DDHK News English Version
Home » Romantika BMI » Buku dan Mimpi Itu Membawaku kepada Islam

Budhe HalimahNamaku Widi Setio Rini. Nama Islamku Halimah. Aku dari Pati, Tayu, Jawa Tengah. Bungsu dari tiga bersaudara, semuanya wanita, dari kecil dididik keras oleh emak (ibu) tentang agama Kristen. Setiap hari Minggu diharuskan pergi “sekolah minggu” di gereja, dekat rumah, bersama teman-teman seusiaku. Sampai saat ini pun kenangan masa kecil masih teringat.

Ketika berumur 8-9 tahun, dari rumah pergi ke gereja, tapi di tengah jalan belok arah ke mushola, mengintip anak-anak seusiaku belajar ngaji. Sudah pasti sampai rumah langsung dimarahi, dipukul emak. Kejadian itu berulang-ulang.

Emak selalu mendapat laporan dari guru dan teman sekolah minggu. Sudah pasti sampai rumah aku langsung dipukul, dipecut, dicambuk, bahkan pernah dipaksa tidur di lantai, diinjak-injak kaki emakku. Aku menangis meronta-ronta, meminta ampun, bahkan aku pernah kedua tanganku diikat di kayu lalu, dikasih semut merah yangg gigitnya sakit skali, sambil dipecuti dengan kayu.

Tapi aku tetap nekat mengintip anak-anak lain yang mengaji di mushola tiap hari Minggu, walau sampai rumah langsung disambut pecut dan cambuk. Tubuh kecilku sudah tidak merasakan sakit lagi, saking seringnya mendapat perlakuan seperti itu.

Di sekolah pun sama. Waktu ruangan pelajaran agama Islam dan agama Kristen dipisah, dasar memang aku bandel, aku tidak mau belajar agama Kristen, malah mengikuti pelajaran agama Islam. Guru sekolah lapor ke emak, sudah pasti aku pulang sekolah, mana panas sekali, perut lapar, tidak diberi makan, sampai rumah langsung dihukum emak, disuruh angkatin air yang embernya gede-gede, seukuran orang dewasa, mana sumurnya jauh!

Aku langsung sakit parah. Bapak yang pulang kerja melihat aku kesakitan tanya emak, kenapa sampai sakit parah begitu. Dengan entengnya emak menjawab, biar mati sekalian, anak bandel, dan ocehannya sangat menyakitkan sekali. Tubuh kecilku masih berbalut seragam merah putih, dituduh “kecantol” pria yang beragama Islam. Katanya aku dibujuk pria itu.

Sakit kalau ingat semua itu. Mana ada anak seusiaku saat tahu pria, mustahil.

Memang, emak sangat membenciku karena aku tidak nurut, bandel, kadang dalam hati aku menangis melihat anak-anak seusiaku disayang, dimanja, dibelai emaknya, dibelikan pakaian yang indah-indah. Semua itu tidak aku dapatkan di masa usia SD, hanya gara-gara mengintip anak-anak seusiaku belajar ngaji di mushola.

Suatu ketika emak membawa benda tajam, ingin membunuhku. Aku diusir dari rumah. Aku lari ketakutan. Sandal jepitku lepas. Aku berlari dan berlari sambil menangis, entah ke mana harus pergi. Mau pulang rumah aku takut sama emak. Perutku kelaparan. Saking hausnya, air di kali kuminum. Aku berjalan dengan kaki berdarah. Kulewati jalan sungai, ingin sekali terjun ke sungai waktu itu, tiba-tiba ada yang menarik tangan kecilku, seperti bayangan putih, kumencoba mencarinya sudah hilang. Terpaksa aku jalan lagi, tak tahu mau ke mana, sudah malam, kelaparan, aku tidak kuat menahan sakit di kaki yang berdarah tertusuk benda tajam. Aku sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Emak sangat membenciku, bapak tidak ada di rumah malam itu.

Tubuh kecilku sangat lelah, sakit, kelaparan, aku melihat di kuburan tua. Ada pendopo rumah kecil, kubaringkan tubuhku di tempt itu. Aku sudah tidak kuat lagi menanggung sakit. Aku tertidur di pendopo itu, tiba-tiba dibangunkan seseorang, yaitu bapakku sendri. Aku memeluknya, mendekapnya, sambil menangis.

Hanya bapak yang menyayangiku. Aku diajak pulang, dibonceng sepeda. Setelah di rumah, aku makin ketakutan dengan emak, takut mau dibunuh. Emak tidak menyesal mengusirku, justru dia sinis melihatku. Bapak bertanya, kenapa emak mengusir anak dari rumah? Emak menjawab, “Kalau tahu begini dari bayi kubunuh saja dia!”

Semua kejadian yang menimpa terrekam di otak. Jadi, sampai kapan pun aku tidak akan pernah melupakannya.

Suatu hari, setelah melewati masa kecil yang penuh derita itu, aku nekad pergi merantau ke Jakarta. Aku ingin bekerja, mandiri, punya uang sendiri. Aku ingin membahagiakan emak. Aku ingin balas budi sama emak yang sudah melahirkanku dengan taruhan nyawanya.

Aku rela tidak melanjutkan sekolah karena kasihan kepada emak dan bapak yang membiayai sekolah kakak-kakakku. Aku rela merantau, kerja, demi ingin disayang emak.

Aku bekerja di perusahaan garmen. Teman kerjaku mayoritas etnis Cina dan bauyer dari luar negeri. Semua teman Cina beragama Kristen. Manajerku baik sekali. Kebutuhkan hidupku di Jakarta terjamin. Uang gajiku utuh, semua kukirim ke kampung, kukasih emak. Aku juga aktif di gereja lagi, bersama sahabat-sahabatku orang-orang Cina itu.

Bahkan, aku sempat sekolah Alkitab, setelah bertahun-tahun kerja di perusahan tersebut. Lama kelamaan aku risih, tidak suka dengan menejerku, aku tidak mencintainya yang selalu mengejar-ngejar. Aku mau dinikahkan untuk dijadikan istri keduanya.

Waktu itu usiaku 17 tahun, manajer 31 tahun. Kuakui dia baik sekali padaku, sayang, perhatian, semua keinginanku dipenuhi. Tapi aku tidak tergiur dengan hartanya. Aku tidak mencintainya. Akhirnya ku pilih keluar dari perusahaan tersebut. Aku tidak mau punya status perebut suami orang. Terpaksa aku pulang kampung.

Aku baca di kora, di Semarang ada PJTKI yang mau mempekerjakan TKW di Hong Kong. Aku mendaftarkan diri dan tinggal di penampungan. Aku menunggu selama tujuh bulan. Aku KL di rumah bos yang keturunan Cina Pöntianak. Keimananku diuji lagi. Aku dilarang jadi TKI. Aku mau dijadikan istri oleh anak si bos tersebut. Anak tunggal, pewaris satu-satunya perusahaan. Aku disediain rumah mewah, mobil baru. Tapi aku tidak gila harta.

Aku tidak mau menerimanya. Akhirnya aku minta dijemput sama petugas PT agar bisa kembali ke PT. Selisih satu minggu, aku di KL lagi. Lagi-lagi keimananku diuji. Kali ini juga pemilik Dealer dan Ruko Restoran yang mau menikahiku. Aku kabur dan tidak mau KL lagi. Aku muak, bosan, benci dengan semua itu. Semua yang mencintaiku orang-orang Cina. Semua beragama Kristen.

Visa yang kunanti turun. Akhirnya aku terbang ke Hong Kong tahun 2000. Negara ini bukanlah impian utamaku untuk mengais dolar, melainkan tempat pelarianku dari orang-orang yang menginginkanku.

Di Hong Kong aku medapatkan bos yang sangat baik. Bosku juga aktif di sebuah gereja. Aku pun aktif di sebuah gereja di Causwaybay. Seminggu sekali aku dapat kiriman renungan harian dari gereja tersebut.

Sahabatku di HK mayoritas Kristen, bahkan aku sempt sekolah FA, Sekolah Alkitab. Persahabatan yang indah. Semua kebutuhanku selalu ada saja yang menanggung. Pokoknya hidupku enjoy, tidak pernah ada kesulitan berarti. Semua orang sayang padaku.Tapi, ada sesuatu di hatiku yang tidak bisa menerimanya. Aku sendiri tidak tau kenapa? Meski aku bahagia bersama rekan-rekan segereja, kebahagiaan  hatiku tidak ada, rasanya hampar, kosong, tidak mantap.

Meski waktu kecil emak sangat galak akibat kebandelanku, aku ingin membuat emak bahagia. Semua permintaan emak kuturuti. Aku ingin disayang sama emak, meski emakku selalu mengancam jangan sampai aku keluar dari agama Kristen. Sebenarnya hatiku menangis, tertekan. Hatiku tidak menemukan kebahagian, sedangkan emakku selalu mengancam agar aku terus jadi seorang Kristen yang taat. Semua itu aku jalani sampai tahun 2006.

HARI Minggu yang cerah. Setelah selesai dari gereja, aku mau sekolah FA. Saat sedang berjalan kaki, tiba-tiba HP-ku berdering. Teman lamaku teleponn ingin bertemu. Ia rindu padaku, sudah lama tidak bertemu. Akhirnya aku putuskan tidak sekolah FA. Aku memilih ketemuan sama temenku.

Kulihat temenku baca buku kok aneh. Buku Hidayah namanya. Aku tertarik sama buku tersebut. Kupinjam, kubaca, aku kaget, aku baru tau, kalau orang Islam meninggal, semua erbuatannya sewaktu masih hidup harus dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Tuhan orang Islam cuma satu, yaitu Allah. Cuma satu, tidak berayah dan beribu, juga tidak beranak.

Aku mulai bingung. Kok beda sekali ajaran agama yang kuanut dari kecil. Dulu aku sempat memandang rendah Islam, kok orang-orang Islam suka bertengkar, saling bunuh, teroris, pokoknya aku ngebayangin yang jelek-jelek waktu itu. Sejak aq baca buku Hidayah itu, di waktu libur, aku membeli buku keislaman di toko Indonesia. Sejak itu pula aku sudah males, ga pengin pergi ke gereja lagi.

Suatu malam, aku bermimpi sangat aneh. Aku didatangi seorang kakek tua, berjenggot, semuanya serba putih. Ia bertanya padaku, apa artinya Al-Fatihah. Aku diam saja, tidak bisa menjawabnya. Kakek tersebut menatapku tajam, pandangannya sinis, seakan akan tidak menyukaiku. Ia langsung menghilang. Bangun tidur, aku bingung, apa itu Al-Fatihah.

Mimpi itu tidak aku hiraukan. Kuanggap bunga tidur saja. Malam berikutnya aku mimpi aneh lagi. Aku melihat di bumi ini tidak ada tumbuhan satu pun, banyak sekali orang disiksa, ditusuk-tusuk pakai besi, manusia dibakar, banyak yang meronta-ronta, menangis, menjerit, minta ampunan, tapi tidak ada satu pun yang menolongnya. Bumi itu panas sekali, dibanjiri lautan darah.

Pemandangan yang mengerikan. Aku takut melihatnya. Aku menitik kan air mata. Aku berada di tengah orang-orang yang disiksa. Tiba-tiba tubuhku terangkat dengan sendirinya, ke atas yang jauh sekali. Di atas aku melihat pemandangan yang sangaat indah. Hawanya adem, sejuk, nyaman, pelangi langit indah sekali. Aku melihat tulisan yang aneh. Seumur hidupku aku baru melihatnya. Aku tidak tau itu tulisan apa. Tiba-tiba mulutku berbicara dengan sendirinya, mengucapkan kata “Alloh” tiga kali. Lafadz “Alloh” itu bersinar, bercahaya, berkilau, putíih, menyinari wajahku dan sekujur tubuhku. Lama sekali menyinari wajahku dan tubuhku. Bintang-bintang di langit pun sama bersinar, bercahaya, semua menyinari tubuhku.

Aku merasakan hatiku damai, bahagia, sejuk sekali. Sungguh sangat berbeda dengan pemandangan yang kulìhat di bumi tadi. Tiba-tiba tubuhku perlahan turun ke bumi. Anehnya, bumi yang tadinya lautan darah, kini berubah menjdi lautan yang airnya tenang sekali. Di laut itu sudah tersedia perahu. Kakek tua yang pertama datang dalam mimpiku ada di situ, memandangku tersenyum, di atas perahu, sambil mendayung dan aku turun dari atas langit ke perahu itu, diajak keliling ke lautan.

Bangun tidur, aku bingung. Hatiku selalu resah sejak mimpi-mimpi aneh itu. Aku sudah tidak mau lagi ke gereja, males banget. Di hari libur Minggu, aku sengaja masuk ke toko buku di Causeway Bay. Aku melihat tulisan yang sama seperti di dalam mimpiku. Aku penasaran itu tulisan apa namanya. Aku tanya sama teman yang kebetulan pakai jilbab di sampingku,teman itu berkata, itu lafadz (tulisan) “Alloh”. Seketika itu juga aku menitikkan air mata.

Suatu malam aku bermimpi lagi. Kali nini aku berada di tengah jalan, tiba-tiba aku diserbu ribuan orang, semuanya jemaah gereja, ada pendeta, ada pastor, semuanya memaksaku untuk kembali ke jalan lamaku. Aku jawab tidak mau. Mereka menyiksaku hingga darah membanjiri tubuhku. Tanganku pun diikat.

Tiba-tiba dari atas langit aku melihat cahaya putih, berkilau, seorang pemuda tampan skali. Sekujur tubuhnya putih, bercahaya, berkilau, bagaikan cahaya lafadz “Alloh” yang pertama dalam mimpiku, menyinari tubuhku, dan pemuda itu mengulurkan tangan padaku, memandangku, sambil berkata, “Pegang tanganku jangan sampai lepas…”

Tiba-tiba ikatan tanganku lepas dengan sendirinya. Kupegang erat tangan pemuda itu. Tiba-tiba kami terangkat ke atas langit. Di tempat itu aku melihat pemandangan yang sangat indah. Baunya harum. Banyak sekali buah-buahan, makanan lezat, minuman susu, penghuni wanitanya cantik-cantik, prianya tampan-tampan, semuanya baunya wangi skali. Tempat itu nyaman, damai, sejuk sekali. Semua penghuni tempat itu memandangku dengan tersenyum, damai sekali.

Setelah mimpi yang ketiga kalinya itu, aku makin bingung dan resah. Sejak itu aku putuskan tidak mau lagi di gereja. Di Hong Kong waktu itu aku tidak punya sahabat yang beragama Islam. Akhirnya aku telepon sahabtku di Jakarta. Aku ceritakan semuanya.

Aku dikenalkan dengan sahabatnya yang kebetulan ada di Hong Kong, Mbak Sri. Saran Mbk Sri, aku ke kantor Dompet Dhuafa. Waktu itu Dompet Dhuafa Hong Kong di bawah pimpinan Pak Ogie. Aku dipinjami buku-buku Islam. Suatu hari, aku sengaja menemui Pak Ogie untuk pamit cuti pulang kampung selama dua minggu, tapi aku tidak mau pulang ke kampungku, karena masih takut sama emak.

Aku ingin pulang ke pesantren yang ada anak yatim piatunya. Aku ingin doa anak-anak yatim agar emakku mendapat hidayah dari Alloh. Dengan bantuan dan saran Pak Ogie, aku pulang dan menuju Pesantren Yatama Az-Zikra di Depok pimpinan Ustadz Arifin Ilham.

Setelah aku sampai di pesantren, setiap malam Rabu ada acara tarbiyah. Pada malam itulah aku masuk Islam. Ikrar syahadatku dibimbing Ustadz Arifin Ilham. Yang kasih nama Islamku Abu Jibril. Nama Islamku kini Halimah.

Kata Ust. Arifin, Halimah artinya wanita penyabar dan penyayang. Selama dua minggu aku tinggal di pesantren, berkumpul dengan anak-anak yatim piatu, bercanda,  belajar ,makan bersama, nyuapin anak-anak yang mash kecil, membelai nya. Ada si kecil Rama yang wktu itu berumur empat tahun. Giginya ompong. Ada juga Ilham yang selalu baik, sopan, dan selalu mendoakanku.

Subhanallah, hatiku bahagia karena Islam. Hatiku damai karena Islam. Islam itu indah. Islam itu damai. Alloh cuma satu, tidak beranak. Sangat beda jauh dengan ajaran agamaku yang dulu. Kalau mati, dosa ditebus Tuhan Yesus. Anehnya, waktu Tuhan Yesus disalib, kenapa Tuhan Yesus berkata dan memanggil Tuhannya dengan bahasa Ibrani,  Elli… Elli… Lama Shabhathani, Allahku… Allahku… jangan tinggalkan aku. Kalau memang Yesus itu Tuhan, kenapa ia memanggil Tuhan nya? Itulah yang membuatku makin tak percaya, tidak masuk akal.

Setelah kembali ke Hong Kong, aku ikuti pengajian, berkumpul dengan teman-teman di organisasi keislaman. Bahagia rasanya hati ini. Emakku belum tahu bahwa aku sudah masuk Islam. Aku minta solusi ke seorang ustadz. Berkat saran dan nasihat ustadz tersebut, aku beranikan diri menelpon Emakku di kampung. Aku meminta maaf, beribu-ribu maaf, menangis, memohon maaf, andaikan emakku ada di depanku, akan kucium telapak kaki emakku! Akhirnya emakku menjawab, sambil menangis, berkata bahwa emak sudah ikhlas, mengizinkanku masuk Islam.

Emakku menangis sambil berkata, “Maafin emak ya Ndouk… waktu kecilmu,emak menyiksamu, membencimu, sampai detik ini pun, kamulah yang slalu membahagiakan emakmu, di hatimu tidak ada rasa dendam, benci, marah, sama emak…!”

Alhamdulillah, emakku mengikhlaskanku masuk Islam. Banyak ujian setelah aku masuk Islam, termasuk fitnah dari teman, tapi aku lalui dengan sabar menghadapi ujian dari Alloh itu. Inilah bentuk kasih sayang-Nya terhadapku. Cukup bagiku mengadu, dengan bersujud dan berdoa kepada Allah SWT.

Sekarang aku kuliah di entrepreneur campus. Setahun lagi insya Allah pulang ke tanah air dan membuka usaha di sana. Mohon doanya. (Seperti diceritakan kepada Rima Khumaira/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org

One Response to “Buku dan Mimpi Itu Membawaku kepada Islam”

  1. Subhanallah, luar biasa perjuangan mbak Halimah. Menangis saya dibuatnya. Semoga Allah SWT senantiasa memberikanmu kekuatan!

    Reply