DDHK News, Hong Kong – Orang yang akan masuk surga di akhirat kelak di antaranya adalah orang yang mati syahid, haji mabrur, guru mengaji, dan orang yang dermawan atau gemar bersedekah. Malaikat memilih yang masuk pertama kali adalah orang yang dermawan. Alasannya, mengorbankan harta itu sangat berat dibandingkan mengamalkan ilmu, perang, atau mati syahid.
Demikian dikemukakan K.H. Makhruf Islamuddin (pengasuh pondok pesantren wali songo Sragen, Jawa Tengah) dalam pengajian akbar memperingati isra mi’raj Nabi Muhammadm Saw oleh Jam’iyah Dawam Ukguwan (JDU) Firdaus BMI Hong Kong , Ahad (17/6), di Room A 1/F Seaview Commercial Building MTR Sheung Wan, Exit C,Hong Kong.
Dalam pengajian bertema “Jadikan Isra Mi’raj sebagai Evaluasi Ibadah, Shalat sebagai Media Pencerahan Hati” itu, Kiai Makhruf juga mengungkapkan, bersedekah itu ibarat menanam 1 biji benih, lalu akan tumbuh 7 tangkai. Setiap tangkai akan berbuah 100. Jadi, 1 akan berlipat ganda menjadi 700.
Dikemukakannya, ciri ciri penghuni surga yaitu pemaaf, dermawan atau gemar bersedekah, lapang dada, dan punya rasa belas kasih sayang walaupun dengan orang kafir.
Sifat-sifat jelek yang jauh dari surga antara lain hasad atau iri-dengki dan bakhil atau kikir. “Gambaran, misalnya, orang menyumbang pembangunan masjid akan mendapatkan aliran pahala. Semakin banyak yang memanfaatkan, maka akan semakin banyak pahala yang dia dapat, walaupun yang menyumbang sudah meninggal dunia. Ibarat dapat pensiunan yang tidak bekerja mendapat gaji,” terangnya.
Kita harus mensyukuri nikmat yaitu dengan cara kita mensyukuri apa yang Allah berikan saat ini. Orang tidak bisa bersyukur yaitu orang yang membayangkan yang belum ada. Dengan pikiran yang tidak terima itulah orang tersebut tidak bisa bersyukur. Contoh orang yang bersyukur, alhamdullilah aku diberi hidup diberi hidayah dan baik.
Ajaran Islam 100% benar. Dengan shalat, maka kita akan damai dan nyaman, bahkan hidup akan tenteram. Alhamdullilah aku ini bukan keturunan nabi, jauh dari masjid, tetapi dapat hidayah untuk mau menjalankan shalat karena putra Nabi Nuh a.s. saja tersesat dari jalan yang lurus. “Itu pertanda bahwa hidayah itu hanya milik Allah,” tegas Kiai Makhruf.
Ia menegaskan, shalat bukan hanya sekadar dijalankan, tetapi juga harus dipahami. Saat takbirotul ikrom, mengangkat kedua tangan dengan membaca Allahu Akbar, maka kita harus sadar kita itu kecil. Shalat harus memakai bahasa Arab, tidak boleh pakai bahasa daerah. Kalau berdoa boleh memakai bahasa masing-masing.
“Ciri-ciri orang yang shalat itu tidak sombong. Lagi pula, apa sih yang disombongkan, lahir tidak membawa apa-apa, mati pun kelak tidak membawa apa pun,” terangnya. “Selanjutnya sedakap. Apa itu? Itu latian mati. Jadi kalau mati sewaktu-waktu, sudah siap!”
Kita melihat yang kita sujudi yaitu tanah, maka akan timbul kesadaran kita itu asalnya dari tanah, hidup di atas tanah, berjalan di atas tanah, makan minum juga sarinya tanah, besok juga akan kembali ke tanah, maka kita di dunia sombong nggak pantes, kita berasal dari tanah. (Rima Khumaira/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



