DDHK News English Version
Home » Romantika BMI » Mereka Sering Panggil Saya ‘Bu Guru’
Yuliani

Yuliani.*

Nama saya Yuliani. Lahir tanggal 19 Juli 1984 di Ponorogo, Jawa Timur. Niat saya merantau menjadi BMI di Hong Kong ingin hidup lebih baik, menemukan keindahan dalam hidup yang saya jalani, dan lebih lebih bisa memberikan manfaat bagi orang lain dengan yang saya dapat dari merantau. Ingin sukses, sudahlah tentu!

Libur sehari dalam seminggu saya isi dengan belajar menjahit. Dari dulu sangat hobi bermain jarum dan benang. Saya belajar menjahit di Migrant Institute Dompet Dhuafa Hong Kong (MI DDHK) yang membuka sistem belajar dalam bidang life skill - menjahit, tata rias, komputer, dan lainnya. Saya rasa, selain mendapat ilmu, juga tambah teman dan pengalaman.

Semua yang saya jalani dari awal belajar di MI lahir dari keinginan yang ikhlas. Karena saya ingin sekali belajar menjadi orang yang ikhlas, maka saya jalani dari awal. Untuk mencapai kesuksesan itu, selain do’a, juga harus ikhlas. Selalu berusaha menjalani waktu sebaik mungkin. Itulah karunia Allah yang paling berharga.

Kebetulan waktu kelas dasar pertengahan, KJRI Hong Kong mengadakan lomba merancang busana dan menjahit. Ibu guru kami, Bu Umi, selalu men-support saya untuk ikut dalam lomba itu. Akhirnya, alhamdulillah, dapat prestasi. Dari situlah saya termotivasi lebih dalam bidang menjahit. Atas permintaan Bu Umi, saya membantu beliau mengajar.

Namanya belajar, pasti ada guru dan murid. Kini saya sering dipanggil Bu Guru.Tapi menurut saya semua di sini sama-sama belajar. Begitupun saya, tak ingn merasa jadi guru. Saya lebih suka sama-sama teman berbagi. Lagi pula, ini juga bermanfaat untuk diri saya sendiri untuk lebih mahir menjahit.

Kembali dari keinginan saya ingn berbagi dengan sesama, akhirnya terwujud. Saya pernah membaca, punya ilmu tidak diamalkan itu ibarat pohon yang kering. Tak ada manfaatnya. Nah, inilah saatnya saya berbagi.

Ada kesan tersndiri saat berbagi atau mengajar teman-teman sesama BMI HK. Awalnya, Mbak Candra yang mengajar di bidang menjahit. Begitu saya mengajar di hari Sabtu , karena libur saya beralih hari Sabtu, saya terus mencoba menggunakan waktu sebaik mungkin.

Kemudian Mbak Candra beralih mengajar tata rias karena sudah ada yang bisa membantu hari Sabtu. Selama setahun saya mengajar, alhamdulillah siswanya bertambah banyak. Saya tidak mungkn bisa melakukannya sendiri, akhrnya minta Bu Hera untuk ikut membantu. Sungguh mengajar dan berbagi itu sangat menyenangkan!

Untuk temanku, sahabtku, adikku , kakakku yang masih di sini (Hong Kong), tetaplah semangat berkarya. Jangan pernah mundur sebelum impian tercapai. Tetaplah optimistis, belajar, walau saya tidak ada lagi di samping kalian. InsyaAllah doa saya akan mengiringi di setiap lembar-lembar halaman buku yang kalian pelajari.

Manfaatkan dan amalkan ilmu yang kita miliki dengan sebaik-baiknya. Jadikan kelas bukan hanya sebagi tempat belajar, akan tetapi jadikan rumah yang damai agar kekerabatan kalian semua bisa terjalin.

Yang terakhir, biasakan untuk shalat tepat waktu. Jangan pernah meninggalkan shalat. Ingat, kunci sukses kita adalah shalat dan ikhlas. Success buat sahabat semua! Barakallah! Dalam waktu dekat ini saya akan melanjutkan perjuangan di tanah air.

Saya ucapkan terima kasih banyak untuk Bu Umi yang telah menuntun saya dari awal hingga sekarang. Beliau bukan hanya sebagi guru bagiku, tetapi juga seperti ibu yang selalu membimbing dengan penuh kasih sayang. Semoga Allah mempermudah segala urusan beliau. Semoga Allah memberi balasan yang sepadan dengann pengorbanannya selama ini.

Terima kasih juga untuk DDHK yang telah memberi kepercayaan dan kesempatan pada saya. Semoga DDHK smakin maju. DDHK is the best! (Seperti dituturkan kepada Zhianing Anami/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org