DDHK News English Version
Home » BMI Menulis » Saatnya Pulang Kampung

anita-romelOleh Anita Sri Rahayu

Ada raut bahagia yang tak bisa aku sembunyikan, setelah hampir genap enam tahun berpisah dari keluarga, akhirnya Tuhan memberi kemudahan padaku untuk pulang kampung. Bahasa kerennya, ”mudik”. Meskipun dari segi pemahamanku, situasi tidak mendukung dari finansial dan tiket pesawat yang telah fullbooking, maklum ini jelang hari raya Idul Fitri. Untuk kesekian kalinya dalam hidupku aku percaya akan kuasa-Nya, ”Kun fayakuuun”.

Dengan seabrek tugas kerja, pikiran pun sudah tak karuan lagi rasanya. Bayang-bayang wajah keluarga sudah melekat di pelupuk mata. Hari terasa lebih lama berganti, meski sudah aku isi dengan berbagai aktivitas.

Aku ambil koper berwarna biru, ransel yang juga berwarna biru, sepatu warna biru, ya aku suka warna itu. Dengan semangat aku bersihkan debu yang melekat pada barang-barang pusakaku itu. Kemudian kutulis list nama benda yang akan kujadikan oleh-oleh. Di tengah beban hati yang menyelimuti aku ingin tetap bisa tersenyum dan membuat orang lain tersenyum. Karena itu dicontohkan Rasulullah Saw yang tersirat dalam sabdanya:

“Janganlah engkau sekali-kali menyepelekan kebaikan macam apa pun, walaupun hanya dengan menunjukan wajah yang ceria saat bertemu dengan saudaramu”.

Setelah melalui perdebatan yang alot, akhirnya si Ibu keukeuh ingin menjemputku ke Bandara Soekarno-Hatta. Meski sudah aku jelaskan dengan berbagai alasan”jangan” tak lain karena aku memikirkan fisik ibu, takut capek terus sakit. “Ita naik travel saja, Bu! Ibu jaga bapak di rumah. Pagi pasti Ita udah sampai deh,” ujarku membujuk.

Alih-alih nurut, malah Ibu bilang sudah bayar DP mobil Avanza milik si A”triiing” entah uang dari mana yang jelas aku yakin sekarang, bahwa sifat keras kepalaku itu tak lain turunan dari Ibu.

Di balik itu semua, tentunya kasih sayang seorang Ibulah landasannya sehingga apa pun akan dilakukan demi kebaikan anaknya. Termasuk aku, yang ingin selalu membalas budi baik orang tua meski tak seberapa kadarnya.

***

Minggu pertama bulan puasa datang. Tak seperti hari Minggu lainnya, kali ini aku harus mondar-mandir ke jantung kota negeri beton, Causeway Bay. Karena tugas sebagai satu dari panitia Pelatihan Komunikasi yang akan berlangsung empat pekan selama bulan puasa di Masjid Ammar Wan Chai.

Seperti yang sudah aku duga, editorku yang menjadi narasumber bisa dengan mudah menguasai audiens, acara berjalan seru dan penuh warna. Mengagumkan, dengan segala rutinitas dan rumititas teman sejawatku (BMI Hong Kong) punya kemauan untuk maju, mencari ilmu bekal menempuh masa depan, kali ini meliputi ilmu komunikasi.

Kata orang, kerja adalah obat. Pikiran yang sibuk, tidak akan punya waktu untuk menghiraukan hal yang tak ada gunannya seperti dendam, iri hati, dengki, takut, putus asa dan was-was. Betul, dengan menyibukan diri, aku merasa lebih ringan menata hari, menuju kepulanganku yang bisa saja menjadi awal kebahagiaan atau awal kesedihan hidupku, Tuhan sedang menguji dan aku hanya bisa mencoba menjalani sebaik mungkin.

Materi pertemuan pertama yaitu tentang jurnalistik. Ini bukan hal baru untukku, meskipun belum mahir, ilmu ini sudah aku dapatkan dari sang editor lebih awal. Seru memang jadi jurnalis, berinteraksi dengan liku-liku kehidupan lewat tulisan yang berdasarkan fakta. Hal itu juga nampak di wajah sebagian banyak peserta, mereka mulai berani mempraktekan rumus dasar dan unsur jurnalistik, dengan produk utamanya yaitu berita.

5 W dan 1 H, unsur utama berita (What, Who, When, Where, Why, dan How), jika diperhatikan sepertinya simple, tapi dari sinilah sifat dasar jurnalistik terbentuk. Bukan dari bahasa kiasan, tapi kejelasan yang pada akhirnya akan melahirkan sebuah keterangan gamblang tentang suatu kejadian.

Menurut pendapatku, unsur jurnalistik tak jauh beda dengan unsur yang wajib kita miliki sebagai insan di dunia. Dari sebuah hadits, ”Ke mana pun seorang hamba melangkahkan kakinya, dia akan selalu dimintai pertanggungjawaban mengenai empat perkara”, salah satunya ”untuk apa usianya dihabiskan”.

Jadi, hidup dan tujuannya itu adalah sebuah kejadian nyata, jelas, bukan fiksi, dan merupakan peristiwa yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhan. Siapa, melakukan apa, kapan, di mana, kenapa, dan bagaimana. Coba renungkan! Itu akan menjadi amal/berita kita yang dicatat setiap saat oleh reporter-Nya (para malaikat).

Hari terasa cepat, meskipun rasa lapar menjerat tapi hati riang semangat karena banyak bertemu teman baru dan ilmu bermanfaat hari itu. Aku dan tim DDHK News lainya (Tati, Rima, dan Lutfi) merapikan peralatan dan menuju kantor, sementara editor kami pamit untuk sebuah keperluan, namun sepakat berkumpul lagi di acara buka bersama sore harinya. Inilah situasi puasaku, masih bahagia meski mereka bukan keluargaku, tapi bisa mengisi kekosongan hati.

***

Tak terasa pekan demi pekan berlalu, meskipun aku tidak bisa fullday berada di lokasi pelatihan karena keperluan menjelang mudik harus aku persiapkan. Namun, aku juga ingin ikut membantu ketiga rekanku, dengan siasat selalu datang lebih awal ke kantor, nurut disuruh jadi emsi (MC) meskipun aku tak bisa, tapi kemudian bolos setelah membawakan susunan acara.

Seperti pada pertemuan kedua, bahasan materi tentang Buletin, Blogging, dan Public Relations yang sangat menarik, tapi apa daya aku pun harus pergi demi senyum di wajah orang tua. Aku ingin membeli sedikit oleh-oleh, menukar uang dan bertemu saudara plus titipannya, dan berjanji kembali ke lokasi sebelum waktu Zhuhur.

Aku telusuri jalan tikus (shortcut) via pasar Wan Chai menuju Causeway Bay, butuh sekitar 10 menit dan aku sampai di depan Time Square HK. Masih menuju sebuah toko kue khas orang Kantonis, aku ingin beli buat bapak. Waktu terasa sangat cepat berlalu. Kini masih satu urusan yang belum selesai, menukar uang. Sambil menenteng tas berat, aku antre di salah satu counter penukaran, sangat panjang hingga tak bisa kembali ke lokasi pelatihan sebelum Zhuhur. Untung “gangster” DDHK News lainnya bisa diandalkan.

“Demi kamu mbok, aku rela deh antre begini,” ujar teman senasib yang berdiri di depanku, kemudian dijawab teman lainnya yang sedang menunggu giliran kedua di depan kasir penukaran uang, ”iya demi keluarga, asal bahagia deh. Liat..di sini uang seperti tak berarti, numpuk. Padahal di kampung, mau dapat tiga lima ribu saja susah bukan main”.

Telingaku seperti disengat listrik, sakit sekali! Tapi betul apa yang mereka bicarakan. Kemudahan rezeki di negeri beton harus bisa disikapi dengan pemikiran kritis bahwasannya kondisi di tanah air sangat bertolak-belakang. Sadar akan hal itu, harusnya lebih peduli akan masa depan, sehingga kesempatan mengais lembaran dolar harus disyukuri dan dimanfaatkan sebaik mungkin.

***

Tiba dipertemuan ketiga, materi tentang Public Speaking kajian materi tak sempat aku simak, karena masih sibuk dengan urusanku seperti pekan yang lalu. Hanya di jam kedua terlihat mereka berani untuk tampil berpidato di depan, lucu tapi membanggakan.

Seusai acara aku beserta panitia dan beberapa teman peserta berjalan pulang ke kantor, tapi tidak naik taksi karena jalanan macet, ribuan warga HK turun berunjuk rasa, setelah pergantian Chief Executive yang dianggap dekat dengan pemerintah Cina, warga sering demo.

Untuk hari itu salah-satu tuntutan mereka adalah peraturan kurukulum materi belajar di sekolah yang akan berlaku 2016 dinilai pro-Cina dan ingin mengubah HK dengan paham komunis. ”Kami tidak mau generasi muda mengalami brain washing,” demikian komentar narasumber yang aku baca di koran keesokan harinya.

Hingga kini tak ada alasan konkret yang dikemukakan para cendikiawan tentang hadist Nabi Saw, ”Tuntutlah ilmu hingga ke negeri Cina”. Aku sering penasaran dan ingin mencari tahu, kemudian pemikiran ini timbul saat melamun, tepatnya setelah selesai membaca buku biografi Mao Zedong yang aku pinjam dari perpustakaan umum.

Mao, demikian panggilan bapak perubahan Cina itu disapa. Ia bukan konglomerat, bukan ahli ilmu, hanya anak seorang petani dari keluarga biasa di sebuah dusun Cina. Masa kecilnya tak jauh beda terikat adat pada masa itu, yaitu ikut membantu ayahnya di sawah. Namun sikap menantang sudah ia miliki, ia tak terima jika di hukum oleh ayahnya dan nekat meninggalkan rumah kemudian melanjutkan sekolah. Mao begitu keras menempa dirinya, tak terima dengan kekuasaan dinasty yang tak adil. Dengan segala liku, sebelum naluri serakah menguasai dirinya. Menurutku motif kemajuan Mao patut dicontoh.

Mao remaja aktif berorganisasi, pernah menjadi koki sebuah restoran, menjadi asisten perpustakaan dan terpikat oleh paham komunis karya Karl Mark. Ia pelajari dan menulis paham-paham itu, jadilah Mao seorang jurnalis, artikelnya membentuk paham masyarakat Cina yang saat itu ingin perubahan, dikenal dengan paham Mao Zedong.

Sempat memiliki sebuah penerbitan, tapi ditutup paksa oleh pemerintah saat itu. Tak getar Mao tetap ingin merealisasikan paham komunis tersebut, hingga saat ibunya meninggalpun dia tak berada di kampungnya. Karena dianggap berbakat dan memiliki paham baru yang bisa merubah nasib Cina, Mao diangkat jadi ketua China Comunist Party (CCP) disinilah awal tumpahnya darah dari ribuan nyawa warga Cina, mampu meruntuhkan kekuasaan dinasti yang telah berkuasa berabad-abad lamanya.

Secara general, kisah Mao selama hidupnya tak sempurna layaknya Rasulullah yang mampu sukses dalam politik/rakyat, agama dan keluarga. Mao bukan suami yang baik bagi para istrinya, bukan ayah yang baik bagi anaknya. Setidaknya ia pembawa perubahan bagi rakyatnya.

Yang harus digarisbawahi yaitu latar belakang dia sebagai orang biasa, suka membaca dan kemudian menuliskannya sehingga perubahan itu terwujud. Komunis bukan paham yang baik, tapi kenapa kita berpangku tangan dengan korupsi? Tidak adakah Mao Zedong versi Indonsia yang bisa membuat perubahan lewat gerak awal tuslisan sebuah paham, paham Islam?

***
Para juara peserta terbaik menyunggingkan senyum termanis, berpose di depan kamera bersama editorku dan Ustadz Fauzi. Hari ini sesi terakhir pelatihan. Dari pagi cara berjalan heboh dan ceria, hingga ada sesi sharing dengan kami, tim DDHK News. Aku baru sadar, ternyata suka bicara di depan orang.

Semoga lahir penulis yang berhati bunga, bersemangat baja, dan berotak secemerlang berlian. Aku senang bisa berinteraksi dengan banyak orang selama bulan Ramadhan.

Meski capek tapi hari terasa cepat berlalu. Kini tinggal menunggu hari-H mudik. Semoga bisa berjalan lancar semua rencanaku, begitu juga dengan teman-teman semuanya.

Salam takzim penuh hormat buat editorku, Kang Romel, minal aidzin wal faizin semuanya, Choi Kin! (Anita Sri Rahayu, reporter DDHK News/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org

One Response to “Saatnya Pulang Kampung”

  1. Nyi Toyib mudik :P
    Minal Aidzin wal Faidzin neng :) tong hilaf oleh2 na :) Ijabsah :) qiqiiqiqiiqiqiqii

    Reply