HUJAN deras sudah mengguyur selama empat hari, belum juga menunjukan pertanda akan reda. Mungkin karena musimnya. Suara air hujan yang jatuh dari genteng bocor ting-ting-ting pecah di permukaan baskom aluminium, tepat di ranjang tua tempatku tidur, berwarna hijau, entah muda atau tua karena sudah sangat lama.
Mungkin ini mas kawin saat ibu dan bapak nikah dulu. Mataku membulat. Makin malam kian tak bisa tidur. Sibuk dengan mimpi-mimpi yang ingin aku buat nyata sesegera mungkin. Aku tak mau besok tetangga akan bertanya, ”kenapa kolam di depan rumah tidak ada ikannya?” Halaman rumah akan banjir jika pagi tiba. Rumah kami paling tua. Ibu membangunnya dulu saat aku lahir tahun 1986. Kami baru kembali menempatinya setelah rumah di Bandung kena longsor tahun 2000.
Meskipun baru dua bulan selepas operasi, aku tetap bulatkan tekad untuk mengadu nasib ke Hong Kong. Berbekal doa bapak dan ibu saja. Bayangan bapak kusimpan rapat di hatiku. Dia tetap gagah dan aku hormati seperti dulu saat tangannya masih bisa memberiku uang 100 rupiah untuk membeli permen karet, dan ketulusannya menyisakan telur ceplok dari jatah ‘berkat’ saat kuli mencangkulnya untukku saat pulang sekolah.
Ah, cepat sekali waktu menggilas keindahan. Sejak bapak sakit, hidup terasa makin pahit. Tapi ketulusan cinta bapak tidak akan bisa aku temukan dari lelaki lain di dunia ini. Baju hadiah lebaran darinya masih aku simpan. Ini baju terakhir sebelum bapak sakit ’stroke’ saat aku kelas lima SD.
Baju itu kaus putih dengan kerah kotak-kotak, bergambar kantun “Pokemon”. Biar bapak hidup susah, tapi selalu mewujudkan apa yang aku suka. Sekarang aku sudah besar, harus bisa memberikan sesuatu yang baik baginya, walau tak sebanding setidaknya aku harus berusaha.
Ibu, dengan wajah sembabnya, seakan tak rela melepas kepergianku. Jika ada yang aku mohon pada Tuhan saat itu, tak lain hanya agar Dia menjaga ibuku saat aku tak ada di sisinya. Sejak bapak sakit, dialah nadi hidupku. Mendenyutkan kehangatan, agar anak-anaknya tetap bersemangat.
Bus malam mengantarkanku menuju daerah penampungan PT di Tanggerang sana. Ini awal kepahitan yang sesungguhnya bagiku.
SETELAH melalui proses medikal fit aku dijanjikan mendapat uang saku, tapi itu hanya janji. Aku datang tanpa sponsor, tak punya kawan satu kampung juga. Ternyata PT ini tidak membuatku betah. Tapi perasaan itu kukubur dalam-dalam, jika ingat butiran hujan yang jatuh di baskom aluminium itu dan pandangan sayu mata bapak, serta pelukan ibu yang hangat tapi lemah itu, aku marasa punya kekuatan untuk menghancurkan gunung yang tinggi sekalipun.
Ada beberapa orang yang datang bareng denganku. Setelah fit kami disuruh berdiri di halaman kantor dengan seragam PT berwana kuning. Pak Haryono, asisten pemilik PT yang biasa mereka panggil sing-sang atau tuan besar, berdiri tegak di atas lantai kantor, dikelilingi dua anjing hitam dan cokelat bernama Bobi dan Mimi. Sambil berpidato tentang peraturan PT, kami juga diharuskan ingat tahun lahir, yang mayoritas dipalsukan, termasuk aku.
“Hey… nama lo siapa? Tahun berapa lahir? Kecil amat sih…” ujarnya, sambil menunjuk lurus padaku.
“Anita sing-sang, tahun 86, tapi dituain sama Mbak Pur jadi 85,” jawabku polos.
“Jangan bilang dituain, inget! Nanti jika ada Depnaker kalian harus nurut pada biodata dari kantor, paham!” tegasnya, sambil menyuruhku lari naik turun tangga kantor sebagai hukuman jawabanku tadi.
Setelah itu, aku digiring menuju tempat yang para senior bilang “salon rambut”. Ternyata yang motong adalah para senior yang sedikit bisa mangkas rambut, tepatnya di bawah pohon jambu, sebelah kiri danau berwarna hijau, karena airnya berlumut tebal, seram. Kini aku nampak seperti anak tomboy, makin terlihat cute, dengan potongan rambutku. ABCD, ABRI Bukan Cepak Doang!
PT ini lumayan besar, dengan negara tujuan Taiwan, Hong Kong, Singapura, dan Malaysia. Seragam kami yang membedakannya, oren-Taiwan, kuning –HK, merah-Singapura dan Malaysia.
Senior membawaku ke ruang Akasia (mes), tepatnya lantai 2, ranjang garis kedua. Ranjang besi mirip ranjang tuaku di rumah ibu, bedanya ini bertingkat. Dengan sprei senada, satu ruangan itu berwarna merah muda semua.
“Ini ranjang kamu yah, inget nomernya nanti kalau piket akan didata,” ujar senior itu sambil pergi meninggalkanku agar bisa merapikan barangku yang masih bingung aku tata di mana.
Meskipun aku tak bawa barang banyak, hanya sarung warna gading, mukena, dan beberapa stel baju. Tapi di mes tidak ada lemari pakaian, hanya kardus bekas mie. Tepat di atas ranjangku, berputar sebuah kipas angin besar, mirip kincir helikopter. Suaranya berisik sekali. Aku berusaha beradaptasi, menata hati agar mati dari sifat manja. ”Come on, Anita…!” lirihku, membatin.
Tepat jam empat sore, mes penuh oleh para calon pahlawan devisa. Mereka harus belajar bahasa sesuai negara tujuannya dari jam 8 hingga sore, terkecuali murid yang dapat jadwal piket. Meskipun mes berjumlah tiga gedung, tapi mayoritas tujuan HK tinggal di Mes Akasia. Melihat pemandangan ratusan wanita yang bernasib sama, sungguh dalam hatiku merasa sedih. Tapi juga terhibur, setidaknya aku tidak sendiri.
Kawan satu ranjangku sudah dua bulan di PT. Dia mengajakku makan. Aku nurut, berjalan keluar dari mes dan menuju dapur, yaitu ruangan cukup besar dengan meja dan kusri panjang dari kayu.
Antrean panjang menyambut kedatanganku. Jika saja punya uang, mungkin aku sudah pilih beli makan di kantin seperti kawan lainnya. Akhirnya, tibalah giliranku. Petugas piket yang juga kawan kami, menyodorkan satu set memu makanan yang tertata di piring plastik mirip piring balita, bedanya ukurannya besar. Ada nasi, terong, dan ikan asin. Lalu minumnya harus ambil dari tong besar yang memiliki tiga keran. Ini juga butuh mengantre.
Aku duduk sambil berdoa sebelum makan. Menu sederhana tidak masalah. Asal halal dan sehat. Dari kecil aku sudah terbiasa. Tapi yang beda, nasinya. Sangat keras. Kalau kata orang Sunda bilang “muruluk”, mungkin beras paling murah yang dimasak, beras Dolog!
Ah, sakit sekali aku telan pelan-pelan. Karena kata senior jika tidak habis akan kena hukum, cabut rumput, bukan pakai alat, tapi tangan.
Sehari saja di PT sudah membuatku seperti berada di planet lain, terutama saat mandi. Kamar mandi itu untuk bersama-sama. Hanya ada satu bak besar di setiap ruangan. Masih kikuk, belum terbiasa.
Tapi ujian terberat bagiku justru datang di malam hari. Saat semua kawan nyenyak tidur dengan mimpi masing-masing, aku terbangun, badanku gatal-gatal. Suara kipas terasa semakin kencang. Satu malam seperti satu tahun rasanya. Kaki dan tanganku bentol besar dan penyebabnya karena gigitan “tumbila/tinggi” (bahasa Sunda), semacam kutu tapi besar, banyak sekali.
Aku sibuk membunuh mereka. Ini pembunuhan berantai yang aku lakukan setiap malam, tapi mereka seakan tak pernah mati, datang dari segala penjuru ranjang, yang tua dan mulai busuk itu. Kesejahteraan yang aku dapat di mes tidak sesuai dengan potongan yang harus aku bayar, 21 juta!
Hari pertamaku masuk kelas. Baru 1 jam sudah dipanggil petugas kantor beserta kawan yang tubuhnya mungil seperti aku. Katanya akan ada Depnaker. Kami diungsikan di gedung yang agak jauh, biasa disebut F9. Lima hari di PT, kejadian ini selalu berluang menimpaku “si badan kecil”. Alih-alih belajar, malah selalu disuruh ngungsi. Tapi nasib berbaik hati, meski aku kecil dan baru dantang, sudah ada calon majikan yang memilihku.
“Besok kamu PKL (Praktek Kerja Lapangan) Anita, di Mega Asri Bandung, keluarga Lause/guru Amei, nanti kalau ada proses paspor dan PAP kamu dijemput,” demikian perintah dari petugas kantor.
Sore itu, aku duduk di pinggir danau, melamun. Tak berdaya dengan perintah dari kantor. Tapi tetap bersyukur, setidaknya aku bebas dari santapan nasi Dolog dan “tumbila” (tinggi).
“Hei ngapain kamu bengong, enak kali PKL. Tapi uangnya ya buat orang kantor, kita tetap saja kere,” ujar si Butet, teman dari Medan yang sudah 5 bulan di PT.
“Bukan gitu, Kak, aku kerja ‘ga masalah, tapi belum bisa bahasa, baru ngo ko meng kiu (nama saya…) doang. Ya udah, sabun mandi punyaku Kakak pake saja ya,” jawabku sambil menatap hijaunya danau.
Mungkin sebab para korban terminit tidak selalu kesalahan pekerja. Tapi juga PT yang memeras dan mencari keuntungan dari berbadagai sudut. Bahkan, aku berangkat ke Hong Kong baru tahu sukmai (jagung) dan kaomeng (tolong) saja.
Bekal bahasaku nol besar. Waktu 4 bulan habis di tempat PKL. Rumah itu besar, dua tingkat. Selain kerja di rumah, aku juga harus membatu di laundry. Pekerjaannya lebih berat 90% dari job ku di HK sekarang. Sampai mataku cekung karena kurang istirahat.
Niat yang tulus, tekad yang bulat, cita-cita yang mulia, bukan berarti tidak ada halangan. Tapi aku ingat pesan ibuku, “Petinju yang hebat justru sering mendapat pukulan berat dan mematikan. Bedanya, ia bisa bangkit dan membalas lawannya hingga menang”.
Aku masih bertahan. Meskipun letih sekali, tapi aku tidak minta pulang ke PT karena trauma dengan kutu busuk dan beras Dolog. Akhirnya visa kerjaku turun. Pihak PT menyuruhku datang. Mungkin Tuhan sayang padaku yang hanya berbekal nekad dan cita-cita, tanpa uang, tanpa besukan.
Majikan PKL memberiku 500 ribu. Setelah genap 4 bulan aku bekerja, mereka berpesan agar tidak memberitahu hal itu pada pihak kantor. Berapa pun itu, aku bersyukur sekali. Dengan uang itu aku bisa hubungi ibu dan memberi tahu jadwal terbangku, lalu beli sepatu dan jaket tebal, karena Hong Kong sedang musim dingin.
Tidak semua kawan BMI bernasib baik, banyak pula yang bernasib buruk. Aku sedih jika ada film tentang BMI yang tidak sesuai dengan kenyataan. ’Frame’ yang disajikan sudah termanipulasi, mungkin mencari keuntungan dan takut banyak pihak yang dirugikan.
Gelar yang pantas buat BMI itu bukan ‘Pahlawan Devisa’, tapi ‘Pemerasan Senantiasa’. Semoga kawan yang bernasib baik tidak lupa diri setelah Allah Swt memudahkan rezeki kita di HK. Segera buat impian dan pilih jalan untuk menujunya. Jangan buang-buang waktu, lama di HK itu bukan prestasi lho, tapi bagaimana kita bisa lekas pulang.
Berbekal kepahitan, pasti. Pulang dengan kebahagiaan, harus lebih pasti. Kayao! (Anita Sri Rahayu/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org




