Organisasi Kerjasama Islam (OKI) mendesak tokoh pejuang demokrasi Myanmar, Aung San Suu Kyi, agar campur tangan untuk mengakhiri penderitaan Muslim Rohingya di negerinya.
“Sebagai peraih Nobel Perdamaian, kami yakin langkah pertama perjalanan Anda untuk memastikan perdamaian di dunia akan dimulai dari depan pintu Anda sendiri,” kata Ekmeleddin Ihsanoglu, Sekjen OKI, dalam suratnya kepada Suu Kyi seperti dikutip AFP.
Dia mengatakan, organisasi negara-negara Muslim yakin, Suu Kyi “akan memainkan peran positif dalam mengakhiri kekerasan yang melanda Arakan (Rakhine) “.
Kekerasan sektarian melanda negara bagian Rakhine bagian barat Myanmar bulan lalu, setelah pembunuhan terhadap 10 Muslim dalam sebuah bus oleh warga Budha.
Aksi kekerasan meluas dan menyebabkan puluhan orang tewas dan puluhan ribu kehilangan tempat tinggal. Warga Budha menyerang rumah-rumah warga Muslim Rohingya.
Keadaan darurat masih diberlakukan setelah pecahnya kekerasan. Presiden Myanmar, Thein Sein, memperingatkan hal itu bisa merusak negara yang selama puluhan tahun dikuasai militer.
Kaum Muslim membentuk hampir lima persen dari lebih dari 53 juta penduduk Myanmar. Kelompok terbesar Muslim Myanmar adalah etnis minoritas-Bengali, umumnya dikenal sebagai Rohingya, yang terutama tinggal di negara bagian barat Rakhine.
Rohingya Muslim telah ditolak hak kewarganegaraan sejak amandemen terhadap undang-undang kewarganegaraan tahun 1982 dan diperlakukan sebagai imigran ilegal di rumah mereka sendiri.
Pemerintah Myanmar serta mayoritas Buddha menolak untuk mengakui istilah “Rohingya ” dan lebih suka menyebut mereka sebagai “warga Bengali”.
Ketika ditanya selama kunjungan terakhirnya ke Eropa saat ia dia dijamu sebagai “pahlawan demokrasi”, apakah Muslim Rohingya adalah warga negara Myanmar, Suu Kyi mengatakan “dia tidak tahu”.
“Ketika Anda berbicara tentang Rohingya, kami tidak yakin siapa yang Anda bicarakan,” katanya. “Ada beberapa yang mengatakan orang-orang yang mengklaim sebagai Rohingya bukan orang-orang yang benar-benar asli ke Burma, tetapi baru saja datang dari Bangladesh baru-baru ini.”
Muslim Rohingya mengatakan, mereka selama ini kehilangan kebebasan bergerak, pendidikan, dan pekerjaan di tanah air mereka sendiri. Mereka tidak diakui sebagai etnis minoritas oleh rezim Myanmar.
Untuk menghindari penderitaan mereka, ribuan Muslim Rohingya lari dari Myanmar setiap tahun dengan perahu kayu. Mereka menempuh perjalanan berbahaya ke Thailand atau Malaysia untuk mencari kehidupan yang lebih baik. (Mel/Onislam.net/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



