Apakah Kaligrafi “Muhammad” di Masjid Itu Syirik?

Published on June 22nd, 2011 by | Category: Konsultasi Islam


Pada dinding masjid di Indonesia banyak dijumpai Kaligrafi “Muhammad” berdampingan dengan Kaligrafi “Allah” di sisi kiri dan kanan Mihrab. Keduanya sama besar seolah-olah sepadan dan seakan yang satu tandingan yang lain. Padahal, QS Al-Jinn (72) ayat 18 menegaskan : “Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah. Maka jangan kalian menyeru seseorang/ sesuatu beserta Allah.” Pertanyaannya : Apakah hal tersebut di atas adalah suatu bentuk syirik besar (mempersekutukan Allah)? Kemudian bagaimana hukum sholat di masjid seperti ini? (tatang barlian).

JAWAB: Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama tentang hiasan kaligrafi di dinding masjid. Pertama, tidak boleh (haram) karena tidak dicontohkan Nabi Saw dan para sahabat, juga khawatir mengganggu konsentrasi ibadah atau kekhusyuan sholat.

“Dahulu ‘Aisyah (istri Nabi Saw) memiliki kain gorden yang ia gunakan untuk menutupi sisi rumahnya. Maka Nabi Saw berkata kepadanya, ‘Jauhkanlah kain itu dariku, sesungguhnya gambar-gambarnya telah mengganggu shalatku” (HR. Bukhari).

Umar bin Khaththab melarang menghiasi masjid dan memperindahnya dengan alasan dapat mengganggu shalat seseorang. Ketika ia memerintahkan rehab Masjid Nabawi, ia berkata: “Lindungilah manusia dari hujan, dan janganlah engkau beri warna merah atau kuning karena akan memfitnah (mengganggu) manusia” (Shahih Bukhari).

Kedua, pendapat yang membolehkan, asalkan tidak berlebihan, tidak di bagian mihrab, tidak di depan yang bisa dilihat jamaah shalat, dan terpenting tidak mengganggu konsentrasi atau kekhusyu’an shalat. Ketiga, pendapat yang menyebutkan makruh dengan alasan bisa mengganggu jamaah dan terjerumus pada bermegah-megahan dalam membangun masjid.

“Mereka berbangga-bangga dengan masjid-masjid, lalu mereka tidak memakmurkannya, kecuali jarang.” (HR. Bukhori).

Soal kaligrafi “Muhammad”, ada pendapat Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin: “Membuat tulisan seperti ini (kaligrafi ) adalah tidak benar, karena perbuatan ini telah menjadikan Nabi Saw sebagai tandingan bagi Allah dan sesuatu yang menyamai-Nya. Jika ada orang yang melihat tulisan ini –sedang ia tak tahu yang punya nama– maka pasti orang ini akan meyakini bahwa keduanya (Allah dan Muhammad) adalah sama dan semisal.”

Menggabungkan nama Allah dan Muhammad bisa mengantarkan kepada kesyirikan. Apalagi jika kaligrafi itu di arah kiblat, hingga jamaah shalat terkesan rukuk dan sujud menghadap kedua nama itu. Hal itu berisiko “menyamakan” Allah dan Rasulullah Saw.

Hemat kami, pengurus masjid yang memasang kaligrafi Allah dan Muhammad seperti yang Anda sebutkan, tentu tidak bermaksud menyamakan keduanya, sehingga tidak termasuk syirik. Sholat di masjid tersebut sah. Hanya saja, hemat kami, sebaiknya tidak usah ada kaligrafi di mihrab, karena dapat mengganggu konsentrasi sholat dan menghindari potensi syirik seperti yang Anda risaukan. Wallahu a’lam.*

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: , , , , ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑