Muslim Rohingya Myanmar (d/h Burma) mengaku kehilangan kebebasan bergerak, pendidikan, dan pekerjaan di tanah air mereka. Dikenal sebagai kaum minoritas yang paling teraniaya di dunia, mereka pun mempertaruhkan nyawa dengan melarikan diri dari penindasan di tanah air mereka untuk mengejar mimpi kehidupan yang lebih baik.
Mereka melaut dan mencari daratan (negara) yang mau menampung dan melindungi mereka. “Saya tidak bisa tinggal (di Myanmar) lagi,” kata Abdul Rahim Abdul Hasyim, 18 thn, kepada Agence France-Presse (AFP), Senin (21/5). “Kami tidak bisa sekolah. Saya (juga) tidak bisa mendapatkan pekerjaan apa pun.”
Abdul Rahim bersama lusinan Muslim lain menempuh perjalanan berbahaya dari Myanmar menuju Thailand dan pantai Malaysia. Mereka naik sebuah perahu kecil di Bangladesh. Dia menyeberangi perbatasan Bangladesh tahun lalu dan menempuh perjalanan laut yang berbahaya sepanjang 3.200 kilometer (2.000 mil) ke Malaysia.
Dicegat oleh otoritas Thailand, mereka ditahan di sebuah kamp di hutan selama beberapa minggu dan diberi makan hanya sekali sehari.
Akhirnya, Abdul Rahim dan beberapa lainnya menemukan jalan keluar untuk pergi dengan bus dan berjalan kaki ke perbatasan Malaysia. “Saya sangat takut,” kenangnya.
Muslim Rohingya diyakini sebagai keturunan pedagang Muslim Arab dan lainnya yang melakukan perjalanan dan menetap di daerah tersebut lebih dari 1.000 tahun yang lalu. Mereka tinggal di negara bagian Rakhine utara pegunungan, salah satu yang paling miskin dan terisolasi di Myanmar.
Muslim Rohingya tidak diakui sebagai warga negara Myanmar sejak amandemen undang-undang kewarganegaraan tahun 1982. Mereka diperlakukan sebagai imigran ilegal di rumah mereka sendiri.
Setiap tahun, ribuan Muslim Rohingya mengungsi dari Myanmar dengan perahu kayu, memulai perjalanan berbahaya ke Thailand atau Malaysia, untuk mencari kehidupan yang lebih baik.
Beberapa di antaranya mencari pekerjaan sebagai buruh ilegal, yang lain ditangkap, ditahan, dan “dipulangkan” ke negaranya yang kini diperintah militer.
Mereka tidak diakui sebagai etnis minoritas oleh Myanmar dan mengatakan mereka menderita pelanggaran hak asasi manusia di tangan pejabat pemerintah.
Seperti ribuan Muslim Rohingya lainnya, Abdul Rahim tidak bisa menghapus kenangan pahit di bawah otoritas Myanmar. Dia masih ingat malam ketika ia diculik dari tempat tidur untuk membantu membangun jalan, menebang pohon, dan melakukan kerja paksa lainnya di sebuah kamp militer Myanmar.
“Di Myanmar kami tidak pernah bisa tidur. Sekarang kami bisa tidur di sini,” katanya.
Chris Lewa, Direktur Proyek Arakan yang berbasis Bangkok, sebuah kelompok advokasi pemantauan Rohingya, mengatakan, kerja paksa, pembatasan perkawinan, pembatasan pergerakan, dan penangkapan sewenang-wenang terus melanda Muslim Rohingya. “Tidak akan ada masa depan bagi minoritas Muslim,” katanya. (Mel/Onislam.net/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org




Subhanallah… Semoga Allah Swt, memberikan kesabaran dan jalan dan pertolongan kepada mereka umat Muslim yg teraniaya… Aamiin yaRabbal’alamiin Allahu Akbar..