KASIATI namanya. Aku biasa memanggilnya Mbak Kasih. Ibu tiga anak ini “nekad” menjadi BMI karena alasan yang sungguh sangat ironis. Pihak keluarga suami menyalahkan dia atas kelahiran anak ketiganya yang harus cesar, bukan dia menginginkan di-cesar, namun kata dokter memang hanya itulah jalan satu-satunya supaya anak dan ibu sama-sama selamat.
Pihak keluarga suami tak henti-hentinya “ngoceh” karena hal itu memakan biaya sangat tinggi, menguras tabungannya bersama suami, juga mengutang ke sana ke mari untuk melunasi biaya rumah sakit. Kebetulan semua itu terjadi di rumah sakit swasta. Puluhan juta harus melayang jika ingin anak dan ibu segera keluar dari rumah sakit.
“Anakmu itu sudah dua, dulu-dulunya lahiran cukup di Puskesmas, ini kok kemayu, harus ke rumah sakit, di-cesar lagi. Biayanya puluhan juta, kayak orang kaya aja kamu ini. Mau kamu beri makan apa ketiga anakmu? Kini utangmu di mana-mana, gaji suamimu 10 tahun pun tak akan bisa melunasi utang-utang itu!” kenang Mbak Kasih tentang “celotehan” kakak iparnya yang meminjamkan sebagian uangnya untuk biaya rumah sakit.
Bukan cuma kakak iparnya yang menggerutu. Seluruh isi rumah pun sudah berubah menjadi “tak bersahabat” dengannya sejak kepulangannya dari rumah sakit. Mbak Kasih pun berpikir, bagaimana caranya untuk mendapat uang agar utang-utangnya segera terbayar.
Di seberang jalan, tepat di pinggir kampungnya, ada seorang gadis yang bekerja di Hong Kong dan mampu membangun rumah bak istana. Dia terus mencari info apa saja yang diperlukan untuk bisa berangkat ke Hong Kong. Ketika anaknya berumur enam bulan, dia berangkat ke penampungan. Linangan airmata rasa bersalah pada bayinya menghiasi pipi. Namun, dia teruskan langkahnya demi membayar utang-utangnya.
Ini pertama kalinya dia bekerja sebagai BMI. Dia termasuk beruntung karena walau baru pertama kali bekerja di Hong Kong dia digaji full. Tetapi tiada mawar yang tak berduri. Walau gajinya full, majikanya supercerewet. Mbak kasih tak patah arang. Ia sudah bertekad bulat untuk bekerja hanya dua tahun. Tidak boleh lebih. Itu pesan dari suaminya. Jika sampai di-terminate, maka jelas sudah, dia harus berpisah dengan anak-anak dan suaminya lebih lama, karena kontrak baru pastilah dua tahun pula.
Bekerja pada majikan yang tidak percaya Tuhan sangatlah berat rintangannya untuk mempertahankan iman. Keyakinan sebagai seorang muslim yang wajib menunaikan shalat dan mengenakan jilbab selalu berbisik dalam tiap detak jantungnya. Empat bulan bekerja di situ, majikan memergoki Mbak Kasih lagi shalat di rumahnya. Satu minggu full suara majikan tidak henti-hentinya terulang-ulang dengan nada sangat tinggi bahwa dia tidak diperbolehkan shalat di rumah itu dan tidak boleh berjilbab. Kalau sampai mengulangi hal itu, maka majikannya mengancam akan memulangkannya ke Indonesia.
Antara takut kepada Allah dan takut kepada majikan, Mbak Kasih pun tak kurang akal. Setiap hari dia kenakan baju lengan panjang dengan celana panjang pula. Di dalam tasnya selalu tersedia sepasang kaos kaki dan sehelai jilbab. Setiap tiba waktu shalat, dia bergegas keluar dari rumah majikannya, menuju tangga yang disediakan sebagai pintu darurat aparteman jika terjadi kebakaran. Di lorong-lorong tersebut selain kalau malam hari ketika pemulung sampah harus bekerja, sangat jarang ada seorang pun yang melintas.
Dimanfaatkannya tempat tersebut sebagai mushola baginya. Dengan terus berdoa memohon perlindungan dari Allah, Mbak Kasih tetap menjaga imannya. Setiap hari jika dia harus ke pasar sendirian, maka dia kenakan jilbabnya, namun jika harus bersama majikan, maka jilbab tersebut harus dia relakan bersembunyi dalam tas.
Pernah sesama BMI mencibirnya. “Mbak ini kok sehari berjilbab, sehari tidak, terus apa gunanya? Lebih baik ‘gak berjilbab daripada sehari ditutup sehari dibuka” Mbak Kasih hanya tersenyum manis. Karena baginya cukuplah Allah saja yang menilai ibadahnya. Karena dia berusaha menjadi wanita Muslimah yang sebenarnya. Namun, karena tuntutan pekerjaan, maka dia hanya bisa melakukan kewajibannya sebagai seorang Muslimah dengan cara kucing-kucingan dengan majikan dengan terus berpedoman: bukan hasil akhir yang Allah nilai, melainkan niat dan usahanya.
Kini dua tahun telah berlalu. Mbak Kasih telah kembali ke tanah air. Semua utangnya telah terlunasi. Ia berkumpul lagi dengan anak-anak dan suaminya. Syariah pun bersanding manis dengannya. Tak ada lagi yang menghalangi. (Lina Aprilianti/BMI Hong Kong).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org




