Ketika Nenek Dirawat di Rumah Sakit

lutfiana wakhid2Oleh Lutfiana Wakhid

Alarm handphoneku mulai mengusik tidurku. Kuraihnya dan kumatikan. Tiga menit kemudian berbunyi lagi. Itu pertanda pukul 04.20. Aku harus bangun dan bangkit untuk mengambil air wudhu, tapi mata ini sungguh sulit untuk dibuka dan masih ingin menikmati tidur beberapa menit lagi, sepertinya aku baru tidur alarm kok sudah bunyi, udara yang sangat dingin memeluk tubuhku yang ramping. Lima belas menit menit kemudian aku mulai bangun dan membuka mata. Sebelum menuju kamar mandi untuk berwudhu, aku lihat mamaku yang terbaring di ranjang.

Keadaan mamaku (panggilan nenek yang aku rawat) yang kurang sehat membuatku sering begadang malam alias siaga tiap malam untuk menjaganya.Walaupun sudah ada suster dan perawat di rumah sakit, akan tetapi mamaku tidak mau jauh dariku.

Selama mamaku di rawat di Hong Kong Baptist Hospital –rumah sakit ternama di Hong Kong– aku ikut serta tidur di rumah sakit. Di kamar inap VIP telah disediakan sofa, TV, kulkas, dan 1 kamar mandi. Biarpun aku harus tidur di ruang pasien, aku masih bisa melaksanakan kewajibanku kepada Sang Kholiq.

Setiap hari anaknya, sepulang dari kantor, mengunjungi mama dan aku di rumah sakit. Suasana dan obrolan hangat kekeluargaan memecahkan kesunyian ruangan yang dihuni oleh mama dan aku. Tetapi ketika jam 9 malam, anak-anaknya pulang, tinggal aku dan mama yang di rumah sakit. Malam terasa sepi dan sunyi hanya terdengan suara alat yang menempel di jari-jari mama.

Mataku mulai ngantuk. Ingin rasanya segera merebahkan tubuh di sofa, tapi aku masih menunggu dokter dan suster yang akan memberikan sebotol kecil cairan putih telur yang dimasukkan dalam saluran infus. Aku baru bisa sholat Isya’ ketika cairan botol kecil itu sudah habis karena kalau belum habis beberapa suster masih keluar masuk kamar untuk memeriksa keadaan mamaku.

Jam 11 malam aku mulai menggelar selembar selimut di lantai sebagai alas untuk sholat.  Dua lembar selimut untuk menutup tubuhku jika tidur. Usai sholat aku ingin segera tidur sambil mendengarkan bacaan ayat suci Quran di HP-ku, tetapi mata ini sungguh sulit dipejamkan.

Kutatap lekat lekat wajah keriput yang terbaring di depanku dengan hidung dan tangan yang terdapat selang infus dan obat. Aku teringat betul ketika meliput pengajian BMI HK untuk di muat di DDHK News (website resmi milik Dompet Dhuafa Hong Kong). Seorang ustadz menyampaikan sebuah hadist Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang diriwayatkan oleh Abdullah Ibnu Abbas Radhiallahu anhu, bahwa Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bahwa malaikat maut memperhatikan wajah setiap manusia di muka bumi ini 70 kali dalam sehari”.

Ketika Izrail datang memperlihatkan wajah manusia di dapati ada yang sedang tertawa-tawa..

Maka berkatalah Izrail: “Alangkah herannya aku melihat orang ini, sedangkan aku diutus oleh Allah Ta’ala untuk mencabut nyawanya, tetapi dia masih bersenang-senang bergelak tawa”.

Manusia tidak akan sadar bahwa dirinya selalu diperhatikan oleh malaikat maut, kecuali orang-orang shalih yang senantiasa ingat kematian.

Golongan ini tidak lalai dan selalu sadar terhadap kehadiran malaikat maut, karena mereka selalu memperhatikan hadist-hadist Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang jelas menjelaskan mengenai perkara-perkara ghaib, terutama perihal kematian dan hubungannya dengan malaikat maut.

Malaikat pencabut nyawa akan menjenguk kita atau mencabut nyawa kita apabila Allah Ta’ala sudah memerintahkannya.

Badanku terasa dingin, menggigil. Dua selimut yang membalut tubuhku tak mampu menghangatkan tubuhku. Aku merasakan sangat sangat ketakutan dan dari bibirku kubaca istighfar dan ayat kursi, tanpa kusadari air mata membasahi pipiku.

Ya Allah betapa kecilnya aku, betapa hina dan kotornya aku apalah arti harta dan materi di dunia ini ketika sudah mendekati ajal. Ya Allah jika malam ini Malaikat Izrail datang ke kamar ini, sampaikan kepadanya bahwa masih belum waktunya untuk mencabut nyawa kami. Ya Allah izinkan aku membahagiaakan kedua orang tuaku, izinkan aku memanjakan Ibu dan Bapakku seperti beliau memanjakan aku waktu masih kecil. Ya Allah izinkan aku bersama orang tuaku untuk datang ke bait-Mu sebelum ajal menjemput.Ya Allah berikanlah hidayah pada mamaku untuk masuk Islam sebelum ajal menjemput.

Tangisku semakin menjadi-jadi. Terbayang wajah kedua orang tuaku yang sudah mulai keriput dan rambutnya sudah mulai beruban. Dalam hatiku aku menjerit histeris:

”Wahai Ibu dan Ayah, dengarkan jeritan hatiku ini, sungguh aku tidak ingin jauh darimu, tidak ingin jauh dari doa yang selalu keluar dari bibirmu, aku ingin merawat di masa tuamu, wahai ibu dan ayah aku pergi jauh darimu bukan tidak sayang, tapi justru sebaliknya. Wahai Ibu dan Ayah aku akan kembali ke pelukanmu seperti dulu dengan membawa cita. Dengan ridho dan do’amu untukku.”

Teringat kembali tausiyah yang pernah di sampaikan seorang Ustadz SDSB (Satu Da’i Seribu Berkah) –program reguler DDHK. Ustadz membahas firman Allah tentang berbaktilah kepada orang tua (birrul walidain) dan hadits Nabi:

“Sembahlah Allah dan jangan kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua Ibu Bapak”. (An Nisa’ : 36).

“Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya”. (QS. Al Isra’: 23).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang Ibu Bapanya, Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. Maka bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang Ibu Bapakmu, hanya kepada-Ku-lah kembalimu.” (QS. Luqman : 14).

“Keridhaan Rabb (Allah) ada pada keridhaan orang tua dan kemurkaan Rabb (Allah) ada pada kemurkaan orang tua” (Riwayat Tirmidzi dalam Jami’nya (1/ 346), Hadits ini Shohih, lihat Silsilah Al Hadits Ash Shahiihah No. 516).

MALAM berikutnya keadaan mama belum menunjukkan tanda-tanda membaik. Dengan suaranya yang lirih dia mengatakan padaku, “ lily yu ko kemji ngo em haou fan, ngo hanting se, yu ko ngo houfan to ngo sangyat, hanting ngo jung yau meng kei lin, yanwe yi jin ngo suin meng kam yong dongo kong”. Jawabku, “lei mo luin kong ye, ngo em son suin meng, hou lah faiti houfan a”.

“Lily (panggilanku) kalau kali ini aku tidak sembuh, kemungkinan aku akan mati, kalau aku sembuh sampai ulang tahunku, kemungkinan aku masih bisa hidup beberapa tahun lagi, karena dulu aku pernah diramal.” Jawabku, “Nenek jangan sembarangan bicara, aku tidak percaya ramalan, baiklah nenek segera sembuh ya.”

Aku sangat sedih. Mama dan anak cucunya  sayang sama aku. Hubunganku sama mereka seperti keluarga sendiri. Mereka tidak menganggapku sebagai pembantu.

Aku ‘ga tau seperti apa orang yang menghadapi sekarat. Yang pernah aku dengar di pengajian, sakitnya orang sekarat, saat dicabutnya nyawa, sungguh sangat sakit yang luar biasa.

Malam itu mama bilang hou san fua hou dong (sangat capek dan sangat sakit). Mendengar rintihan mama, aku langsung pencet tombol gawat darurat warna merah yang terletak di samping ranjang mama. “Ya Allah apakah malaikat-Mu, Izrail, datang ke mari. Jangan ambil dulu nyawa mama, berikan hidayah ya Allah, sebelum ajal menjemput” (do’aku dalam hati).

Lima menit kemudian dua orang perawat berseragam warna pink dan biru muda datang dan menghampiri mama. Setelah melihat keadaan mama, mereka langsung meletakkan alat-alat, seperti mengalirkan aliran listrik ke dada, tangan, dan kaki mama.

Aku hanya bisa berdoa dan pasrah pada Allah. Malam-malam itu aku benar-benar takut apa yang akan terjadi. Setelah itu, dua perawat mengatakan padaku, “Kalau pada alat ini lampunya menyala merah dan bunyi tut tut tut, kamu segera panggil aku,” pesannya.

Tanpa kusadari, aku  tertidur kelelahan. Hampir sejam aku bisa menikmati tidur. Saat terbuka mataku, pandanganku langsung mengarah ke arah mama yang terlihat tidur pulas. Aku bernapas lega dan mengucapkan alhamdulilah.

SIANG itu anak menantu perempuan datang menyuruhku pulang untuk tidur siang. Aku menolaknya karena nanti akan capek di jalan. Untuk perjalanan ke rumahku membutuhkan waktu sejam. Aku lebih memilih duduk di taman melihat pemandangan segar setelah semalaman terkurung di rumah sakit.

Kurasa istirahatku siang sudah cukup. Aku bermaksud kembali ke kamar mama, tetapi ketika aku hendak masuk lift, aku dikejutkan peti mayat yang akan keluar dari lift. Aku benar benar kaget. Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun. Apakah mamaku yang meninggal? tanyaku dalam hati.

Aku langsung masuk lift dan lari menuju kamar mama melihat keadaan mama yang masih terbaring di ranjang. Napas yang ngos-ngosan dan rasa khawatir bercampur takut, kuucapkan Alhamdulilah Alhamdulilah Alhamdulilah tak henti-hentinya. Aku bersyukur kepada Allah.

Dengan izin Allah mama sembuh, walau harus duduk di kursi roda dan lebih banyak waktunya habis di atas ranjang untuk nonton TV dan tidur.

Begitu banyak yang kupelajari dengan keadaan selama aku dirumah sakit, lebih bisa menikmati karunia Allah, nikmat sehat, dan Allah mencabut nyawa seseorang dengan mudahnya dan tidak pandang kaya miskin tua muda, bahkan orang sehat bisa mati.

Semoga kita termasuk golongan orang yang selalu mengingat kematian. Semoga ketika malaikat maut menjenguk kita untuk terakhir kalinya, kita berada dalam keadaan husnul khatimah (baik di penghabisan). Amin ya Rabbal ‘alamin.

“Barangsiapa yang pada akhir kalimatnya (yaitu pada saat kematiannya) mengucapkan ” Laa illaaha illallah” maka ia dimasukkan ke dalam surga” (HR. Hakim). (Lutfiana Wakhid/ddhongkong.org).*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!
Posted on February 1, 2013

Leave a comment