Khotbah Idul Adha 1433 H: Mental Sang Juara

Published on October 25th, 2012 by | Category: Opini dan Kajian


sukeriabdillahOleh  Ust. Sukeri Abdillah

ALLAHU AKBAR , ALLAHU AKBAR, ALLAHU AKBAR WALILLAHILHAMDU
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah…
Mau jadi juara dalam kehidupan? Belajarlah dari keluarga Nabiullah Ibrahim AS. Jika hidup diibaratkan sebuah perlombaan, maka beliau adalah pemain yang selalu memenangkan pertandingan. Bukan hanya menang dalam interaksi sosial, tetapi juga dalam menghadapi beratnya tekanan kehidupan.

Pendek kata, beliau selalu berada pada posisi kelas atas. Artinya persoalan apapun selalu mampu beliau atasi. Tak heran jika Allah, melalui Rasulullah Muhammad SAW memasukkan beliau dalam kelompok ulul ‘azmi (orang yang mampu memikul beban berat kehidupan).

Uniknya, meski hidup selalu didera persoalan pelik dalam intaraksi sosial, tetapi beliau mampu mebangun pertahanan ekonomi kelurga dengan baik. Sehingga rumah tangganya makmur dan sejahtera.

Sebut saja misalnya saat menda’wahkan kalimat Tauhid. Beliau diajak beradu argument oleh raja dihadapan halayak ramai. Temanya sangat sensitive. Yakni tentang kekuasaan Allah versus kekuasaan raja – yang mengaku dirinya adalah Tuhan. Dihadirkan dihadapan public dua orang budak. Yang satu gemuk dan yang satu kurus. Yang gemuk disembelih dan yang kurus dibebaskan. Dan raja mengklaim kalau dirinya bisa mematikan dan menghidupkan. Hal ini dilakukan raja sebagai tantangan kepada Ibrahim yang mengklaim, bahwasannya Allah Tuhan Yang Mampu menghidupkan dan mematikan.

Nabi Ibrahim menjelaskan kalau Allah mampu menerbitkan matahari dari timur dan menterbenamkan dibarat. Beliau meminta agar raja melakukan dengan cara sebalinya. Tentu saja raja tidak mampu. Sehingga dialog hari itu dimenangkan Nabi Ibrahim.

Beliau juga dibakar hidup-hidup dengan tuduhan telah melakukan perusakan t erhadap patung-patung sesembahan. Tapi dengan ijin Allah, api tidak melukai dirinya, termasuk pakaian yang dikenakannya.

Di sisi lain kehidupannya, beliau mampu menjamu tamunya dengan anak sapi guling tatkala disepertiga paruh awal malam, beliau kedatangan dua orang tamu. Ini menunjukkan bahwa secara ekonomi beliau adalah aghniya alias termasuk kelas atas.

Elegi dalam Rumah Tangga
Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu
Sekian lama berumah tangga, sang istri-Sarah-mandul. Hanya saja dengan itikad baik, Sarah menyarankan Nabi Ibrahim menikahi budak mereka, Hajar.

Belum lama Hajar melahirkan Ismail, Sarah mulai cemburu dan meminta tidak menyaksikan romantisme mereka bertiga didepan matanya. Untuk itu beliau mengasingkan anak istrinya kegurun tandus nan kerontang, yang kelak disebut baqi, artinya lembah air mata.

Lama meninggalkan mereka berdua, sekalinya berjumpa, kala itu Ismail menginjak remaja Allah memintanya untuk menyembelih. Perintah itu juga dilakukan. Perjalanan dari baqi ke Mina, mendapat hambatan berat dari Iblis yang terus bermaksud menggagalkan penyembelihan. Tapi team work ini berhasil melalui semuanya dengan aman. Dan Allah mengganti Ismail dengan dengan domba sembelihan.

Mental Juara
Jika diperhatikan dengan seksama, kenapa Nabi Ibrahim dan keluarganya berhasil diabadikan dalam sejarah akan kisah hidupnya. Bahkan perbuatannya dijadikan syari’at dalam agama Islam. Itu karena beliau dan keluarganya adalah orang-orang yang memiliki mental juara. Selalu terdeapan dan berada diposisi atas. Mampu mengatasi masalah bukan dibawah (baca ditekan) masalah.

Artinya, dalam hidup masalah itu pasti adanya. Tapi sang juara mampu mengatasinya. Sehingga yang mereka tonjolkan selalu prestasi terbaik dalam kehidupan.

Beberapa mental juara yang mereka miliki adalah :
1. Selalu optimis tidak pesimis
Sang juara selalu melihat peluang sedang sang pecundang selalu melihat kehampaan. Gurun yang didatangi Nabi Ibrahim untuk menempatkan Hajar dan orok merahnya-Isma’il. Adalah gurun tandus tanpa kehidupan, tanpa apapun yang menjanjikan. Tapi Ibrahim optimis. Kelak tempat ini makmur dengan buah-buahan. Terbukti beliau berdo’a kepada Allah untuk hal ini. “Ya Allah jadikan negeri ini aman untuk tempat tinggal dan makmurkan penghuninya dengan buah-buahan”.

Hajar juga melakukan hal yang sama tatakala air susunya mengering, perbekalan habis. Beliau berlari kesana kemari mendaki bukit-yang kemudian disebut shafa dan Marwa. Jelas-jelas diatas bukit itu tidak ada apa-apa kecuali hamparan fatamorgana dan hembusan angin kering gurun sahara.

Berbekal mental optimis, beliau tetap bergerak. Sehingga optimismenya berbuah. Sebuah air memancar dari kaki oroknya, Ismail. Kelak air itu disebut zamzam artinya kumpul. Air yang berkumpul, mengikuti seruan Hajar yang waktu itu berkata dalam bahasa Ibrani: ”zamzam!”

2. Yakin, tidak ragu
Sang juara, yakin bahwasannya Allah Yang Maha Kaya, selalu memberikan penghidupan kepada hambaNya. Dia takkan membiarkan hambaNya betul-betul berkekurangan. Yakin bahwa potensi yang diberikan Allah kepada dirinya adalah potensi besar dan kuat. Yakin bahwa karunia Allah terhampar dimuka bumi. Sehingga ia bergerak diatas jalan keyakinan, menuju arah yang hendak dicapai tanpa ada keraguan sedikit pun.

Langkah ini pernah diempuh sahabat Abdul Rahman bin ‘Auf. Berhijrah dari Mekah ke Madinah tidak membawa sekeping hartapun kecuali pakaian yang melekat dibadan. Padahal beliau adalah konglomerat Mekah. Berkat keyakinannya, Allah selalu memberi ilham berupa ide-ide brilian. Bukan hanya menolak kebaikan Sa’ad bin Rabi’ai tatkala ditawari istri dan perusahaan.

Tetapi beliau justru berani menyewa tanah seorang muslim dengan bayar belakang. Tanah itu dikavling dan disewakan kepada para pedagang muslim, yang juga dipersilahkan bayar belakangan. Asal barang yang masuk kekavling tersebut kwalitasnya mampu menyamai barang pasar sebrang yang dikelola Yahudi. Sehingga dalam waktu tiga bulan hidup diperantauan, Abdul Rahman bin ‘Auf mampu mengawini seorang wanita dengan mahar yang memadai.

3. Berani bayar mahal dan tidak banyak menawar
Sang juara, tak pernah risau dengan harga yang dituntut untuk sebuah keberhasilan. Berapaun harganya ia akan bayar. Ia hanya melihat hasil besar yang akan diraih jika dibandingkan dengan pengorbanan yang ia lakukan. Ini membuat dirinya tak pernah menawar bertele-tele.

Simaklah dialog heroik yang dilakukan Ibrahim dan Isma’il:”Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam tidurku (mimpi) menyembelih kamu. Maka pikirkan bagaimana pandanganmu (tentang mimpi ini).” “Wahai ayah, lakukanlah apa yang telah diperitnahkan (Allah) kepadamu. Semoga, engkau akan dapatkan aku sebagai bagian dari orang yang sabar”.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar walillahilhamdu…
Sungguh dialog spektakuler para juara. Isinya saling menguatkan dan tidak melemahkan. Meski mereka sadar, harga yang harus mereka pertaruhkan adalah nyawa. Tapi dengan tenang dan bersahaja mereka melenggang menjalaninya.

Hasilnya, begitu luar biasa….
Jadilah juara, menangkan kehidupan dunia, sebelum memasuki gerbang surge
Allahu Akbar !!!

Maraji’ : Insan Teladan Sepanjang Zaman, Harun Yahya, Syamil, Alqur’anul Karim, dari berbagai sumber

 

 

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: , ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑