Masjid Ar-Rahma merupakan masjid yang terbesar di Kota Kiev, Ukraina. Masjid ini berdiri kokoh dan megah di antara kaum mayoritas beragama lain. Masjid ini tempat berkumpul umat muslim terutama pada hari Jumat untuk melaksanakan shalat Jumat. Pendatang, termasuk yang sedang mengikuti acara Piala Eropa 2012 dan penduduk Kiev, kesempatan berkumpul sekaligus bersilaturahmi hanya bisa dilakukan pada hari Jumat.
Di luar itu, muslim Kiev sibuk menjalani rutinas aktivitas sehari-hari karena mereka harus bekerja. Pada Ramadan, masjid itu memang selalu ramai dikunjungi umat Islam yang menjalankan ibadah tarawih. Lokasi masjid berada di perbukitan kecil di daerah Lukyanovskaya, Tatarska district. Dari pusat Kota Kiev menggunakan taksi bisa ditempuh sekitar 15 menit.
Pemeluk agama Islam di Kiev sebenarnya sudah cukup lama mendambakan sebuah masjid permanen. Keinginan itu sudah mereka idam-idamkan sejak Ukraina masih menjadi bagian dari negara Uni Soviet. Namun, banyak kendala yang dialami umat muslim saat itu. Baru ketika Ukraina memisahkan diri dari Uni Soviet dan mendeklarasikan diri menjadi negara merdeka pada tahun 1991, secara tidak langsung ikut memengaruhi keberadaan umat muslim menjadi lebih kuat. Lima tahun setelah merdeka, mulai dibangunlah Masjid Ar-Rahma tersebut.
Proses pembangunan juga tak berlangsung mulus. Harus menunggu selama empat tahun, masjid ini berdiri megah seperti sekarang. Biaya pembangunan itu hasil swadaya masyarakat muslim atau sumbangan para donatur.
Salat Jumat di Kiev dimulai pukul 14.00. Ceramah dilakukan dalam dua bahasa, Rusia dan Arab, tetapi terkadan diselingi dengan bahasa Inggris. Hal itu karena para jemaah yang datang bukan dari kalangan warga Ukraina saja, tetapi dari berbagai negara.
Di lokasi masjid ada beberapa ruangan salah satunya untuk perpustakaan, dan di bagian bawah ada kantin yang menjajakan makanan muslim dan dijamin halal. Umat muslim yang menjalankan ibadah solat Jumat di antaranya orang Indonesia yang bekerja di Kiev dan menyaksikan Piala Eropa, Azerbaijan, Kazakhstan, Turkmenistan, Turki.
Muslim yang ingin mempelajari sejarah Islam dan Al-Quran tak hanya dari kegiatan ceramah, tetapi sudah ada guru di sana yang siap membimbingnya. Dengan begitu, kegiatan di masjid itu selalu hidup, bukan sekedar tempat untuk ibadah salat saja. Eko Rahmawanto, warga Indonesia yang sedang menyaksikan Piala Eropa mengatakan, masjid ini bersih, aman, dan nyaman.
“Menariknya, pada Jumatan ini, mereka bersama keluarga ikut hadir ke masjid. Ketika suami dan anaknya mendengarkan ceramah dan salat, ibu-ibunya berada di barisan paling belakang ikut mendengarkan ceramah dan salat duhur. Selesai salat antarmereka saling berkomunikasi. Jadi silaturahimnya kuat sekali,” ujar Eko.
Salah satu yang membuat Eko berkesan adalah suasana di dalam masjid yang terasa sejuk sehingga orang yang menjalankan ibadah merasa nyaman. “Membuat orang betah tinggal di dalam,” katanya.
Di Kiev, Masjid Ar-Rahma bukan yang satu-satunya. Masih ada masjid lain, tetapi lokasinya agak di pinggiran kota. Namun, Ar-Rahma ini merupakan masjid terbesar. Sopir taksi di Kiev mayoritas sudah tahu jika para turis muslim ingin datang ke lokasi tersebut, sehingga tak begitu sulit datang ke sana.
Dari berbagai literatur, Masjid Ar-Rahma dibangun di Kawasan Tatarka di bukit Shchekavitsya, lokasi merupakan kawasan komunitas muslim Tatar di kota Kiev. Di empat kota penyelenggara Piala Eropa 2012 di Ukraina, sudah ada masjid-masjid besar.
Di Donetsk ada Masjid Jami Ahat. Sejarah masjid ini bermula di tahun 1993 ketika muslim kota Donetsk membentuk sebuah yayasan bernama Star of the Prophet (bintang Nabi) dan setahun kemudian yayasan tersebut meretas jalan bagi pendirian masjid pertama di kawasan itu dengan nama Masjid Ibnu Fadlan.
Di Kota Kharkiv ada Masjid Katedral Kharkiv atau Masjid Khavidrali (bahasa Ukraina). Masjid Katedral Kharkiv sudah berdiri sejak tahun 1905, namun kemudian dihancurkan tahun 1936 semasa kekuasaan Uni Soviet. Barulah pada tahun 2006 bangunan masjid tersebut dibangun kembali di lokasi yang sama.
Satu lagi di Kota Lviv belum ada masjid. Namun, para mahasiswa dari Timur Tengah yang menuntut ilmu di kampus Liviv National Medical University, berinisiatif menjalankan aktifitas keislaman di sebuah ruangan aula di sana. (Pikiran Rakyat/PRLM).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



