya ke arah itu antara lain dengan pengkajian ajaran Islam  secara benar dan terus-menerus. Yang kedua, memiliki kesungguhan  untuk senantiasa  mengembalikan setiap persoalan kepada ketentuan Allah dan Rasul-Nya, seperti yang diingatkan Allah dalam Q.S. Ali Imran:102 dan 103.

Kemudian yang ketiga, berusaha untuk terus-menerus melaksanakan silaturahmi, taushiyah, dan tabayun, jika mendengar suatu berita tentang sesama saudaranya. Kita harus ber-ta’awun, tolong-menolong, dan itsar, berusaha mendahulukan kepentingan saudara di atas kepentingan diri sendiri.

Selanjutnya yang perlu diperhatikan (keempat) adalah menjauhkan diri dari perbuatan yang akan merusak ukhuwah Islamiyah, seperti menghina, ghibah, menfitnah, menyebarkan aib sesama saudara dan perilaku lainnya yang merusak, seperti yang diingatkan Allah dalam Q.S. al-Hujarat:11-12.

Dan yang kelima, jika terjadi perbedaan pendapat, maka hendaknya perbedaan tersebut dibingkai oleh akhlakul kharimah. Adanya perbedaan pendapat sebenarnya merupakan  masalah biasa. Bahkan, tidak menjadi masalah pula jika  terdapat berbagai kelompok  dan jamaah yang berjuang membela Islam. Apabila hal itu merupakan ta’addud tanawwu’ (perbedaan yang bersifat variatif), bukan ta’addud ta’arudl (perbedaan yang bersifat kontradiktif).

Apalagi perbedaan kelompok tersebut bisa melakukan koordinasi dan kerjasama yang saling menguatkan, saling mengisi kekosongan dan kekurangan, seperti yang difirmankan Allah dalam Q.S. at-Taubah,

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat  kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah, sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.”

Sekarang yang menjadi masalah dan keprihatinan kita adalah perbedaan tersebut menjurus kepada perpecahan  dan pertentangan. Ini akan mengakibatkan  hilangnya kekuatan dan porak-porandanya  barisan umat. Allah SWT sangat mengkhawatirkan hal ini. Maka, dalam Q.S. al-Anfal:46 disebutkan, “Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu  menjadi gentar dan hilangnya kekuatanmu.”

Maka, untuk menghindari hal tersebut, kita perlu memahami  dua hal pokok dalam menyikapi perbedaan, yakni landasan pemikiran dan landasan moral dalam fiqhul-ikhtilaf.*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑