DDHK News English Version
Home » BMI Menulis » Iwak Peyek Versi Hong Kong

anitaOleh Anita Sri Rahayu

Saat berada dalam masalah, akan terasa nyaman jika punya sahabat yang bisa mendengarkan keluh-kesah. Meski itu tidak menyelesaikan apa pun, setidaknya beban hati akan terasa lebih ringan. Sahabat yang baik adalah dia yang pura-pura paham dengan apa yang kita keluhkan, menjadi pendengar yang baik, tak memotong pembicaraan atau menceritakan masalah dia di saat kita mengalami depresi. Dia orang tak berniat menyakiti, terutama saat kita sakit.

Aku punya sahabat waktu pertama kali merantau di Hong Kong (HK). Sebut saja namanya Inge. Kami biasa bertemu saat menjemput anak sekolah. Tapi itu hanya di kontrak pertama, karena aku pindah ke daerah Causeway Bay, metropolitan HK. Dengan tujuan mencari tempat les dan sekolah kejar paket. Hobi kami berbeda, dia santai menjalani hidup dengan sepoi-sepoi anginnya, sedangkan aku memilih menjemput badai jika itu mengantarkanku ke tempat yang lebih baik.

Meski sudah jarang bertemu, kami tetap sahabat. Terutama saat ada masalah, dia tempat curhat buatku. Karena jika bercerita pada keluarga, aku tak mampu. Tak ingin membebani dengan cerita yang belum pasti mereka paham, alih-alih membuat aku tenang, malah semakin kacau nantinya, karena hanya orang yang menjalani liku hidup di perantauan ini yang akan paham dan bisa menilai dengan bijak.

Seperti hari itu, aku libur dan menemuinya. Setelah puas menceritakan masalahku, Inge manggut-manggut, lalu mengajakku makan siang di toko Indonesia langganannya.

“Komputer itu benda mati Nit, bisa rusak kapan saja. Kita saja pasti mati ‘kan? Kalau ada uang ya kamu betulin, kalau tidak ya tunggu sampai mati hehehe…dan kerja di tempat baru itu pasti ada perbedaan, kamu sabar nanti juga biasa. Nah pacaran juga sama, nanti juga baikan. Udah kita makan yuk,” Inge mengabsen semua masalahku dengan ringannya, aku terbawa sejenak melupakan semua beban. Hari itu aku peluk sahabatku.

Kami berjalan menuju tangga lantai dua sebuah apartemen di daerah Tai Po. Di situlah toko Indonesia yang akan kami tuju. Namun, baru masuk di muka pintu tangga langkah kami terhenti. Melihat seorang teman BMI yang sedang berusaha mengangkat tas besar kotak-kotak hitam, nampak berat.
Ternyata dia teman Inge, Mbak Lin.

“Lho..katanya bulan depan maket barangnya, Mbak Lin? Sini aku bantu angkat, wah opo toh isine berat banget,” ujar Inge, aku ikut membantu tanpa dikomando.

“Kebetulan bosku liburan, jadi aku digaji awal, Nge.. Emkoi sai, untung ada kalian, aku mau kirim paket hari ini, biar anakku bisa minum susu, dan main dengan boneka-boneka,” ujar Mbak Lin, sambil membuka tas besar itu dan memamerkan tumpukan mainan, baju, dan susu kaleng mahal. Pantas saja beratnya setengah mati, batinku. Tapi itulah kasih sayang seorang ibu, yang selalu ingin memberikan yang terbaik untuk anaknya.

Setelah merapikan barang paketan di sisi kiri toko, kami bertiga duduk di kursi plastik berwarna merah muda, nampak tertata rapi di atas meja itu sambel tomat, kerupuk dan lalapan ciri khas Indonesia. Tentunya semua bisa dimakan setelah kami bayar dulu. Suasana terasa ingar-bingar, karena ruang makan itu bersatu dengan ruang karoke yang biasa di sewakan pada teman BMI yang suka menghabiskan hari liburnya dengan berdendang, setelah seminggu penuh mendengarkan konser nyanyian dari majikan.

Suara musik menghambur ke seluruh pojok rungan, disambut dengan aroma dan asap sate dari pintu dapur sang pemilik toko, sesaat aku rasakan situasi seperti di tanah air. Pasar malam.

“Iwak peyek.. iwak peyek… iwak peyek sego tiwul… sampe  elek… sampe tuwek.. diriku tetap muncul, peyek-peyek anget mba,” ujar si pemilik toko, sambil meletakan gorengan rempeyek kacang yang masih panas di meja makan.

“Aduh jadi pengen lagu itu deh, ada ga’ Mbak VCD-nya?” ujar satu dari BMI yang semenjak tadi sibuk mengatur nafas saat melantunkan lagu balada Malaysia yang aku suka liriknya, Sembilu.

Selang lima menit, irama musik kini berubah dangdut modern, dengan lagu yang baru aku dengar hari ini. Ya itu tadi, liriknya sama seperti yang dilantunkan si pemilik toko. Sambil memesan makanan, aku, Inge, dan Mbak Lin terhanyut suasana ceria. Kami ikut manggut-manggut, musik “sederhana” tapi bisa menjadi teman duka kami. Soal musik, buatku semua bagus. Tapi kadang sebagian hanya menjual tampang dan gaya erotis, hingga justru merendahkan kualitasnya.

Memang tidak mengubah apa pun, setidaknya berjumpa sahabat bisa membuat hati tidak penat. Inge masih dengan gaya hidupnya yang santai, aku masih sibuk merajut mimpi dan berjuang, serta Mbak Lin dengan seyum tersungging namun berisi kepiluan,. Ia menceritakan bahwa anak majikannya seumur dengan anak kandungnya di rumah. Tak bisa aku bayangkan, betapa remuk-redamnya naluri seorang ibu yang harus jauh dari anaknya, saat dia memberikan susu, menggendong, menyuapi, meninabobokan anak majikannya, justru anak kandungnyalah yang ia rindukan. Apa ini Tuhan? Takdir? Ujian? Dan sampai kapan?

Hari berlalu, aku kembali pada kesibukanku sebagai pekerja. Suka dan duka datang silih berganti, tapi ibarat kata pepatah, pelaut yang andal tidak akan menikmati indahnya pantai atau dalam gelombang kecil, ia akan ada di laut lepas, terhalang ribuan ombak untuk menemukan pulau impiannya.

Aku berjalan menuju pasar, sambil berpikir keras bagaimana mengatur uang HKD 200, agar bisa cukup untuk menu masak satu minggu. Itu sepertinya sudah harga mati dari bosku, jatah belanja tidak pernah naik, sedangkan harga semua sayur naik. Kadang aku di pasar seperti orang linglung, apalagi saat melihat plang harga yang ditulis penjual pada boks atau kardus bekas. Paling murah sayur itu 8-14 dolar HK, belum lauknya! Tring…deh ! Pada saat orang lain menggunakan 200 itu untuk satu hari menu masak, aku harus bisa untuk satu minggu. Tapi setiap keluarga punya aturan, dan aku hanya bisa melakukan yang terbaik saja.

Penjual yang sering aku kunjungi adalah tukang tahu dan toge, karena hanya dua itu saja yang bisa dibeli dengan harga HKD3.

“Kalau kamu mau murah dan bagus, ternak sendiri ikannya, ngerti!” suara lantang terdengar dari arah tukang ikan mas, dia marah pada pembeli yang aku rasa pekerja dari Filipina dengan bahasa Kantonis. Masalahnya, dia tanya harga ikan tapi si penjual langsung menyiangi ikan itu, tanpa konfirmasi pada pembelinya, mungkin ini tak-tik agar jadi dibeli. Di lain pihak, si pembeli mungkin tak cukup uang, sama seperti aku yang serba salah jika belanja dengan uang minim. Boro-boro bisa korupsi, hehehe..

Setiap jengkal kisah di perantauan adalah perjuangan. Makanya jika diniatkan untuk hijrah dari sebuah keburukan kepada kebaikan, itu akan mendapat pahala dari Allah Swt. Karena makna hijrah tidak hanya perpindahan tempat saja, tapi nasib, sifat dan tingkah-laku. Salut sekali, pada BMI yang masih melakukan hal bermanfaat dan berprestasi, di tengah perjuangan menjadi BMI.

Aku hendak pulang menuju stasiun bus, sekilas aku lihat kurs pengiriman uang hari itu. Masya Allah, tinggi! Beda dari hari biasanya yang tidak sampai Rp1200 saja, kini malah hampir Rp1300. Tapi aku tidak terlalu gembira, karena yakin pasti dampak ekonomi di tanah air yang semakin sulit.

Iseng, sampai di rumah aku buka akun dumayku, menulis info tentang tinggnya kurs pengiriman uang hari itu. Tanggapan dari kawan sejawat sangat beragam, ada yang menyesal karena sudah pulang kampung tidak di HK lagi, ada yang bertanya lokasi aku melihat info itu, bahkan ada yang berdoa agar kurs terus naik hingga Rp1500 hehehe.. Aku tertawa, menelan ludah. Jika saja kondisi di tanah air tidak hancur, kurs tinggi aku bisa makmur. ”If only” kalau kata orang Baratnya.

Karena sedang dalam ikatan kewajiban pelunasan sawah, nyaris setiap gajian aku hanya bisa pegang HKD400 untuk satu bulan. Tapi dengan kuasa Allah, cukup, bahkan selalu ada uang di dompetku walau itu hanya recehan! Untuk ongkos libur/meliput, makan, telepon, dan kadang aku belikan makanan untuk acara Yasinan di masjid dengan sesama jamaah. Mungkin itu yang disebut “barokah”. Satu sisi yang tidak semua orang tahu, hidup dan bekerja di HK itu sangat pahit bagiku, jauh dari sesuatu yang dibilang kebebasan tanpa batasan. Meski jalan untuk kedua hal itu memang terbentang lebar, ingin jadi pendosa atau pekerja yang amanah? Tinggal pilih, betapa Tuhan itu baik, tidak memaksa sehingga jika ada yang salah arah, itu karena jalan salah yang ia pilih. Dan menyia-nyiakan kesempatan dari Tuhan. Mungkin.

Ada temanku yang sibuk membangun rumah dan mengurus ibunya, ada yang sibuk kuliah dan membantu biaya sakit kakaknya dan berbagai bentuk ikhtiar kami untuk memanfaatkan kebaikan Tuhan. Dalam segala bidang, kami berjuang. Semua terasa berat, dan hanya jika Anda mengalami sendiri maka berhak menilai.

Hari beranjak siang, aku sudah selesai dengan tugasku, kemudian sholat Zhuhur. Ada satu kejadian yang sangat mengejutkan di ranah dumay, terkait masalah kontroversi tulisan. Selain dianggap menggunakan bahasa vulgar, tulisan itu tidak memuat “bukti observasi akurat” atau pengakuan narasumber. Entahlah, aku tidak begitu paham. Hanya saja, naluriku sebagai BMI sangat terlukai. Di tengah kedukaan, keburukan yang memang benar adanya, harusnya kita mencari solusi bukan menebar aib itu. Ibaratnya sebuah gedung apartemen, ada satu dua lantai yang kotor. Tidak boleh dihakimi bahwa satu gedung itu kotor, dan hal yang lebih bijak, mana kala kita berusaha untuk membersihkannya, sehingga gedung itu sama bersihnya.

Memang, ada yang salah arah tertarik arus kebebasan, tapi masih ada kami yang berpijak di atas duri-duri tajam, namum tetap berjalan. Aku sedih, setelah turun langsung dalam pengalaman menjadi relawan reporter bersama temanku lainnya, aku tahu banyak tentang perjuangan BMI diberbagai hal, life skill, dakwah, dan kreativitas lainnya. Berusaha mengorek informasi ke sana ke mari untuk menunjukan pada dunia, kami bisa melakukan hal positif. Tiba-tiba hancur hari itu, tak terbayang jika yang membaca itu berpikir BMI hanya sampah masyarakat. Oh…kasihan diriku, Inge, dan Mbak Lin serta kawan lainnya yang semakin lumpuh karena himpitan dari berbagai arah.

Jadi ingat kisah inspiratif dari seorang ustadz. Sebuah contoh sikap yang diajarkan baginda Nabi Saw saat mengemban tugas menyebarkan Islam. Beliau tidak mengangkat tema kontroversial, sehingga umat akan semakin kuat dan menyatu. Itulah rahasia kenapa Islam, termuda dari silsilah perdaban agama, bisa menjadi agama yang besar dan universal.

Banyak juga cara beliau berdakwah, tidak selalu di atas mimbar tapi lewat sikapnya yang penuh cinta. Alkisah, datanglah seorang wanita Kristiani membawa jeruk satu keranjang. Kemudian memberikannya pada baginda Nabi Saw. Lalu dengan senang hati, Rasulullah memakannya di depan wanita tadi dan para sahabatnya, satu demi satu, hingga habis. Kemudian wanita itu pergi, dengan rasa malu yang mendalam. Saat para sahabat bertanya. ”Ya.. Rasul, kenapa engkau memakan seluruh jeruk itu? Bahkan tidak membagikannya kepada kami?” Rasulullah menjawab, ”Wahai sahabatku…semua jeruk dari wanita itu rasanya masam, dan aku tak ingin mempermaukannya di depan kalian, aku juga takut jika membagi jeruk itu pada kalian, lalu kalian tidak bisa menjaga lidah dan berkata di depan dia bahwa jeruk pemberiannya itu tidak manis, aku tidak ingin dia bersedih.

Masya Allah…! Itulah kecintaan pemimpin yang tidak ingin meluruskan jalan umatnya dengan melukai perasaanya.

Jalan masih teramat jauh, ketika BMI akan selalu mengais rezeki di HK. Mari kuatkan pegangan tangan, saling menguatkan, dan mengingatkan, serta jangan letih berjuang. ”Iwak.. peyek.. iwak peyek.. iwak peyek sego jamblang.. sampe elek.. sampe tuwek.. BMI terus berjuang!” Kayao! (Anita Sri Rahayu, Reporter DDHK News/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org

3 Responses to “Iwak Peyek Versi Hong Kong”

  1. Anita Kejora June 1, 2012

    ASR… salah ketik :P

    Tetap semangat ! Iwak Peyek sego jamblang…BMI tetap berjuang ,kayao !

    Reply
  2. Anita Kejora June 1, 2012

    Apa yg saya rasakan sebagai ARS/BMI-HK sudah sy tuangkan di tulisan ini, intinya sedih deh T_T

    Reply
  3. Apa yg dirasakan anda mbk anita sri rahayu begitu melihat artikel di dumay srakan rontok isi jeroanku,,,knp mslh 1orng di publikasikan seakan-akan smua bmi bgtu adanya…pdhl 98% dr bmi merajut impian dan angan dgn hal positif…seperti halny bergabung di sebuah organisasi yg mn sngt amat bermanfaat….atopun disamping mengais rejeki jg nyambi mengais ilmu…mbok yao agak mkr ternyt dibalik berita tersbt akn mrnuai dampak negatif…sdh seharusnyalah sebagai idola bs menetralisir dr brta tersbt,,lbh andap asor,bijaksana tentuny…

    Reply