DDHK News English Version
Home » BMI Menulis » Becak Tetangga Masuk Koran

anita kejoraOleh ANITA SRI RAHAYU

“Sini, Nok, lihat ini…!”ujar ibuku dengan berlari kecil seperti hendak memperlihatkan hal yang berharga. “Ada apa sih, Bu?”aku bertanya penuh rasa heran kenapa koran bekas itu membuat wajah ibuku seperti bulan purnama.

“Ini ada foto becak tetangga kita, masuk koran,” lanjutnya, polos. Sekilas aku baca berita di koran itu tentang aturan pemerintah yang mengharuskan becak beroperasi hanya di daerah yang telah ditentunkan.

Baru becak tetangga yang dimuat di koran, ibu sudah girang setengah mati. Aku tidak bisa bayangkan, jika sampai dia melihat aku bisa menulis buku, karyaku, ada namaku di sana, anak perempuannya yang selalu menyusahkannya dari kecil. Sering sakit dan tidak bisa makan nasi jagung saat musim paceklik tiba. “Ririwit” (banyak masalah) kalau kata orang Sunda. Pasti ibu bangga sekali. Itu hal yang selalu aku rindukan, ketika aku bisa membuatnya merasa tidak sia-sia membesarkanku.

Genap satu minggu, aku bengong jika melihat monitor notebook-ku. Bingung, membuat kata pengantar dan biodata, karena aku bukan seorang yang punya gelar apalagi pintar. Tapi alhamdulillah, tulisanku akan dimuat menjadi sebuah buku!

Hmm… rasanya seperti mimpi. Dan tak hentinya aku bersyukur meski semua masih butuh proses yang panjang. Terima kasih Tuhan atas kesempatan yang tidak aku duga ini, atas kebaikkan malaikat yang Engkau utus menjadi orang berilmu yang sudi membimbingku, editorku.

AKU terus mengusung senyum semenjak mentari muncul di ufuk barat, hingga cahanyanya bersemu jingga pertanda hari mulai senja. Rasa letih terkalahkan oleh perasaan senang. Tapi sayang, itu hanya bertahta hingga malam tiba.

Mungkin betul, kadang kita menganggap kemudahan dan rasa bahagia adalah bukti cinta Tuhan pada kita, padahal itu anggapan yang salah. Justru saat kita diuji dan bisa bersabar, itulah tanda Allah cinta pada kita. Menaikkan derajat keimanan.

Masih dengan senyum yang tersungging, aku menyimak ilmu baru yang diajarkan nenek sore itu. Bagaimana cara menumis fukwa/ pare agar tidak terasa pahit. Caranya tidaklah sulit ternyata. Setelah dicuci bersih, kemudian potong tipis-tipis, lalu panaskan wajan tanpa minyak, tumis pare sambil diaduk-aduk, baru kemudian beri garam, gula, dan sedikit minyak. Jangan ditutup. Maka tekstur pare akan menjadi mengkilat, empuk tapi tidak lembek. Tidak terasa pahit dan jus yang terkandung membuat sensasi tumisan itu lebih segar. Ilmu baru, aku letakan pare di samping kompor yang masih menyala. Kemudian bersiap memasak menu berikutnya.

Memiliki kesempatan mencari pengalaman di sela kesibukan kerja, sangatlah sesuatu yang aku anggap mukjizat. Namun, tetap harus sadar pada tugas pokokku sebagai pekerja. Harus aku akui, banyak hal positif yang bisa aku lakukan di Hong Kong ketimbang di Indonesia. Selain lingkungan yang kurang mendukung, kesempatan yang tidak merasa, kesenjangan yang terlalu mencolok, rasanya lengkap sudah melahirkan generasi produktif tanpa kesempatan jika pun ia punya keinginan. Mungkin itu penyebab BMI betah di rantau. Entahlah.

Sudah kebiasaan punya kegiatan saat libur, sehingga jika tidak ada aku akan merasa bosan. See, pada dasarnya itu yang harus jadi motivator pemerintah, agar pengiriman TKI jangan dijadikan penyelesaian saja, tapi rumus untuk memperbaiki kualitas SDM rakyatnya.

Kami tidak malas, hanya terlalu sulit menghadapi kesenjangan yang tak berujung. Mungkin tidak kepikiran atau pura-pura tidak tahu saja, pemerintah hanya memberikan solusi jangka pendek. Bukan pada keahlian rakyat dan kesempatan kerja, bahkan tak jarang ada satu keluarga mulai dari ibu, adik, bibi, ponakan bekerja di HK berjamaah. Sampai kapan semua ini menjadi solusi ?

Mungkin jawabannya adalah susah hidup di tanah air, dengan segala carut-marutnya. Bahkan, aku pernah mendengar temanku berkata, “Ngapain kamu sibuk nulis, capek-capek. Di Indonesia sarjana banyak, Nit, pasti kalah saingan kita, mending belajar gitar saja yuk… ‘ga dapet kerja kalau pulang, ‘kan bisa jadi pengamen!” Iya betul, kadang aku juga harus jujur takut. Tapi biarlah Tuhan yang menuntun apa arah yang bisa aku ambil menuju kepada rido-Nya.

Tugasku di rumah nenek selesai seiring matinya api di kompor malam itu, bersiap pulang ke rumah. Sambil nunggu jemputan si bos. Aku melihat layar HP, untuk membunuh waktu. Ups! sudah ada 2 SMS, panjang dan mengiris hatiku. Saat aku berbuat suatu kesalahan, aku selalu takut. Bukan hanya pada orang bersangkutan, tapi pada Tuhan.

Malam menyelimuti sekeliling dapur, hingga masuk pula kedalam hatiku, sedih. Aku sedih sekali, tanpa sengaja ada tulisanku yang membuat hati orang lain marah. Biarlah dengan lapang dada aku terima, toh tidak selalu predikat salah itu buruk, setidaknya jika aku berjiwa besar mau mengakui. Buat apa bersilat lidah, dan menang. Jika hanya di depan manusia. Tak masalah aku sedih.

Dia memintaku segera menghapus tulisanku di media, tapi aku masih di rumah nenek saat itu. Sementara komputerku di rumah si bos, tempat aku mengais rezeki. Tak ada solusi terbaik, selain tenang. Biarlah sampai kapan orang bertahan marah, nanti setelah puas pasti akan diam. Tapi jujur saja, aku ingin segera pulang agar bisa menghapus tulisanku yang telah membuat dia tak enak hati.

Hmm… kurang dari 24 jam, suasana hatiku berubah warna. Sesampai di rumah, aku kabulkan permintaannya untuk menghapus tulisan itu. Dan ini sebagai pelajaran berharga buatku, agar lebih hati-hati kedepannya. Sungguh aku terpukul, karena tidak bermaksud buruk pada siapa pun. Nasi sudah jadi tukang bubur, ibarat pepatah. Aku pun tak bisa memutarnya ke hari yang lalu, bahkan ke pagi hari tadi. Tinggal bagaimana aku mencari daging ayam, goreng bawang dan kacang renyah agar rasa bubur itu menjadi santapan enak untukku.

TADI pagi, aku bersyukur karena Allah memudahkan satu dari urusanku yang aku anggap bukti kasih sayang-Nya. Tapi di malam hari, ujian datang menggilas kegembiraanku seketika, dan bersyukur ada kepasrahan di hati ini, bahwa semua adalah kehendak Tuhan. Aku rela jika itu yang Ia anugrahkan agar aku lebih introspeksi, di depan siapa pun.

Akhirnya, selama satu minggu aku hanya bisa bengong melihat file yang akan menjadi bahan bukuku, bingung menulis, takut salah lagi. Hidup sedih dan senang sudah biasa, biarlah aku akan tetap berjalan meski banyak duri diantara langkahku. Seperti kompor dan komputer yang selalu menyala untukku.

Kata ustadz, aku ini ibarat pekerja bangunan yang dipanggil mandornya dari lantai atas. Namun, aku sibuk dan tak mendengar, sibuk dengan kerjaku, tugasku. Maka mandor itu melemparkan uang koin padaku, agar aku menongok ke arahnya. Namun, aku malah mengambil koin itu, dan memasukannya di saku celanaku, kemudian mandor melemparkan uang kertas dengan jumlah yang lebih besar. Tapi aku melakukan hal senada, hanya memungutnya lalu tak mengingat dari mana uang itu jatuh. Sehingga mandor itu melemparkan batu bata padaku, hingga aku sadar dialah yang sedang memanggilku. Tuhanku yang Maha Baik, Allah ya Karim… terima kasih atas semua pelukan-Mu.

Aku lanjutkan tugas sebagai BMI dan relawan, selesai meliput. Hari yang sangat bermanfaat banyak bertemu kawan berilmu, yang dari mereka aku bisa memungut kearifan. Malam itu, aku selesaikan file tersebut ditengah rasa sedihku akan hal kemarin, ditambah kabar adikku yang kini dirawat.

Aku masih berjalan penuh kepercayaan akan kebaikan Tuhan di balik ini semua. Semangatku harus tetap menyala, sabarlah Ibu… Bapak… dan adiku sayang.  Suatu hari aku pasti bisa menerangi kegelapan kalian.  Dariku yang selalu menyayangi kalian…! (Anita Sri Rahayu, reporter DDHK News/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org