Mengapa Pacaran Beda Agama Tidak Boleh?

Published on March 2nd, 2011 by | Category: Konsultasi Islam


Mengapa pacaran beda Agama tidak Boleh? Gimana jika meraka saling mencintai? Apakah benar kalau orang pacaran berbeda agama itu adalah zina walaupun gak pernah ngapa-ngapain ? (Michael Sen)

JAWAB: Pacaran dengan sesama Muslim saja tidak boleh, jika yang dimaksud pacaran adalah sering berduaan (khalwat) atau seperti model pacaran zaman sekatang –karena bukan muhrim, apalagi pacaran dengan beda agama. Menikah beda agama merumitkan pendidikan agama sang anak kelak, juga dalam hal ibadah, dan banyak kerumitan (madorat) lainnya, seperti dalam hal perselisihan keluarga, hukum waris, cerai secara agama, dan lainnya.

Saling mencintai bukan berarti harus saling memiliki (menikah). Itulah sebabnya, dalam Islam, cinta kepada siapa pun dan kepada apa pun harus berada di bawah cinta kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Jika cinta itu “terlarang” oleh syariat, maka syariat itu ditaati karena lebih mencintai Allah ketimbang selain-Nya.

“Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya…” (QS. Al-Baqarah:221).

Jadi, wanita muslimah dilarang atau diharamkan menikah dengan non-muslim, apa pun alasannya. Jika seorang muslimah memaksakan dirinya menikah dengan laki-laki non Islam, maka akan dianggap berzina.

Lelaki Muslim boleh menikah dengan wanita Ahli Kitab (QS. Al-Maidah:5), yakni pemeluk agama Nasrani dan Yahudi yang asli –bersumberkan Injil dan Taurat asli.

Menurut Imam Syafi’i dalam kitab Al-Umm, yang dimaksud Ahlul Kitab adalah “orang-orang Yahudi dan Nasrani yang berasal dari keturunan Bani Israil asli. Umat-umat lain yang menganut agama Yahudi dan Nasrani, mereka tidak termasuk dalam kata Ahlul Kitab. Sebab, Nabi Musa a.s. dan Nabi Isa a.s. tidak diutus kecuali untuk Israil dan dakwah mereka juga bukan ditujukan bagi umat-umat setelah Bani Israil.” Wallahu a’lam.*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: , , ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



6 Responses to Mengapa Pacaran Beda Agama Tidak Boleh?

  1. shinta says:

    apa hukumnya jika laki-laki menjalin hubungan hanya sekedar pacaran dengan wanita yang berbeda agama. dengan alasan karena masih pacaran.

  2. NIFI says:

    bagaimana hukum nya kalau seorang wanita muslim menjalin hubungan dengan seorang pria non muslim tetapi dengan alasan wanita muslim ini bertahan karena pria non muslim ini berniat untuk masuk islam ( mu’alaf ). jd wanita ini berharap semata2 hanya karena Allah. mohon solusi dan kejelasannya.

    • editor says:

      Jika sebatas “menjalin hubungan” dalam pengertian silaturahmi dan menjajaki kemungkinan nikah, boleh. Namun dilarang menikah selama sang pria masih beragama non-Muslim, sebagaimana penjelasan di atas. Wallahu a’lam.

  3. pilihan yg sulit ,, cinta hancur karna agama atau bahagia karena cinta nya ,

  4. aray jaehan syah irany says:

    suatu pilihan yg sulit

  5. idar says:

    apa hukumnya seorang wanita menjalin hubugan atau aekedar pacaran saja dgn sorang peria non islam walapun hanya dengan komunikasi saja…
    dan apa kh wanita tersebut akan masuk neraka..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑