Munsyid Deni Aden: Pernah Menjadi Penyanyi Kafe

Deni AdenNama Deni Aden, penyanyi religi “Sapu Jagad” yang berjenggot tipis ini, sudah tidak asing lagi bagi BMI Hong Kong. Kehadiranya yang kedua di Hong Kong kali ini, sejak pertengahan Ramadhan lalu, atas undangan Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) untuk mengisi Panggung Ramadan 1433 H dan da’i SDSB DDHK. Ia pula yang ditugaskan DDHK untuk menjadi khotib Idul Fitri di KJRI Guangzhou, China, 19 Agustus lalu.

Sebelumnya tak terbayang di benaknya untuk menjadi seorang munsyid. Ia mengaku pelan-pelan sedang belajar mencari jati dirinya sebagai muslim dengan bernasyid.

“Saya ingin keberadaan nasyid sebagai sarana syi’ar Islam bisa sejajar dengan trend musik lainnya yang meramaikan blantika musik tanah air,” katanya.

Pria kelahiran Bandung Jawa Barat yang sekarang menetap di Yogyakarta ini, banyak mengambil inspirasi langgam dari lagu-lagu reliji yang kerap didengar sejak masih kanak-kanak saat tinggal bersama orang tuanya yang juga ustadz dan ibundanya yang suka bersenandung “qasidahan” di daerah perkebunan teh di selatan Bandung.

Masa SMP ia sempat menjadi santri di Pondok Pesantren Wanasari Panyocokan Ciwidey dan Pondok Pesantren Darul Falah Cihampelas Cililin Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Saat masa SMP tercatat sebagai siswa SMPN 1 Ciwidey Bandung dan sempat menjadi ketua OSIS tahun 1993-1994.

Tahun 1998 lulus dari STMN Kimia Bandung, pada masa ini sempat menjadi penulis, penyiar radio, penyanyi kafe, vokalis grup band, dan terakhir menjadi pemandu wisata yang mengantarkannya sampai di Yogyakarta.

Di masa-masa menjadi pemandu wisata itulah, banyak mendapat tebaran hikmah dan pengalaman spiritual yang membawanya kepada keputusan untuk mendalami musik religi.

Tahun 1999 Deni Aden hijrah ke Yogyakarta. Ia kuliah di FKIP Jurusan Bahasa Inggris Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta. Di kota pelajar inilah secara tidak sengaja bertemu dengan Gus Muhammad Basis, salah seorang ulama dan budayawan Yogyakarta yang mendukungnya untuk serius di jalur seni religi.

Di tahun itu pula mulai atas inisiatif dan support Gus Muhammad Basis, dibentuk grup nasyid beraliran akustik dengan beberapa teman kuliah dari Riau, Gorontalo, Palembang, dan Lombok. Grup yang dibentuk bernama Eling Karepe (sekarang Sapu Jagad).

“Eling karepe berasal dari bahasa Jawa, Eling artinya ingat, Karepe artinya maunya, maunya ingat, ke barat, ke timur, ke utara, ke selatan, ingat maunya kepada Allah. Begitu filosofis yang diambil oleh Gus Muhammad Basis yang memberi nama Eling karepe,” jelas Aden.

Berawal dari ‘Eling Karepe’
Di masa awal berdiri, keberadaan Eling Karepe banyak diapresiasi masyarakat Yogyakarta, walau semua personil bersal dari luar Yogyakarta. Berbagai event perlombaan musik reliji di Yogyakarta dan Jawa Tengah banyak diikuti Eling Karepe dan tak jarang menjadi pemenang dalam event tersebut.

Sejak kemunculannya, Eling Karepe, grup yang mengambil genre akustik ini, banyak mendapat apresiasi dan diundang untuk mengisi berbagai acara, tidak hanya di Yogyakarta namun juga sampai di luar Jawa seperti Madura, Jambi, Riau, dan lainnya. Bahkan, tak jarang Eling Karepe berkolaborasoi dengan seniman muslim/nasyider lainnya, seperti Raihan, Snada, Opick Tombo Ati, The Fikr, Tazakka, dan Justice Voice.

Ciri khas sebuah nasyid tak begitu mudah untuk diciptakan tanpa adanya keseriusan dan skill dari personilnya. Tak terkecuali dengan Eling Karepe. Grup nasyid kota pelajar ini berusaha untuk menghasilkan karya-karya lagu nasyid yang easy listening alias mudah dinikmati. Hal ini pun diterapkan Eling Karepe.

Eling Karepe (EK) lebih banyak membawakan lagu-lagu bernuansa shalawat yang familiar di masyarakat Jawa. Karya-karya EK banyak didominasi nuansa etnik. Ragam etnik Melayu, Jawa, Sunda, Lombok dan Padang Pasiran. Karya-karya EK pun dapat di download sebagai nada tunggu Handphone.

Aktif Membuat Lagu Religi
Bagi Deni Aden, nasyid adalah satu aliran berkreasi yang menyuguhkan karya bernuansa relijus. Di Indonesia perkembangan nasyid cukup pesat, kalau dulu hanya disuguhkan eksklusif dalam acara-acara religi tertentu, kini seiring perkembangan, nasyid sudah sangat familiar dengan masyarakat. Tak sedikit masyarakat yang merespon bagus akan keberadaan seni nasyid yang pada perkembanganya mengalami berbagai ekplorasi dengan karakter dan ciri tersendiri.

Tahun 2003 Deni Aden mengeluarkan album perdana bertitel Anak Adam. Di album inilah lagu Doamu Ibu dan Mulo Elingo sempat menjadi hits dan banyak di-request di radio-radio, tidak hanya di Yogyakarta, namun juga di luar Yogyakarta.

Beberapa lagu dalam album Eling Karepe, seperti Mulo Elingo dan Ajaran Sunan Drajat, terinspirasi dari syair klasik peninggalan Walisongo. Hal ini pun kerap diambil sebagai syair oleh musisi Islam lainnya. Lagu-lagu tersebut bahkan mencapai hits, seperti lagu Tombo Ati yang popular dibawakan dalam nuansa baru oleh Opick dan Lir-Ilir yang populer oleh Cak Nun dan Kyai Kanjeng.

Dua tahun kemudian, Deni Aden kembali mengeluarkan album kedua yang bertitel Shaum  (2005). Lagu-lagu dalam album ini antara lain Sepertiga Malam Terakhir, Pangharapan Hamba, Pengakuan Kehinaan, dan Doa Sapu Jagad.

Khusus Doa Sapu Jagad sempat dibawakan kolaborasi bersama Faris dan Jusvan ‘Justice Voice’ Serta Taqin ‘Fatih’. Tahun 2007, keluar album Kinasih (2007) yang mencetak hits Kinasih, Ajaran Sunan Drajat, Kerudian lagi, dan Syukur Nikmat.

Pada Ramadhan 1430 H/2009, terjadi pergantian personil Eling Karepe dan perubahan nama menjadi grup Sapu Jagad. Sempat rehat selama dua bulan. Di masa transisi inilah, Deni mendapat tantangan baru, yakni tawaran dari produser untuk mengeluarkan album solo bergenre pop religi.

Dalam kurun waktu dua bulan, ia berhasil diciptakan 10 lagu yang diaransemen khusus oleh arranger/musisi senior Yogyakarta, Bang Yudhi Bakiak. Semua syair diambil dari kumpulan puisi religi Oase karya Gus Muhammad Basis. Lagu-lagu dalam album ini antara lain Sapu Jagad, Hakikat Hidup, Ruh Suci, Nur Muhammad, Kekasih, Musafir, Janya Allah, Sambung Sanak, Kafirkah Aku dan Anak Cucu Adam.

Melodi di album Sapu Jagad lebih sederhana dibandingkan album sebelumnya. Untuk mendapatkan nuansa khusus dan mood dalam lagu-lagu di album Sapu Jagad, Deni sempat searching nada di Pesantren di Bandung. Di sinilah ia banyak mendapat inspirasi dari langgam-langgam yang sudah populer di masyarakat.

Pendekatan itulah yang diambil dengan harapan lagu-lagu di album Sapu Jagad bisa dengan mudah diterima berbagai lapisan masyarakat.

Harapan ke depan, semoga diberi istiqomah di jalur ini dan senatiasa mengharapkan doa dari masyarakat seperti dalam senandung Sapu jagad, yakni kebaikan di dunia dan akhirat.

Bangga terhadap BMI Hong Kong

Deni Aden mengaku sangat bangga dengan teman-teman BMI di Hong Kong. Dengan banyaknya organisasi Islam BMI dan semangat syiar dan dakwah yang sangat tinggi, ia berharap teman-teman BMI tetap bersemangat berdakwah.

“Jangan lupa dengan misi dan cita-cita kita datang ke Hong Kong dan jadilah teladan yang baik,” tutur munsyid yang selama di Hong Kong juga sering mengisi tausiyah di sejumlah organisasi BMI Hong Kong ini.  (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Serevent

Get News Updates from DDHK on Your Email
Likes (0)Dislikes(0)
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tentang DDHK

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya

Leave a Comment

Web Developed by Romeltea