DDHK News, Hong Kong — Dalam kondisi apa pun kita harus tetap berusaha menjaga keimanan dan jangan pernah tinggalkan shalat sesuai dengan perintah Allah Swt dan Rasul-Nya. Demikian dikatakan Pemimpin Majelis Nurul Hikam Jakarta, Ustadz Lukman Hakim, dalam tausiyahnya, Ahad (22/4), dalam Pengajian dan Dzikir Akbar BMI Hong Kong di Islamic Kasim Tuet Memorial College, Chaiwan, MTR Exit D, Hong Kong.
Pengajian dihadiri sekitar 400 jamaah (BMI Hong Kong) dan perwakilan Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) serta organisasi BMI HK. Acara berlangsung pukul 10.00 sampai pukul 17.00, dimeriahkan rebana dari Gaperbumi, sholawat dari Al-Muttaqin dan Al-Fadilah, tausiyah oleh Ustadz Lukman Hakim, serta Dzikir dan Muhasabah oleh Ustadz Muslih Aziz (Pimpinan Pesantren Yatama Az-Zikra Depok).
Ustadz Lukman juga menjelaskan tentang shalat sebagai rukun Islam, tiang agama, dan sebagai barometer ibadah-ibadah lainnya. “Yang akan diperhitungkan di akhirat pertamakali adalah shalat,” katanya mengutip hadits Nabi Saw. “Maka jika shalat kita baik, ibadah yang lain juga akan baik, tapi jika shalat kita rusak, maka ibadah yang lain pun akan rusak.”
“Yang penting mau shalat dulu deh, masalah khusyuk itu urusan hati dengan Allah. Karena jangankan kita, para ulama pun kalau urusan khusyuk memang susah. Saya pribadi pun masih belum afdhol. Seperti dulu, ketika awal lulus pesantren, baru pulang ke rumah sama ibu disuruh jadi imam mau shalat, ketika itu musim duren di rumah, tuh duren harus ditungguin, kalau nggak, jatuh ya diambil orang. Pas takbir pertama, bunyi duren jatuh dua kali, gedebukk…! Konsentrasi langsung terganggu. Mau batalin shalat, apa lanjut terus. Kalau dibatalin, malu sudah tanggung takbir, tapi kalau nggak dibatalin, tuh duren diambil orang, akhirnya saya putuskan untuk batalin shalat dulu, ambil duren!” katanya.
“Artinya apa? Khusyuk itu biar urusan nanti, yang penting shalat menjadi kebiasaan dan menjadi kebutuhan seterusnya sehingga kekhusyuan itu akan kita dapat sepenuhnya.”
Dijelaskan pula bagaimana cara berbakti kepada kedua orang tua, baik ketika masih hidup ataupun ketika telah wafat, di antaranya mendoakan orang tua. “Karenanya, ajarkan anak-anak kita cara berdoa, jangan hanya diajarkan doa makan dan tidur, maka jangan heran kalau anak kita nantinya kerjanya hanya makan & tidur, karena itu yang diajarkan,“ jelas Ust. Lukman.
Ustadz Muslih dalam muhasabahnya menyampaikan pesan agar dakwah tidak hanya ucapan, tetapi juga amalan yang terbaik. Menurutnya, acara yang berdimensikan keagamaan seperti pengajian, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak hadir di dalamnya. “Bagi saya pribadi, karena saya ingin populer di hadapan Allah Swt, saya ingin menyita perhatian Allah Swt dengan menghidupkan majelis-majelis dzikir seperti ini,” terangnya.
Dikatakannya, siapa yang meniti hidup di jalan dakwah, maka ada amalan terbaik, ucapan terbaik, dan prilaku terbaik. Dakwah adalah tindakan dan ucapan, bahkan juga amalan terbaik. “Kita ingin melebur dalam kebersamaan antara lisan, hati, juga amaliyah… Menunjukan cinta Allah Swt dan rasul-Nya di antaranya adalah menghidupkan sunahnya, semoga menjadi cahaya yang bisa menerangi kawan-kawan yang belum bisa datang ke acara seperti ini,” harapnya.
Ditambahkannya, da’i tidak hanya seperti ceret yang hanya menuangi, tetapi juga harus seperti gentong sehingga jamaah bisa mengambil ilmunya sepuasnya. Mau berbagi tidak hanya ketika diundang, tapi datang untuk mereka sebagaimana Rasulullah Saw ketika dakwah di Mekkah. “Baginda mengetuk pintu mereka dan di sini (Hong Kong) kami juga berusaha untuk mengetuk pintu hati kawan-kawan BMI yang belum hadir datang ke taklim,” tegasnya.
Ust. Muslih berharap, kegiatan keislaman di negeri yang notabene bukan negeri Islam, di mana kemaksiatan luarbiasa merajalela, akan menjadi cahaya. Ia mengaku miris ketika kita melihat kawan-kawan BMI yang terjerumus. Menurutnya, yang patut disalahkan adalah kita yang mengerti. “Walaupun urusan dia ya urusan dia, tapi dalam keagamaan ini adalah tanggungjawab kita untuk merangkul mereka, mengulurkan tangan,” jelasnya.
Ia juga mengajak jamaah agar bisa menikmati lautan dan ampunan Allah karena sebenarnya hidup ini adalah hamparan hidangan Allah yang tak bertepi. Kita bisa menikmati kapan saja dan Allah sudah gelar itu untuk kita. Di antara gelaran-gelaran itu ialah kita duduk dalam suatu majelis karena diridhoi Allah Swt.
Ditekankannya, menghadiri majelis ilmu adalah kebutuhan ruhiah dan intelektual bagi kita. Karena seperti tubuh yang membutuhkan asupan makanan, ruh pun butuh asupan yang bergizi, yaitu dengan siraman dzikir kepada Allah. “Hati butuh cahaya dan rahmat Allah untuk pegangan dalam menjalani kehidupan kita,” tegasnya.
Menurut Ust. Muslih, pahala BMI HK yang beribadah dan berdakwah di negeri beton ini bisa jadi lebih besar dari kawan-kawan yang di tanah air karena melakukannya dengan luar biasa, di tengah keterbatasan. “Apa–apa tidak mendukung, tapi teman-teman kreatif mengadakan acara keislaman seperti ini,” pungkasnya. (Rima Khumaira/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



