Naglaa Ali Mahmoud –istri presiden baru Mesir dari Ikhwanul Muslimin, Muhammad Mursi– memakai jilbab yang menutupi seluruh auratnya. Ia pun tidak menggunakan nama belakang dengan nama suaminya, Mursi, karena ia menilai hal itu merupakan budaya Barat.
Dia juga menolak gelar “ibu negara” (first lady). Ia lebih suka dipanggil “Umi Ahmad”, nama panggilan tradisional yang mengidentifikasi dirinya sebagai ibu dari Ahmad, anak sulungnya.
“Jika saya harus punya nama panggilan, saya lebih suka disebut abdi Mesir, Umi Ahmad (ibunya Ahmad) atau Hajjah,” kata Naglaa Mahmoud.
Sepanjang sejarah pemerintahan modern di Mesir, dialah istri pemimpin negara pertama yang mengenakan jilbab. Berbeda dari istri para pendahulu suaminya yang dikenal mengikuti tren fesyen dan sangat bergaya Barat.
Sikap Naglaa kian memperkuat nuansa Islami di Mesir pasca terpilihnya Muhammad Mursi, tokoh Ikhwanul Muslimin yang dikenal taat dan sederhana. Mursi masih menjalankan shalat Subuh berjamaah di masjid yang biasa ia datangi sebelum jadi presiden.
Naglaa Ali Mahmoud, 50 tahun, sangat berbeda dengan sosok istri presiden sebelumnya, Suzanne Mubarak dan Jihan el-Sadat. Berbeda dengan keduanya yang lebih suka menyendiri, berbusana mengikuti mode Barat dengan tata rambut dan gelar tinggi sebagai “ibu negara”, Naglaa tetap sederhana, Islami, dan merakyat.
Bagi beberapa orang, Naglaa mewakili perubahan yang diinginkan. Nagla menjadi wanita di istana kepresidenan yang terlihat dan hidup seperti saudara dan ibu semua orang Mesir.
Naglaa tidak memilih hidup glamour sebagaimana lazimnya istri pejabat tertinggi di sebuah negara. Ia tetap Naglaa yang selama ini dikenal kerabat, teman, dan tetangganya.
“Orang seperti Suzanne Mubarak adalah orang-orang aneh… Anda tidak bisa melihat mereka berjalan di jalan,” kata Mariam Morad, 20, seorang mahasiswa psikologi. “(Sikap Naglaa sekarang) ini adalah apa yang kita butuhkan: berubah.”
Saber Dalia, 36, dosen teknik, berkata, “Dia terlihat seperti ibu saya, dia terlihat seperti ibu suami saya, dia mungkin terlihat seperti ibu Anda dan ibu bagi semua orang.”
Baginya, Mursi dan Naglaa adalah bagian dari revolusi di dunia Arab sekarang: orang-orang biasa yang berkuasa. “Mereka orang-orang seperti kita,” katanya. “Ini adalah bantuan asing bagi masyarakat. Orang-orang merasa bahwa ada perubahan.”
Naglaa dibesarkan di kawasan miskin, di desa kecil dari El Adwa, di Delta Nil, provinsi Sharqiya, tetapi ia unggul dalam program teknik di Universitas Kairo.
Tiga hari setelah pernikahan mereka, ia berangkat ke Los Angeles, untuk menyelesaikan gelar Ph.D. di University of Southern California. Ia lulus SMA dan belajar bahasa Inggris di Kairo. Satu setengah tahun setelah pernikahan mereka, ia bergabung dengan suaminya di Los Angeles. Ia menjadi relawan di Gedung Mahasiswa Muslim, menerjemahkan khotbah untuk wanita yangf tertarik memeluk Islam.
Saat itu, di Los Angeles, dia dan suaminya pertama kali diundang untuk bergabung dengan Ikhwanul Muslimin, tawaran yang nantinya akan menentukan hidup mereka.
Dua dari lima anak mereka lahir di Los Angeles dan memegang kewarganegaraan Amerika. Setelah Mursi menyelesaikan gelarnya, Naglaa awalnya tidak ingin meninggalkan Los Angeles. Tapi Mursi ingin anak-anaknya untuk tumbuh di Mesir.
Setelah mereka kembali, tahun 1985, Mursi mengajar ilmu teknik di Universitas Zagazig, dekat kota kelahirannyam, di utara Kairo, dan mulai aktif di barisan Ikhwanul Muslimin. Naglaa menjadi seorang ibu rumah tangga dan mengajar gadis-gadis muda tentang pernikahan.
“Yang saya inginkan adalah untuk tinggal di tempat sederhana di mana saya bisa melaksanakan tugas saya sebagai istri. Sebuah tempat seperti istana presiden sepenuhnya mengisolasi Anda dari dunia.. ” kata Naglaa. (Mel/Nytimes.com/Alarabiya.net/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



