DDHK News English Version
Home » BMI Menulis » Senandung Picasso
Picasso-Girl-Before-a-Mirror

Picasso: Girl Before a Mirror. Foto: Google

Oleh Anita Sri Rahayu

“Sudah dari empat tahun yang lalu Nit, pernikahanku selalu hanyut, rencana hanya tinggal rencana.” Jika teringat kata temanku itu, rasanya ikut merasa sedih, tapi aku tahu pernikahan itu bukan hanya keinginan dan usaha. Di atas semua itu butuh rido Tuhan yang Mahatahu kapan dan dengan siapa serta bagaimana hal itu bisa terwujud.

Seyum aku sunggingkan, kepada temanku serta diri sendiri agar tetap ikhlas dengan rajutan benang kehidupan yang selalu terlihat rumit jika dilihat dari posisi kita(hamba), tapi kelak suatu waktu jika Allah Swt sudah menempatkan kita di samping-Nya, seraya membentangkan spanduk lewat para malaikat-Nya, ”Lihatlah, lukisan hidupmu dari sini. Indah bukan jika kau mengikuti belokan dan lilitan yang harus kau jalani? Inilah lukisanmu, indah di depan-Nya yang telah merajut hingga benang kehidupanmu habis”

Hanya Tuhan yang tahu yang terbaik bagi hamba-Nya. Jangan bingung menanti masa depan, dan terbebani oleh masa lalu, sehingga kedua hal itu menjadikan kita hancur menjalani masa kini, konsen dengan langkah kita sekarang itu lebih penting tentunya.

Mentari sudah kembali ke peraduan, meski masih banyak harapan yang masih mengambang, ia bagai jarum waktu yang tak peduli, hanya bertugas menyinari hari kemudian pulang keperaduannya oleh kehendak Tuhan. Aku sibuk dengan pekerjaanku. Mencoba menetralisir hati dari rasa sedih, saat ada cobaan itu kesempatan dari Tuhan agar iman bisa lebih baik lagi. Jangan sampai aku rugi dua kali, pertama sedih karena masalah, jelas itu rugi. Kedua rugi karena tidak bersabar. Setidaknya dengan sabar, aku bisa menang kategori iman, meski masalah masih eksist, biarkan saja, hingga ia bosan dan pergi.

Sesuai permintaan si bos, sore itu aku pergi dengan mereka ke pameran lukisan di Hong Kong Heritage Museum yang letaknya tak jauh dari tempat kerjaku. Kebanyakan pengunjung adalah seniman, tapi aku juga senang bisa melihat langsung karya fenomenal pelukis/artis asal Perancis-Paris, Pablo Picasso. Dia seniman ternama di abad 20, dengan ciri khas kontras wanra dan gabungan simetri, dalam satu lukisan misalnya, dia membuat dua sisi pandang, menarik sekali. Itu pernah aku pelajari secara otodidak, karena aku suka melukis tapi bukan bakat yang tersalurkan, hanya dulu waktu masih sekolah saja.

Seni lukis itu asik, kita bisa meluapkan emosi di atas kanvas, bermain dengan warna, kemudian merobeknya jika tak sesuai selera. Tidak semua lukisan itu sempurna, dan tidak semua hasil lukis itu sebuah kesempurnaan. Demikian juga seni kehidupan, tak ada hasil karya indah tanpa paduan corak warna yang berbeda. Kita hanya bertugas menjadi kanvas yang siap dengan goresan warna apapun.

“Tidak setiap hari kita bisa lihat, ini karya Picasso langsung dikirim dari Perancis,” ujar si bos tanpa aku bertanya, kami memutari setiap ruang galeri dan jujur aku kagum. Hanya dengan goresan sederhana, bahkan cenderung mirip lukisan anak SD, tapi mataku terlibat emosi berpikir keras, terbawa pada hal apa yang ingin dia sampaikan.

Kami pulang menuju restoran, bersama keluarga si bos, tapi anganku entah di mana. Hidangan khas Vietnam disajiakan pelayan dengan ramah. Lucu, karena ada daun kemangi. Jadi ingat ibuku di kampung, bisanya kalau masak pepes ikan dia pake daun kemangi, aku pandangi piring berisi salad ayam itu.

Di meja sebelah kiri, ada satu keluarga yang juga makan malam. Seorang bapak muda, beserta istri dan anaknya yang baru berusia tiga tahun mungkin. Mengenakan kaos bergambar Picaccu/Pokemon. Istrinya dengan santai mulai menikmati hidangan, tapi si bapak sibuk menyiapkan mangkok anaknya, lalu dengan sabar menyuapi penuh kasih sayang. Sesekali mereka bercengkrama harmonis. Tidak sengaja aku lihat tangan si bapak muda itu yang bertato seram, mirip preman di film. Tapi tingkah anaknya bisa membuat dia seramah itu, tunduk dengan aturan main si Piccacu buah hatinya.

Apa jika Picasso masih hidup bisa melukis keindahan suasana yang baru saja aku lihat ya? Saat seorang yang angkuh, kuat dan pemimpin bagi keluarganya sangat meunjukan kasih sayangnya pada istri dan anaknya. Semoga temanku dan aku bisa mendapat lukisan indah itu suatu saat dari Tuhan, tapi tidak pake tato seram.

Jelaslah sudah kegunanaan hadist Rasulullah berikut ini: “Orang mukmin yang paling sempurna imannya adalah yang paling baik ahlaknya. Dan orang yang paling baik di antaramu adalah yang paling baik terhadap istinya”

Duhai… para suami yang mengaku dan merasa baik, berbaiklah pada istimu, jangan kalah sama bapak si Piccacu itu. (Anita Sri Rahayu/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org