Khotbah Idul Adha: Hikmah Haji dan Kurban

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Setiap tahun, pada bulan Dzulhijjah, jutaan kaum Muslim sedunia dari berbagai suku, bangsa, ras, dan budaya, tumpah-ruah di Mekah Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji.

Dengan pakaian yang sama, putih, mereka menyeru Tuhan yang sama, yakni Allah SWT. Mereka hadir di sana, seakan-akan menghadiri “Konferensi Islam terbesar se-Dunia”, dengan agenda utama napak tilas perjalanan dakwah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Muhammad Saw.

Seorang mantan diplomat Inggris, Godfrey H. Jansen, dalam bukunya Militant Islam, menyatakan, perjalanan haji merupakan salah satu vitalitas, daya hidup Islam yang besar, karena haji bukan saja merupakan tanda kehidupan Islam, tapi juga menjadi sumber kekuatan dan persatuan umat Islam sedunia.

Perjalanan haji merupakan suatu pengumpulan umat manusia multinasional terbesar di dunia dewasa ini. Mereka bagaikan kupu-kupu yang keluar dari kepompongnya. Berbagai warna dan ragam kostum nasional, keluar lagi dan persatuan menyembah Allah Yang Esa, memecah menjadi “Kaleidoskop Internasional”.

Suasana haji adalah gabungan kehangatan agamawi dan kegembiraan persahabatan. Setiap orang adalah saudara satu sama lain. Sebab, semuanya sadar, bahwa mereka dekat dengan Allah dan sama-sama menyeru, “Labbaikalloohumma labbaik, labbaika laa syariika laka labbaika…!”. Aku penuhi panggilan-Mu, Ya Allah, tiada sekutu bagi-Mu…!.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Rasa persamaan, persatuan, dan persaudaraan antar umat Islam sedunia, demikian pula sinar Islam, menyala setiap tahun di Mekah. Dapat dikatakan, ibadah haji merupakan simbol Ummatan Waahidatan, kesatuan umat Islam, bahkan umat manusia seluruhnya.

Peristiwa ritual ibadah haji tentunya menyadarkan kita, bahwa pada hakikatnya umat manusia adalah satu keluarga. ”Dan sesungguhnya umatmu ini adalah umat yang satu dan Akulah Tuhanmu, maka bertakwalah…” (Q.S. Al-Mu’minun:52).

Seorang tokoh Muslim Amerika, Malcolm X, berubah total pandangannya tentang Islam setelah ia menunaikan ibadah haji.

Di Makkah ia bertemu dengan orang-orang dari berbagai warna kulit dan ras. Ia merasakan, betapa kuat rasa persaudaraan sesama Muslim, tanpa melihat suku bangsa dengan ragam budayanya.

Sebelumnya, ia sangat benci terhadap orang-orang kulit putih. Di Makkah, ia menyaksikan bagaimana Islam mencabut rasa benci itu, dan menggantinya dengan persaudaraan.

Sekembalinya dari Makkah, Malcolm X lalu mengajarkan persaudaraan, persamaan, dan memaklumatkan bahwa seluruh umat manusia harus dihormati sebagaimana adanya tanpa memandang warna kulitnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Ibadah haji sangat kuat mengajarkan nilai ukhuwah Islamiyah, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Quran, “Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara. (QS: Al-Hujurat: 10).”

Tegaknya ukhuwah, akan menuju terwujudnya tauhidul ummah atau kesatuan umat Islam. Komitmen ukhuwah mengajarkan pada kita, umat Islam secara keseluruhan adalah satu kekuatan dan persaudaraan yang harus saling membela sesama mereka.

“Perumpamaan seorang mukmin dengan mukmin lainnya dalam kelembutan dan kasih sayang, bagaikan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang merasa sakit, maka seluruh bagian tubuh lainnya turut merasakannya.” (HR. Muslim).

“Mukmin satu sama lainnya bagaikan bangunan yang sebagiannya mengokohkan bagian lainnya.” (HR. Bukhari).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Tantangan atau tuntutan pengamalan konsep ukhuwah tersebut, menguat akhir-akhir ini. Serentetan bencana alam di negara kita belakangan ini, merupakan tantangan sekaligus peluang pengamalan ukhuwah Islamiyah.

Komitmen terhadap konsep ukhuwah, akan membuat kita turut merasakan penderitaan oleh saudara-saudara seiman kita di mana saja, yang menjadi korban bencana, juga korban kezhaliman.

Kita juga harus tetap peduli atas perkembangan nasib saudara seiman kita di mancanegara ataupun di sekeliling kita. Kita bisa membantu sesama, dengan doa dan infak rezeki yang dititipkan Allah SWT kepada kita.

Pengamalan ukhuwah itulah yang membuat sebuah bencana menjadi kebaikan, yakni jika disikapi dengan sabar, dan yang tidak terkena musibah, menjadikannya sebagai ladang amal saleh, dengan cara memberi bantuan.

“Siapa yang memudahkan orang yang  lain dari suatu bencana, maka Allah akan memudahkan kesusahannya nanti pada hari kiamat; dan siapa yang menutup aib  saudaranya di dunia, maka Allah akan menutup aibnya di hari kiamat; dan siapa yang membukakan kesempitan orang yang  lain, maka Allah akan melapangkan kesempitannya di hari kiamat “ (HR. Thabrani ).

Allahu Akbar, Allahu Akbar, wa Lillahilhamd!
Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah!

Selain ibadah haji yang sarat muatan nilai dan hikmah tersebut, pada hari ini pun, yang disebut Hari Idul Adha, kita menyaksikan penyembelihan hewan kurban.

Ibadah kurban merupakan perwujudan rasa syukur kepada Allah SWT, sekaligus upaya mendekatkan diri atau taqarrub kepada-Nya.

Melalui syariat kurban, Islam menanamkan atau mengajarkan umatnya, agar berjiwa rela berkorban apa saja demi tegaknya syi’ar Islam dan demi berbakti kepada Allah SWT. Ibrahim a.s. bahkan rela mengorbankan anak yang dicintainya, demi baktinya kepada Allah SWT.

Pengorbanan itu mengajarkan kepada kita, segala apa yang kita miliki –jiwa, raga, harta, anak, tahta, ilmu, keahlian, dan sebagainya– adalah milik Allah SWT yang dititipkan kepada kita sebagai amanah. Maka, ketika Allah SWT memerintahkan kita untuk mengorbankan apa yang kita miliki itu, tidak ada alasan untuk menolaknya.

Dengan demikian, jiwa, harta, dan segala yang kita miliki bukanlah tujuan, melainkan sebagai alat untuk berjuang dan mengabdi kepada Allah SWT. Maka, mari kita korbankan segala yang kita miliki, harta, tenaga, ilmu, apa pun, demi tegaknya syiar Islam di muka bumi.

Semoga kita senantiasa tergerak untuk mengamalkan ukhuwah Islamiyah. Semoga pula kita tergerak untuk rela berkorban apa saja yang kita miliki, demi mencapai keridhoan Allah dan tegaknya syi’ar Islam. Amin! (ASM. Romli).

Get News Updates from DDHK on Your Email
Likes (0)Dislikes(0)
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tentang DDHK

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya

Leave a Comment

Web Developed by Romeltea