Sempurnakan Doa dan Ikhtiar dengan Tawakal

Tawakal secara bahasa berarti “mewakilkan” atau “menyerahkan”. Dalam Islam, tawakal berarti berserah diri sepenuhnya kepada Allah Swt dalam menghadapi berbagai masalah atau menunggu hasil suatu ikhtiar. Tawakal juga berserah diri kepada-Nya dalam menantikan akibat suatu keadaan.

Tawakal merupakan perintah Allah Swt. “Dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui” (QS. 8:61).

“Barangsiapa yang tawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana” (QS. 8 : 49).

Menurut Imam Al-Ghazali dalam Ihya ‘Ulumuddin, tawakal ialah “menyandarkan kepada Allah Swt tatkala menghadapi suatu kepentingan, bersandar kepada-Nya dalam waktu kesukaran, teguh hati tatkala ditimpa bencana, disertai jiwa yang tenang dan hati yang tentram.”

Tawakal adalah sikap mental yang muncul dari dari keyakinan yang bulat kepada Allah Swt, sebagaimana “ikrarnya” setiap kali membaca QS. Al-Fatihah: “Iyyaka na’budi waiyyaka nasta’in”, hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan.

Tawakal dilakukan setelah berusaha atau menyertai ikhtiar dan doa. Pada zaman Rasulullah Saw ada seorang sahabat yang meninggalkan untanya tanpa diikat. Ketika ditanya, mengapa untanya tidak diikat, ia menjawab: “Saya telah benar-benar bertawakkal kepada Allah”. Sabda Nabi Saw: “Ikatlah dan setelah itu bolehlah engkau bertawakkal.”

Dari Anas bin Malik ra, ada seseorang berkata kepada Rasulullah SAW. ‘Wahai Rasulullah SAW, aku ikat kendaraanku lalu aku bertawakal, atau aku lepas ia dan aku bertawakal?’ Rasulullah SAW menjawab, ‘Ikatlah kendaraanmu lalu bertawakallah.” (HR. Tirmidzi).

Tawakal membuat hati tenang karena yakin akan adanya pertolongan Allah Swt setelah ikhtiar dan berdoa. Allah Swt menjamin rezeki bagi setiap makhluk-Nya.

“Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu” (QS. 65:3).

“Sekiranya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah SWT dengan tawakal yang sebenar-benarnya, sungguh kalian akan diberi rizki (oleh Allah SWT), sebagaimana seekor burung diberi rizki; dimana ia pergi pada pagi hari dalam keadaan lapar, dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (HR. Ahmad, Turmudzi dan Ibnu Majah).

Tawakal adalah amalan hati (‘amaliyah qalbiyah). Menurut Imam Ahmad bin Hambal, ttawakal merupakan aktivias hati, perbuatan yang dilakukan oleh hati, bukan diucapkan oleh lisan, bukan pula sesuatu yang dilakukan oleh anggota tubuh. Wallahu a’lam. (Mel, berbagai sumber).*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!
Posted on October 13, 2011

Leave a comment