DDHK News English Version
Home » Hong Kong » Ayuni, Wajah di Balik Semarak Dakwah di TST

Ayuni TST BersatuLayaknya sebuah pertunjukan konser musik, kita sebagai penonton tidak perlu repot mempersiapkan apa pun yang berkaitan dengan penyelenggaraan acara. Hanya tinggal menyimak dan menikmati karena sudah ada penata laksana di balik sebuah acara.

Tentunya, itu bukan hal yang baru, karena sudah menjadi satu dari jenis usaha dalam pementasan musik. Orang yang berkecimpung pun rata-rata sudah ahli dalam bidangnya. Nah, lain lagi ceritanya dengan dakwah. Apalagi di Hong Kong (HK), negara dengan mayoritas warganya non-Muslim.

Menurut pendapat sebagian besar aktivis dakwah yang sudah lama aktif di HK, dalam tiga tahun terakhir, dakwah Islam mengalami kemajuan pesat di negeri beton (julukan lain HK karena 80% lahan dilapisi beton bukan tanah) dengan segala warna tentunya. Kini lebih meriah, mewah, dan sering sekali digelar. Jika ingin bukti, lihat saja di ranah dunia maya (Facebook). Hampir setiap akhir pekan atau hari libur minimal ada 6 event pengajian akbar.

“Ibarat kereta, itulah dakwah. Gerbong-gerbongnya akan tetap berjalan, dengan atau tanpa kita di dalamnya. Kita lihat positifnya saja, berarti mengalami kemajuan dan berkembang, dari satu orang menular ke yang lainnya, dan memang harus demikian. Dulu memang ada, tapi tidak sesering sekarang,” demikian pendapat Ustadz Abdul Ghofur yang pernah mengemban tugas sebagai General Manager Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK).

“Wah… dulu paling jamaah dua atau tiga puluh orang, ‘ga sampai seribu, penuh aula masjid ini seperti sekarang. Pengajian akbar juga jarang diadakan, bersyukur bisa lebih banyak jamaah dan setiap Minggu diadakan,” ujar aktivis masjid (pemimpin Yasianan)Tsim Sha Tsui, Sumini, yang sudah 15 tahun menjadi BMI HK dan aktif di salah satu organisasi keagamaan BMI HK.

Pernahakah Anda tahu atau berpikir, siapa orang-orang di balik lancarnya kemajuan dakwah di HK? Bukan untuk pamer, tapi alangkah baiknya jika menyimak pengalaman yang mungkin bisa menjadi cermin hidup dan sebuah kebaikan bagi kita.

BOLEH dibilang saat ini keberadaan organisasi BMI HK sudah menjamur, baik yang aktif libur hari biasa atau di akhir pekan. Begitu juga motivator penggeraknya yang tak kenal lelah atau putus asa, terbalut satu tujuan ”Dakwah di Negeri Beton”. Ada yang aktif dalam bentuk kecil, ada juga yang berkoalisi. Wah! BMI tak kalah saing ya dengan para elite politik?

Berbicara tentang koalisi, saya akan kupas sedikit tentang Jamaah TST Bersatu-Sabtu. Ini adalah organisasi muslimah BMI HK yang terdiri dari sekitar 18 anggota dan mayoritas aktif di hari biasa. Mereka berasal dari berbagai daerah, berbeda motivasi, tapi tetap satu warna. Kiprah mereka berdakwah berpusat di Islamic Centre Kowloon atau lebih dikenal Masjid Tsim Sha Tsui, dimulai dari sebuah niat dan kesederhanaan. Simak saja obrolan saya dengan koordinatornya berikut ini.

Ayuni, demikian sapaan akrabnya, BMI asal Bojonegoro, sudah merantau di HK sejak delapan tahun silam. Ia menjadi ketua pertama Indonesian Mirgant Workers Union (IMWU 2007-2009) dan memilih aktif di bidang keagamaan setelah itu dengan alasan panggilan nurani.

“Saat itu saya banyak teman, kelihatannya di TST ini belum ada organisasi yang aktif. Dan saya berpikir juga ingin berbuat sesuatu itu yang membei manfaat atau pahala bagi pribadi dan orang lain,” tuturnya.

Tahun 2007 TST Bersatu berdiri. Itu mulai dari satu persatu. Ayuni mengajak teman-temannya yang libur hari biasa untuk ngaji bersama. “Karena hari libur mereka beda-beda, saya bentuk TST-Senin, TST-Selasa hingga Sabtu, sesuai hari libur mereka,” katanya.

Banyak organisasi lain yang ikut berkoordinasi. Tapi sekarang pada perkembanganya, ada yang sudah maju, kemudian pisah dan aktif sendiri-sendiri. Ayuni mengaku senang saja. Namun, katanya, banyak juga anggota TST Bersatu hingga kini masih berkoordinasi.

Karena berlokasi di samping masjid yang merupakan tempat umum, ia harus pintar mengatur siasat. Dari para petugas yang kadang tega mengusir atau sesama pekerja (buruh migran dari Filipina –atau dikenal dengan sebutan PL) yang juga sering menghabiskan waktu liburnya di tempat itu.

“Kalau Satpamnya kenal kita, mereka tidak usil. Tapi ada juga yang tidak bersahabat, saya biasanya kecilkan volume speaker jika mereka lewat dan pura-pura seperti libur biasa saja. Kalau sudah jauh, kita ngaji lagi. Sering juga debat mulut dengan anak PL, intinya saya tidak rela mereka marah sama jamaah yang sedang ngaji,” lanjutnya.

Ayuni bukan hanya turun tangan sebagai koordinator TST Bersatu. Setiap anggotanya mengadakan acara, ia pun dengan senang hati turut membantu, bahkan jika pun mereka bukan anggota, mulai dari pembuatan tiket, banner, undangan, tempat, koordinasi ustadz, penginapan, antar-jemput, hingga mengawal mereka selama dalam misi dakwah di HK. Sebagian besar narasumber atau ustadz sudah tak asing lagi dengannya.

“Kebetulan saya stay out (tinggal di luar rumah majikan) dan majikan juga baik. Saya rasa ini jalan dari Allah Swt. Apa pun rintangannya, ya santai saja. Tapi jika sedang tugas, sampai tidak sempat urus diri,” ujarnya sambil mengenang tugasnya mengawal dai kondang KH. Abdullah Gymnastiar(Aa Gym) saat tausiyah di HK.

Sebelum dakwah di HK berkembang seperti sekarang, Ayuni sudah giat mengajak teman-teman sesama BMI memanfaatkan hari liburnya dengan mengaji. Jika hari libur atau tanggal merah, ia sudah di pintu gerbang masjid sejak ba’da Subuh. Ia menunggu pintu dibuka dan menggelar tikar untuk kegiatan anggotanya yang libur hari itu.

“Dulu belum banyak teman, saya lakukan semua sendiri, bawa tikar, dan alat lain subuh-subuh tunggu pintu gerbang di buka, ‘kan kalau sudah siang takut ditempati orang karena ini terbuka untuk umum,” katanya.

Tujuan TST Bersatu, menurut Ayuni, adalah untuk menyatukan. “Jadi mereka ‘kan aktif dari beda daerah. Masing-masing dengan rutinitasnya. Biasanya jika libur tanggal merah, ba’da Zhuhur mereka kumpul semua di TST, agar ustadz tak usah datang ke banyak tempat, jadi mereka bersatu di sini, sering juga narasumbernya ustadz dari DDHK,” terangnya.

“Penuh tantangan, tapi saya santai saja. Pesannya mungkin kembali ke niat, sayang jika sudah niatnya tidak baik, hanya akan dapat keletihan saja. Buat apa sih? Jika niatnya dakwah. Saya juga tidak membentuk uang kas, menghindari problema di masa depan, takut niat dan perjuangan sia-sia. Jadi setiap infak langsung kami salurkan pada yang berhak, hanya ambil dana kelangsunagan acara seperti konsumsi dan peralatan,” pugkasnya.

Kegiatan TST Bersatu sering menarik perhatian peneliti dan jurnalis karena TST adalah tempat turis dari berbagai negara, tidak hanya muslim, tapi juga non-Muslim, termasuk dari negara barat.

“Yah, memang ini positifnya melakukan dakwah di lapangan terbuka, banyak warga asing melihat, dampaknya mereka jadi tahu kita Muslimah, walau hanya sekilas lewat saja. Bahkan, dulu ada turis yang mengaku kuliah di HK, dia giat mengikuti pengajian kami, selalu datang. Duduk bersama menyimak setiap sesi. Dokumentasi yang dia ambil juga dibagikan ke kami, tapi sekarang sudah tidak lagi, dia bilang untuk bahan penelitian,” kisah Ayuni.

KINI situasi dakwah di HK berkembang pesat. Tak mungkin bisa demikian tanpa adanya kegiatan para pemulanya, dari sebuah niat dan usaha yang sederhana namun penuh keikhlasan, pelan dan pasti menimbulkan hasil.

Semoga mereka yang sudah merasakan mudah dan meriahnya tausiyah di HK tidak salah tujuan –misalnya meraup keuntungan demi kepentingan pribadi– dan menghargai kinerja mereka yang betul-betul mendirikan dakwah di negeri beton ini. (Anita Sri Rahayu, reporter DDHK News/ddhongkong.org).*


Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org

One Response to “Ayuni, Wajah di Balik Semarak Dakwah di TST”

  1. Anita Kejora July 5, 2012

    Kayaoooo…!

    Reply