Kupendam Rindu kepada Ibu

andra cornerOleh Andra Corner

Ibu adalah sosok wanita yang telah mengandung, merawat, mendidik, dan membesarkan kita. Bahkan, surga berada di bawah telapak kaki ibu. Karena kemuliaannya itulah, Rasulullah Saw menyebutnya tiga kali, “ibu, ibu, ibu, lalu bapak”.

Sudah 17 tahun ibuku pergi menghadap Sang Khalik.  Ia meninggalkanku dan kedua adik perempuanku yang masih kecil.

Aku adalah anak sulung yang waktu itu berumur 10 tahun. Adikku yang besar berumur tujuh tahun dan yang bungsu lima tahun.

Aku ingat, empat hari sebelum ibu wafat, ia sakit keras. Aku kurang begitu paham ibuku sakit apa. Seingatku, ibu punya penyakit darah tinggi dan asma.

Di dalam kamar ibu, tepatnya tengah malam, di situ ada ibu, bapak, kakek, nenek, dan para tetangga yang menjenguk ibu. Aku dan kedua adikku tidur sekamar di kamar sebelah.

Sayup-sayup aku mendengar suara ibu kepada bapak, “Pak, sini. Tolong peluk aku”. Bapak pun menuruti kemauan Ibu. “Aku akan pergi jauh sekali. Tolong bapak menikah lagi agar ada yang mendampingi bapak merawat anak-anak kita”. Pesan ibu kepada bapak.

“Bu, jangan bilang begitu. Kita akan merawat anak-anak kita bersama,”  jawab bapak dengan suara parau.

Mendengar perkataan ibu seperti itu, aku menangis. Dadaku sesak, seakan aku sudah merasakan firasat bahwa ibu akan dipanggil Allah.

Aku menahan suara tangisku agar orang-orang mengira bahwa aku telah tidur. Padahal aku sedikit pun tidak bisa memejamkan mata.

Keesokan harinya, ibu dibawa ke rumah sakit. Dokter menyarankan untuk opname. Di sebuah ruangan kelas ekonomi, ibu diopname. Bapak dibantu bibi (adik ibu) menemani ibu secara bergantian.

Selama ibu dirawat di rumah sakit, aku dan kedua adikku tidur di rumah nenek, yang rumahnya bersebelahan dengan rumahku.

Empat hari berikutnya, menjelang subuh, kira-kira pukul 3.00 WIB, sayup-sayup aku mendengar suara ketukan pintu. Setelah pintu dibuka, ternyata adik laki-laki kakek yang datang. Aku heran, pukul 3.00 malam kok ada tamu.

Sebelum menjelaskan maksud kedatangannya, ia menyarankan agar kami tabah dalam menghadapi musibah. Ternyata, ia datang ke rumah nenek membawa kabar bahwa ibu telah tiada. Serentak kami mengucapkan, “Innalillaahi wa inna ilaihi raji’uun”.

Aku, adikku yang besar, kakek, nenek, dan bibi yang kebetulan tidur di rumah nenek, langsung menangis. Nenek pingsan berkali-kali. Hanya adik bungsuku yang tidak menangis karena masih kecil, belum begitu mengerti.

Bapak belum pulang dari rumah sakit. Aku tidak tahu bagaimana keadaan bapak ketika pertama kali tahu bahwa ibu telah tiada.

Waktu jenazah ibu sudah dibawa ke rumah untuk dishalatkan, aku melihat bapak pingsan berkali-kali. Mungkin bapak masih merasa berat ketika orang yang disayangi meninggalkannya dan anak-anak yang masih kecil-kecil.

Sepeninggal ibu, aku dan kedua adikku diasuh oleh kakek dan nenek. Kadang, malamnya bapak juga tidur di rumah nenek untuk menemani kami bertiga. Siang bapak bekerja serabutan.

Pada suatu malam, ketika bapak menemani kami tidur, adik bungsuku bertanya, “Pak, ibu sudah lama di rumah sakit kok tidak pulang-pulang, kapan pulangnya? Aku kangen ibu”.

Kami semua tidak tega memberitahu adik kecilku bahwa ibu telah tiada.

Saking bingung mau menjawab, bapak terpaksa berbohong, “Sabar, Ndhuk ! Kalau sudah sembuh, ibu akan pulang”.

Air mata bapak mengalir deras. Aku pun ikut menangis. Lagi-lagi tangisanku aku sembunyikan, supaya bapak tidak tahu. Aku takut menambah beban pikiran bapak.

Hari-hari kulalui dengan menyimpan kerinduan yang luar biasa pada ibu. Rindu akan kasih sayangnya serta rindu belaiannya. Dunia pun tidak akan bisa menggantikan kasih sayang seorang ibu.

Semua takkan bisa kembali seperti dulu. Aku harus bisa berusaha untuk mengikhlaskan kepergian ibu. Aku tidak boleh cengeng dan aku harus mandiri.

Sejak kecil aku dilatih bapak untuk hidup mandiri. Aku membantu nenek memasak, mencuci baju sendiri, bersih-bersih rumah, bahkan mencari rumput untuk makanan kambing.

Ketika aku kelas 6 SD, adik yang besar kelas 3, dan yang bungsu kelas 1, aku diasuk bibi (adik bapak), sedangkan kedua adikku masih tetap diasuh nenek.

Walaupun pisah asuh, kami masih sering bertemu karena kami satu sekolah.

Adik bungsuku memang cengeng. Kalau mengangis sulit disuruh diam.

Ketika jam istirahat sekolah, ia menangis. Sebagai kakaknya, aku berusaha membujuk agar tangisnya mereda. Aku menggendongnya sambil sempoyongan karena badanku kecil banget, sedangkan badan adikku agak gemuk.

Semua mata tertuju pada kami. Kulihat para guru menitikkan air mata sambil bercakap satu sama yang lain. Entah apa yang mereka bicarakan. Aku tidak mendengarnya.

Tiga tahun kemudian setelah wafatnya ibu, yaitu tahun 1998, bapak menikah lagi dengan wanita asal Surabaya yang dikenalkan oleh tetanggaku.

Sebelum menikah dengan bapak, ibu tiriku adalah seorang janda yang ditinggal wafat suami pertamanya tanpa dikaruniai anak.

Alhamdulillah, ibu tiriku wanita yang baik. Ia merawat kami dengan kasih sayang yang ikhlas.

Kami tinggal di rumah yang dulu aku tempati bersama ibu kandungku.

Di usia yang ke-11 pernikahan bapak yang kedua, Allah berkehendak lain. Ibu tiriku dipanggil menghadap Allah. Ia meninggal karena penyakit jantung kronis.

Ketika itu, aku sedang di perantauan, yaitu kerja di negeri beton ini sebagai BMI. Aku tidak bisa pulang.

Lewat seluler, aku menghibur bapak, menguatkan hatinya agar bersabar dalam menghadapi cobaan. Mungkin di balik semua cobaan Allah sedang mempersiapkan kebahagiaan.

Kini, aku dan kedua adikku, alhamdulillah sudah menemukan pendamping masing-masing yang sayang terhadap istri.

Semoga Allah menempatkan ibu di tempat yang mulia, mengampuni dosa-dosanya, dan semoga ibu damai dalam kasih sayang-Nya. Amin. (Andra  Corner, BMI Hong Kong/ddhongkong.org).*

Get News Updates from DDHK on Your Email
Likes (0)Dislikes(0)
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tentang DDHK

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya

Leave a Comment

Web Developed by Romeltea