DDHK News English Version
Home » Featured, Hong Kong » Inilah Risiko Reporter ‘Rangkap Jabatan’ BMI
reporter

Lutfi, Tati, Anita.*

BMI/TKI jadi reporter? Why not? Tidak harus lulusan perguruan tinggi, siapa pun bisa, jika ada kemauan. “Sesuai namanya, reporter, ia harus mau repot ‘muter-muter’, tidak hanya muter cari bahan berita, tapi juga harus ‘muter otak’ membagi waktu antara pekerjaan dan tugas reporter itu sendiri,” ujar salah satu relawan reporter DDHK News (Official website Dompet Dhuafa Hongkong), Rima Khumaira, dengan nada ringan dan sumringah.

Rima mengakui sangat bersyukur menjadi BMI bisa merangkap berbagai jabatan dalam hal positif, merangkap reporter untuk website DDHK News. Banyak ilmu yang bisa dipelajari dari hal-hal yang ia temui, bergaul memperluas jaringan, wawasan serta ilmu.

“Beritakan sesuatu yang terjadi di sekitar kita, banyak orang perpandangan miring tentang BMI, padahal kalau mau ditelusuri, prestasi kawan-kawan di sini tak kalah dengan kawan di tanah air, bahkan di mancanegara sekalipun,” katanya bersemangat.

Tugas itu dilakukannya di sela-sela kesibukan mengurus rumah, mengatur menu harian, mengantar anak sekolah, belum lagi mengatur uang belanja.

“Saya harus pintar-pintar menyiasati semuanya. Apalagi ketika berita harus publish sedangkan waktu kita terbagi-bagi untuk ini dan itu. Tapi itu risiko, namanya juga kerja ikut orang. Bersyukur majikan mendukung kegiatanku dan mereka menganggapku seperti keluarga sendiri. Ketika aku sibuk di depan komputer, mereka tidak akan mengganggu kesibukanku,” lanjutnya.

Setiap hari Minggu, hari libur mayoritas BMI Hong Kong dan Macau, banyak kegiatan teman-teman yang bisa diliput dalam artian ia bisa datang ke lokasi langsung, wawancara narasumber, dan ambil foto untuk dokumentasi melengkapi berita. “Kalau hari biasa, biasanya wawancara by phone atau kalau bisa saya usahakan datang ke lokasi langsung,” tuturnya.

Hari Senin bagi Rima menjadi hari yang paling sibuk.  Setelah libur, pekerjaan jadi numpuk. Rekaman berita belum bisa “dioperasi” karena mendengarkan kembali itu butuh waktu. “Kita juga harus tahu maksud dari apa yang disampaikan narasumber, jadi tidak hanya asal menulis,” katanya.

“Terkadang sambil setrika baju, cuci kamar mandi, ngepel, pergi ke pasar dengarkan rekaman berita. Jadi, setelah ada waktu luang, bisa meringkas awal apa yang disampaikan narasumber. Berusaha publish segera mungkin agar berita tidak keburu basi.”

Kalau dipikir-pikir, kata Rima, tugas kita sebagai BMI di sektor domestic helper melebihi akuntan di perusahaan-perusahaan –harus pandai mengatur pengeluaran. Melebihi koki di hotel-hotel berbintang –pintar mengatur menu agar keluarga majikan tidak bosan, apalagi keluarga besar majikan sering kumpul di rumah mengadakan pesta. Melebihi office boy, belum lagi terkadang harus mengajari anak mengerjakan PR. “Nah, guru privat juga kalah tuh sama BMI. Seru juga ‘kan?” tanyanya retoris.

Kesulitan yang dialami, kata Rima yang asal Jakarta ini, terkadang narasumber susah dihubungi. Maklum sama-sama BMI. Kesibukan para BMI pun beragam, belum lagi kalau ditanya narasumbernya pasif, kita harus bisa memancing mereka dengan pertanyaan yang tidak membingungkan. Kesulitan lain, ketika beritanya sudah ada, tapi fotonya belum ada, jadi pending karena laporan belum lengkap.

“Dari semuanya aku bersyukur, di sini tidak hanya mencari dolar, tapi juga mendapat ilmu, berorganisasi, bertemu orang-orang hebat. Walau jauh dari keluarga, tapi serasa berada di tengah-tengah mereka dengan kebersamaan dari kawan-kawan BMI,” pungkasnya.

REPORTER lainnya, Anita Sri Rahayu, mengaku punya pengalaman dan perasaan tersendiri.

“Meskipun kami sama-sama relawan reporter DDHK News, aku punya sudut-sudut paling bermakna tersendiri, kadang sampai berderai air mata, sekaligus media introspeksi diri dengan menulis,” kata gadis berkulit putih asal Cirebon ini.

“Buatku, jika satu hal baik berupa perasaan atau kejadian tak mampu diungkapkan dengan kata, maka tuliskan saja. Selagi tidak menyalahi aturan, menulis itu hal yang paling memudahkanku dari kata kecewa,” kata filosofis seraya menyitir sebuah syair:

Ratu dunia.. Ratu dunia.. oh wartawan ratu dunia. Apa saja kata wartawan. Mempengaruhi pembaca koran

Dulu, Anita tidak begitu paham dengan istilah yang dilantunkan grup qasidah ”Nasyida Ria” yang berjudul Wartawan Ratu Dunia itu. Kini, setelah terlibat langsung Anita sedikit mengerti.  Reporter atau wartawan bisa membentuk opini publik.

“Saat satu sisi di belahan dunia sedang berperang, darah seakan tumpahan air jemuran, jeritan tangis ibarat lagu burung-burung di pagi buta. Kita tidak ada di belahan dunia itu, tapi bisa menyaksikan bukti nyata dari sebuah peristiwa yang sedang terjadi. Wartawan, ya dialah orang yang peduli untuk menyuarakan hal pada masyarakat,” katanya bersemangat.

Dikemukakannya, dalam sebuah novel dijelaskan, Sean McCourt adalah seorang fotographer Amerika tahun 1967-1972 yang terkenal dengan karyanya Free Fire Zone dalam satu tekanan tombol kameranya. Beberapa jam kemudian telah memberitakuhan ke seluruh dunia tentang yang ia lihat, menyentuh emosi miliaran manusia, dan mengubah cara pandang mereka.

Daerah Ngoc Ninh-Vietnam, nampak seorang kakek dan empat wanita muda serta seorang ibu menggendong anaknya, berlari di antara ratusan lainnya. Kakek tua dan wanita itu jatuh, sementara ibu itu memeluk anaknya penuh rasa takut menatap kamera Sean. Saat itu, militer Amerika, pilot, dan pasukannya bisa menembak siapa target yang mereka kehendaki di daerah itu. “Seram!” serunya.

“Jika Sean bisa bicara pada dunia lewat foto, maka reporter lewat tulisannya,” lanjut Anita. “Hal ini yang menarik hatiku, saat sebagian banyak manusia duduk santai dengan ketidakadilan, kesenjangan, dan jauh dari kata berjuang. Maka tidak demikian dengan reporter. Menurutku, tugas mereka itu mulia. Sayang, semua masih dalam angan, karena untuk menjadi profesioanal pasti butuh jalan panjang. Semoga jalan yang sedang aku tempuh bisa mengantarkan ke pintu harapan, suatu saat.”

“Ini kisahku, perjuangan sebagai BMI yang mimpi menjadi reporter profesional. Alih-alih Anda kagum, pasti malah tertawa, silakan saja memang demikian adanya, satu sisi aku pekerja, satu sisi ingin mengejar cita-cita. Yuk, mulai tertawa…”

Anita lalu menceritakan kesan pertama saat menjalani tugas sebagai reporter. “Aku merasa keren,” katanya. “Heroisme muncul, seperti di Sinetron Dian Sastro Dunia Tanpa Koma saat dia ber-acting menjadi wartawan ternyata selalu terjepit situasai bahaya. Observasi ke lapangan, misalnya dengan para bos narkotika dan preman-preman. Yang ada di otaku saat itu, bagaimana jika suatu saat Allah menakdirkanku menjadi wartawan andal? Hufftt.. !“

“Harus belajar bela diri nih,” batin Anita. “Sempat aku masuk perguruan Taekwondo di daerah Wan Chai dan Tsim Sha Tsui Sport Centre, lengkap dengan seragam putih, sabuk putih tanda sebagai pemula, aku belajar sekitar dua bulan, dan selama itu pula aku babak-belur. Tidak bisa mengimbangi lawan latihan yang berpostur tinggi, menjelang test kenaikan sabuk, aku putuskan berhenti. Akhirnya, gaya sok jagoanpun harus aku kubur seiring doa job reportase yang aman-aman saja nantinya, semoga.”

Selalu ada warna yang indah dalam perjuangan Anita sebagai relawan reporter dan BMI.

“Meskipun kenyataannya aku adalah pekerja, tapi tetap bangga dengan tugas sampinganku yang dalam konteks pemikiranku adalah mulia. Aku bukan Sean McCourt, aku bukan Dian Sastro, aku hanya Anita BMI asal Cirebon bekerja di Sha Tin dengan job jaga anak, bernama Heyan,” papar Anita.

Jika ada waktu senggang, ia periksa brosur yang biasa didapat dari selebaran teman-teman sesama BMI. Melihat waktu yang kiranya sudah dekat, ia usahakan membuat berita dengan rumus “sebelum”. Tapi sering juga ia dapat komplain, ”Mbak Nita, kok punya kami belum dimuat? ‘Kan Minggu depan acaranya”.  “Itu bukan karena aku pilih kasih, tapi memang terhimpit situasi kerja dan akhirnya yang akhir aku awalin yang awal aku akhirin, beuh!”

reporter ddhk

Rima, GM DDHK Ust. Fauzi, Lutfi, dan Tati.*

KISAH dua reporter lainnya, Tati Tia Surati dan Lutfiana Wakhid, tidak kalah “seru” bin lucu. Tati sering ber-huffth dan ber-aaarrgh ria (mengeluh dan jengkel) soal laptopnya yang “lelet”, kena virus, hingga rusak hingga harus “dilem biru” –dilempar saja lalu ganti baru.

Perjuangan Tati yang mengangumkan, sering kali ia menulis berita via Handphone. “Jempol sampai kriting nih,” katanya. Tidak hanya itu, ia sering “mencuri waktu” –menulis berita dalam perjalanan belanja ke pasar! Dimaklumi, jika tulisannya sering “berantakan” seperti pengakuannya: “Nuhun, disusun lagi, wkwkwk… berantakan amat, keriting nulisna make hp!”

Tati yang terbilang reporter yang “rajin belajar” alias “banyak tanya” ini juga sering membantu Admin Facebook DDHK dalam menjawab pertanyaan atau konsultasi BMI HK yang punya masalah.

Lutfiana Wakhid punya “gaya tersendiri” dalam menulis berita. Ia “kentel banget” Jawanya. Lihat saja, ia menulis “rahmat” jadi “rahmad, “ustadz” jadi “ustat”, “Daqu” (Darul Quran) jadi “Dagu,” “nasib” jadi “nasip”, “segan” jadi “sekan”, dan banyak lagi. Ia menulis seperti “ucapan lisan”.  Bikin kesel? Pastinya…. namun jadi terasa kocak bin lucu! Asyik juga ada hiburan saat mengedit tulisannya.

Lutfi yang menyusun kamus bahasa Kantonis di page “Bahasa Kantonis” di salah satu laman DDHK News ini  libur hari Minggu.

Di rumah majikan, ia  bertugas menjaga mama Neli, 86 tahun, yang ia sebut “nenek lincah”. “Bukan lincah orangnya, tapi lincah lidahnya!” katanya dengan nada canda.

“Liburku tidak setiap Minggu karena harus bergantian libur dengan miss anak mama yang paling kecil. Tugasku tidak hanya masak buat mama, tapi dari mulai menagtur minum obat dan memberi suntikan buat mama, mengatur uang belanja dan mengatur menu diet miss,” tuturnya.

Lutfi, sebagaimana BMI lain, sering “telat” kirim berita karena kesibukannya.

“Tak jarang, bahkan sering, jika aku hari Minggu sudah mendapatkan liputan, tapi beritanya baru dikirim dan terbit dua sampai tiga hari, bukannya saya males nulisnya, tapi karena waktuku yang cukup lumayan sibuk di tempat majikan,” jelasnya.

Bagi Lutfi, Senin merupakan hari yang paling sibuk. Pekerjaan yang hari Minggu ditinggal libur, menunggunya di hari Senin. “Dapur kesayanganku bagaikan kapal pecah dengan pemandangan mangkuk dan piring kotor yang menghiasi wastafel dapurku,” katanya.

Usai mengerjakan pekerjaan rumah, Lutfi biasanya mulai membuka rekaman dan mentranskrip (membuat beritas). “Tapi sayang, jika aku dengerin rekaman, aku sering tertidur… ha ha ha!” ujarnya.  “Walhasil, transcribe jadi tertunda. Maklum, kurang tidur dan banyak waktu di luar nemenin mama jalan-jalan… oups! yang jalan cuma aku ding! Mamaku duduk nyaman di atas kursi roda….”

Tubuh Lutfi yang bisa dibilang langsing, harus mendorong kursi roda dengan muatan berat setengah kwintal. Tentunya harus dengan tenaga ekstra jika jalan ada sedikit tanjakan dan siap selalu dengan rem bila ada jalan yang turun dan harus membantu mama untuk berdiri dari tempat duduk.

“Waktu istirahatkulah yang kupergunakan untuk menulis berita yang kukirim ke inboxnya Dompet Dhuafa Hong Kong,” ungkapnya. “Itu pun juga kadang ‘ga bisa langsung nulis kalau notebook kelahiran Cina daratan kesayanganku susah connect, maklumlah pemberian dari sang majikan notebook bukan merk global,” kisahnya.

Rima, sahabatnya sesama reporter DDHK News yang “paling imut dan paling centil”, suka menjuluki notebook Lufti “merek insya Allah”. Tapi menurutnya, julukan yang lebih cocok untuk noteboonya itu adalah merek “Alhamdulilah”. “Karena ‘Alhamdulilah’ dikasih majikan, alhamdulilah masih bisa dipakai untuk, nulis ha ha ha…!”

Lutfi mengaku, meliput kegiatan BMI HK sangat meneyanangkan karena bisa banyak teman dari berbagai organisasi dan bisa kenal denga para ustadz, bahkan bisa kenal artis dan pejabat.

“Tapi sayang, kadang untuk saat pengambilan foto, aku diteriaki oleh peserta.. . Mbak minggir-minggir….! Padahal aku mengabil foto untuk dokumentasi, biar ‘ga diteriaki orang, di punggugku harus ditulisi dengan huruf besar ‘DDHK NEWS’ kali ya…! “ katanya.

Lutfi bersyukur sudah banyak teman BMI yang mau menyapanya dibanding dulu. Artinya, sudah banyak teman yang mengakuiku sebagai WNI! “Sebelum aku aktif menjadi volunter dan reporter di DDHK, dulu kalau aku masuk masjid tak satu pun ada teman yang mau menyapaku dan memanggilku Mbak, dan tak ada yang mau mengajakku ngobrol. Kebanyakan mereka menjauh dariku karena mereka mengira aku bukan orang Indonesia, hehehe…..” kenangnya.

“Maklumlah, model wajah ‘Turki‘ –Turen Kidul alias Malang bagian selatan,” pungkas Lutfi yang berwajah mirip orang Arab atau Pakistan ini.

Keep writing and fighting kawan-kawan! Kalian Muhajidah Da’wah Bilqolam! Penebar syiar di media online. Barokallahu lakum….! “Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah…?” (Fushshilat: 33). Wallahu a’lam. (Mel/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org

5 Responses to “Inilah Risiko Reporter ‘Rangkap Jabatan’ BMI”

  1. A Aziz June 14, 2012

    ” Selamat Berjuang Sahabat “

    Reply
  2. aq dibilang paling centil @,@ aarrgghhhhhhhhhhtt (emang gtu yaa?? ^_^7 )

    Reply
  3. zainuddin June 13, 2012

    saluuut deh jempoll empat buat teman DDHK news dan BMI semoga kalian tetap semangat…..

    Reply
  4. Anita Kejora June 13, 2012

    Gadis berkulit putih cenah teh..hahahaaa
    bikin hormon Beta Endorphin ku naik nih ^_^

    Reply
  5. rima khumaira June 12, 2012

    whaaaaaaaa..haaaaaaaaa..ngakak guling-guling :p ooouppsssssssssttt :) KAyao!!! Allahu Akbar!! :) :):)

    Reply