Sebutkan Rok Mini Faktor Perkosaan, Gubernur DKI Dicaci

Puluhan aktivis perempuan melakukan aksi unjuk rasa di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta, Minggu (18/09). Mereka mengecam pernyataan Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, yang menilai rok mini yang dikenakan perempuan sebagai pemicu aksi perkosaan di angkutan umum .

Massa demonstran –sebagian besar mengenakan rok mini—merasa keberatan jika busana dijadikan alasan tingginya angka perkosaan.

Fauzi Bowo menyebut perkosaan di angkutan umum muncul karena gaya busana mini. Hal senada dikemukakan Bupati Aceh Barat, Ramli Mansur, yang mengatakan perempuan berbusana minim “seakan minta diperkosa”.

Pengunjuk rasa membawa berbagai spanduk berisi kecaman terhadap pihak-pihak yang menentang pakaian mini, seperti “My rok is my right” (rok saya adalah hak saya), “Don’t tell us how to dress. Tell them not to rape” (jangan ajari kami bagaimana berpakaian, tetapi katakan mereka untuk tidak memperkosa).

Fauzi Bowo sudah meminta maaf atas pernyataannya soal rok mini. Dia mengaku tidak bermaksud melecehkan perempuan dan mengakui pernyataannya rawan multitafsir.

Aksi demonstrasi di bundarah HI mendapat respon dari Majelis Ulama Indonesia (MUI). Ketua MUI KH. Amidhan menjelaskan, anjuran yang dikeluarkan Gubernur DKI itu cukup baik. Amidhan menegaskan, anjuran dari Gubernur Fauzi Bowo itu didasari oleh potensi kejahatan seksual yang kerap dialami oleh perempuan berbusana minim.

Menurut Amidhan, perempuan yang berbusana ekstra ketat, sudah seperti memberikan kesempatan kepada orang lain untuk melihat kemolekan tubuhnya.

MUI sudah mengeluarkan fatwa soal hal ini. Menurutnya, ada baiknya wanita yang keluar rumah menggunakan pakaian yang menutup aurat, tidak transparan, dan tidak ketat hingga menonjolkan bentuk tubuh. “MUI sendiri kan sudah memiliki fatwa soal ini. Fatwa itu sifatnya anjuran bagi yang mau beriman,” katanya.

“Dalam Islam, wanita yang keluar rumah harus menutup auratnya itu sesuai dengan surat Al-Ahzab (59) yang berbunyi “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak akan di ganggu,” terangnya.

Ayat ini, lanjutnya, diturunkan pada zaman Nabi Muhammad untuk membedakan mana wanita baik dan mana wanita yang tidak baik.

“Ayat ini diturunkan pada zaman perbudakan dulu. Ini untuk membedakan mana wanita baik dengan budak dan supaya tidak diganggu orang-orang fasik (orang jahat, red). Turunnya ayat itu supaya tidak memancing nafsu orang lain,” jelasnya.

Di Italia Dilarang

Soal rok mini ini juga pernah menjadi isu hangat di Italia. Pada Oktober 2010, sebuah kota kecil di Italia, Castellammare di Stabia, melarang warganya mengenakan rok mini untuk “meningkatkan standar kesopanan publik.”

“Peraturan ini akan membantu memperbaiki kesopanan dan tata kehidupan masyarakat kota yang lebih baik,” kata Wali Kota Luigi Bobbio, seperti dikutip BBC. Selain rok mini, pakaian serbapendek lain juga dilarang, termasuk jins low-cut.

Pelanggar akan didenda antara 25 sampai 500 euro atau Rp 313 ribu sampai Rp 6,3 juta. Pejabat dari Partai Kebebasan Masyarakat ini mengatakan ini membidik orang yang “berkelakuan buruk.”

Larangan rok mini muncul barengan dengan larangan mandi matahari, bermain bola di tempat umum, dan penistaan agama. Diajukan oleh Wali Kota, serangkaian aturan baru itu dibahas di tingkat Dewan Kota hari ini.

“Kurasa ini kebijakan yang tepat,” ujar seorang pendeta setempat, Don Paulo Cecere. “Ini berguna untuk mengurangi pelecehan seksual.” (Mel. Sumber: Tempo Interaktif, Metrotvnews, Okezone, JPPN, Kompas.com).*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tentang DDHK

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya

Leave a Comment

Web Developed by Romeltea