Batasan Syar’i dalam Bekerja, Boleh di Diskotik?

Published on November 8th, 2011 by | Category: Konsultasi Islam


Assalamu’alaikum, ustadz saya mau bertanya tentang batasan syar’inya apabila kita mau bekerja atau berjualan, apa yang boleh dan yang tidak boleh, seperti kita bekerja di hotel plus, di diskotik, atau di bioskop? Terima kasih. 083822980XXX

JAWAB: Wa’alaikum salam wr. wb. Islam melarang umatnya bekerja di bidang yang mengandung unsur kemaksiatan atau pelanggaran atas hukum Allah, seperti melibatkan minuman keras, judi, riba, penipuan, perzinaan/prostitusi, pornografi, dan sebagainya. Jika hotel, diskotik, bioskop, atau tempat apa pun mengandung unsur kemaksiatan tersebut, jelas tergolong tempat yang haram bagi umat Islam untuk bekerja.

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi dalam Fatwa-Fatwa Kontemporer menegaskan, Islam mengharamkan  semua  bentuk  kerja  sama   atas   dosa   dan permusuhan,   dan  menganggap  setiap  orang  yang  membantu kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya,  baik pertolongan   itu   dalam  bentuk  moril  ataupun  materiil, perbuatan ataupun  perkataan.

“Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akanmembenamkan mereka dalam neraka.” (HR Tirmidzi)

Tentang khamar (minuman keras, beralkohol) Nabi Saw bersabda: “Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya, pemerahnya, yang meminta diperahkan, pembawanya, dan yang dibawakannya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah).

Tentang suap: “Rasulullah saw. melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantaranya.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim)

Mengenai riba, Jabir bin Abdillah r.a. meriwayatkan: “Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orangyang menjadi saksinya.” Dan beliau bersabda: “Mereka itu sama.”(HR Muslim).

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Rasulullah Saw melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)2

Al-Qaradhawi juga menyebutkan kebutuhan  hidup  yang  oleh  para fuqaha diistilahkan telah mencapai “tingkatan darurat, terpaksa bekerja di tempat yang mengandung maksiat sebagai sarana mencari  rezeki,  sebagaimana  firman Allah SWT: “… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah:173).

Namun, tentu saja keadaan darurat itu harus diiringi usaha keras untuk meninggalkannya dengan mencari kerja halal. Allah SWT Maha Pengatur dan Pemberi Rezeki, tugas kita adalah ikhtiar, berdoa, dan tawakal. Wallahu a’lam.*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: , , , , , ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



2 Responses to Batasan Syar’i dalam Bekerja, Boleh di Diskotik?

  1. heldalory says:

    Assalamualaikum Ustadz, saya telah membaca tulisan diatas, saya mempunyai teman yg menjadi DJ disebuah diskotik/pub/THM di bali, saya sudah melarangnya, tp dia ttp saja menerima pekerjaan itu, meski tidak tiap hari ada job,.Apa yg harus saya lakukan Ustadz, dia teman saya, saya menyayangi dia, saya menyuruhnya berhenti, Apakah saya terlalu mencampuri urusannya? Apa yg harus saya sampaikan ke dia? apa saya harus meninggalkan dia?

    mohon saran ustadz, wassalam

    • editor says:

      Wa’alaikum salam wr wb. Tindakan Anda sudah benar, memberi saran. Kewajiban saling mengingatkan sebagai sesama Muslim sudah Anda lakukan. urusan dia menerima atau tidak, tergantung hidayah Allah SWT.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑