Etika Berbicara Menurut Islam

Published on January 29th, 2011 by | Category: Opini dan Kajian


BANYAK orang celaka atau tersandung masalah karena lisannya. Islam mengingatkan umatnya agar hati-hati dalam berbicara. Hadits populer menegaskan, “Hendaklah berkata yang baik atau (kalau tidak) diam saja” (HR. Bukhari-Muslim).

Secara umum, Allah Swt mengajarkan agar kaum Muslimin dalam berbicara:
– Menggunakan kata-kata yang benar dan jelas (Qaulan Sadida, QS. 4:9).
– Menggunakan kata-kata yang mulia, santun, lemah-lembut, tidak kasar (Qaulan Karima, QS. 17:23).
– Menggunakan kata-kata yang tidak menyinggung perasaan (Qaulan Ma’rufa, Q.S. 4:5).

BICARA KEBAIKAN
Semua pembicaraan harus demi kebaikan, bermanfaat, atau hal yang baik. Hindari pembicaraan atau obrolan yang tidak berguna (sia-sia).

“Dan orang-orang (beriman itu) yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna” (QS. 23/3).

“Barangsiapa yang beriman pada Allah dan Hari Akhir, maka “Hendaklah berkata yang baik atau (kalau tidak) diam saja” (HR Bukhari Muslim)

“Sesungguhnya seorang hamba mengucapkan satu kata yang diridhai Allah Swt yang ia tidak mengira yang akan mendapatkan demikian sehingga dicatat oleh Allah Swt keridhoan-Nnya bagi orang tersebut sampai Hari Kiamat. Dan seorang lelaki mengucapkan satu kata yang dimurkai Allah Swt yang tidak dikiranya akan demikian, maka Allah Swt mencatatnya yang demikian itu sampai Hari Kiamat” (HR Tirmidzi, Ibnu Majah).

“Bukanlah seorang mu’min jika suka mencela, melaknat, dan berkata-kata keji” (HR Tirmidzi).

Hindari Dusta, Ghibah, dan Adu Domba

“Tanda-tanda munafik itu ada tiga, jika ia bicara berdusta, jika ia berjanji mengingkarinya, dan jika diberi amanah ia khianat” (HR Bukhari).

“Janganlah kalian saling mendengki dan janganlah kalian saling membenci, dan janganlah kalian saling berkata-kata keji, dan janganlah kalian saling menghindari (untuk bertemu muka), dan janganlah kalian saling meng-ghibbah satu dengan yang lain, dan jadilah hamba-hamba Allah  yang bersaudara” (HR Muttafaq ‘alaih).

HATI-HATI MEMUJI & JANGAN ‘MENJILAT’
Abdurrahman bin Abi Bakrah dari bapaknya berkata: “Ada seorang yang memuji orang lain di depan orang tersebut, maka kata Nabi Saw: ‘Celaka kamu, kamu telah mencelakakan saudaramu! Kamu telah mencelakakan saudaramu!’ Lalu kata beliau: “Jika ada seseorang ingin memuji orang lain di depannya, maka katakanlah: ‘cukuplah si fulan, semoga Allah  mencukupkannya. Kami tidak menyucikan seorang pun di sisi Allah, lalu barulah katakan sesuai kenyataannya” (HR Muttafaq  ‘Alaih).

“Dari Mujahid dari Abu Ma’mar berkata: Berdiri seseorang memuji seorang pejabat di depan Miqdad bin Aswad secara berlebih-lebihan, maka Miqdad mengambil pasir dan menaburkannya di wajah orang itu, lalu berkata: ‘Nabi SAW memerintahkan kami untuk menaburkan pasir di wajah orang yang gemar memuji”. (HR. Muslim).

JELAS
Berbicara harus jelas dan benar, agar tidak menimbulkan salah paham. Jika lawan bicara terlihat tidak mengerti, perjelas hingga dia mengerti.

“Bahwasanya perkataan Rasulullah Saw itu selalu jelas sehingga bisa dipahami oleh semua yang mendengarkan” (HR Abu Daud).

TIDAK BERTELE-TELE
Gunakan kata-kata yang tepat sasaran, komunikatif, atau mudah dimengerti (Qaulan Baligha, QS. 4:63). “Berbicaralah kepada manusia sesuai dengan kadar akal (intelektualitas) mereka” (H.R. Muslim). Kata-kata yang komunikatif adalah yang tidak berbelit-belit, tidak bertele-tele, tetapi langsung ke sasaran (straight to the point), meskipun dalam kondisi tertentu harus diperhalus agar tidak menyinggung perasaan lawan bicara.

“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di Hari Kiamat ialah orang yang banyak omong dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai Rasulullah, kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab Nabi Saw: “Orang-orang yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

TIDAK TERLALU LAMA
Jika berbicara di mimbar atau di suatu majelis, hindari terlalu lama atau terlalu banyak berbicara, karena kuatir membosankan yang mendengar.

Abu Wa’il menceritakan. ‘Adalah Ibnu Mas’ud ra senantiasa mengajari kami (ilmu agama) setiap hari Kamis. Maka berkata seorang lelaki: ‘Wahai abu Abdurrahman (gelar Ibnu Mas’ud)! Seandainya Anda mau mengajari kami setiap hari? Maka jawab Ibnu Mas’ud: Sesungguhnya tidak ada yang menghalangiku memenuhi keinginanmu, hanya aku kuatir membosankan kalian, karena aku pun pernah meminta yang demikian pada Nabi Saw dan beliau menjawab kuatir membosankan kami” (HR. Muttafaq ‘alaih).

ULANGI KATA-KATA PENTING
Ulangi kata-kata yang penting jika dibutuhkan. Dari Anas ra, Nabi Saw jika berbicara, beliau mengulanginya tiga kali (jika hadirin tampak belum mengerti) sehingga semua yang mendengarkannya menjadi paham. Jika beliau Saw mendatangi rumah seseorang, maka beliau pun mengucapkan salam tiga kali (HR Bukhari).

Jauhi Perdebatan Sengit
“Tidaklah sesat suatu kaum setelah mendapatkan hidayah untuk mereka, melainkan karena terlalu banyak berdebat” (HR Ahmad dan Tirmidzi)

“Aku jamin rumah di dasar surga bagi yang menghindari berdebat sekalipun ia benar, dan aku jamin rumah di tengah surga bagi yang menghindari dusta walaupun dalam bercanda, dan aku jamin rumah di puncak surga bagi yang baik akhlaknya” (HR Abu Daud).  Wallahu a’lam. (ASM. Romli).*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: , ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑