Dua kelompok utama pemberontak Mali bergabung dan bertekad mendirikan negara Islam independen di wilayah utara. Kelompok National Movement for the Liberation of Azawad (MNLA) Tuareg dan Ansar Dine kini menguasai wilayah utara Mali, negara di Afrika Barat.
“Gerakan Ansar Dine dan Gerakan Nasional untuk Pembebasan Azawad (MNLA) telah menyatakan negara merdeka, Azawad (Mali Utara),” kata Kolonel MNLA, Abdou Haidara. “Kedua gerakan telah menciptakan dewan transisi negara Islam Azawad.”
“Kami sama-sama menginginkan kemerdekaan Azawad. Dan kami semua menerima Islam sebagai agama resmi.”
Kesepakatan antara kelompok Tuareg yang sekuler dan pemberontak Islam terjadi beberapa pekan setelah diskusi panjang antara dua kelompok yang sejak lama berbeda pandangan, tujuan dan ideologi itu. Kesepakatan ini juga menjadi titik balik bagi Mali Utara yang terlepas dari kontrol pemerintah pusat sejak kudeta Maret lalu.
Tembakan terdengar di dua kota utama di wilayah ini – Gao dan Timbuktu – saat para pemberontak merayakan keputusan mereka untuk membentuk badan pengawas Azawad. Beberapa minggu lalu, pemberontak menyatakan kemerdekaan bagi wilayah tersebut.
“Sudah waktunya kemerdekaan Azawad,” kata Moussa Ag Assarid, juru bicara MNLA. “Tapi tidak semua orang merayakan berita hari Minggu”.
Pemerintah di ibukota, Bamako, segera menolak negara baru itu. Pemerintah mengatakan, gerakan separatis dan Islam itu tidak memiliki dukungan rakyat.
Di kota-kota yang dikuasai MNLA dan Ansar Dien, minuman keras, merokok, mendengarkan musik, menonton sepak bola di TV, dan bermain video game telah dilarang. Pelarangan itu menjadi persiapan untuk pembentukan negara Islam.
“Kami semua mendukung kemerdekaan Azawad. Kami menerima Islam sebagai agama, tetapi pandangan agama lainnya akan diterima,” kata Haidira dari MNLA.
“Di Azawad 99% adalah Muslim. Oleh karena itu, agama resmi adalah Islam,” kata Assarid.
CIA World Factbook mengatakan, penduduk Mali 90% beragama Islam dan 1% Kristen, sekitar 9% berkepercayaan penduduk asli.
“Allah telah berjaya, ” kata juru bicara Ansar Dine, Sanda Ould Bouamama di kota bersejarah Timbuktu. “Kami sama-sama menginginkan kemerdekaan Azawad. Dan kami semua menerima Islam sebagai agama resmi.”
anuari lalu, pemberontak Tuareg melancarkan serangan terhadap pasukan Mali, yang sedang kerepotan menghadapi serangan Ansar Dine, kelompok yang menginginkan Mali menganut hukum Syariah Islam.
Keadaan semakain kacau setelah Kapten Amadou Sanogo dan sekelompok perwira menengah melakukan kudeta pada 22 Maret lalu karena menganggap pemerintah Mali tak mampu mengatasi pemberontakan Tuareg.
Pemimpin sementara Mali menegaskan untuk memulihkan integritas teritorial Mali, namun nampaknya tak cukup mampu untuk memaksakan keinginannya di wilayah utara. (Mel/BBC/Wcti12.com/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org


