Pemerintah, media, dan sejumlah politisi Amerika Serikat gencar melakukan “perang kotor” (dirty war) terhadap Islam. Umat Islam menjadi “kambing hitam” sekaligus target dalam kampanye perang terhadap terorisme (war on terror).
“Perang kotor Amerika, pada kenyataannya, menargetkan kulit hitam, Latin, penduduk asli Amerika, aktivis politik, dan Muslim karena agama, etnis, dan keunggulan waktu dan amal mereka, memanfaatkan mereka sebagai kambing hitam dalam perang melawan teror,” tulis Stephen Lendman, peneliti Centre for Research on Globalization warga Chichago Amerika, dalam artikelnya “America’s Dirty War on Islam” seperti dimuat situs mathaba.net (17/7).
Media Amerika, kata Lendman, mengabaikan kenyataan betapa menderitanya jutaan orang akibat perang kotor itu. Media juga mengabaikan watak Islam yang mengajarkan kasih sayang, kedamaian, anti-kekerasan, derma, toleran, dan bahwa Islam memiliki akar yang sama dengan Yahudi dan Kristen.
Ahmed Abdulkadir Warsame adalah korban terbaru sikap anti-Islam Amerika. Ia ditangkap secara ilegal, diinterogasi (dan mungkin disiksa) di laut selama lebih dari dua bulan, berdasarkan tuduhan palsu bahwa ia terkait “teroris Islam”.
Warsame tidak mendapatkan proses peradilan dan keadilan dalam pengadilan apa pun, mengingat penangkapannya tanpa bukti dan Amerika bertindak sebagai hakim, juri, sekaligus algojo. (Mel/Mathaba/ddhongkong.org).*
Copyright (c) DDHK News - www.ddhongkong.org. Tulisan di website ini boleh dikutip sebagian atau seluruhnya dengan menyebutkan sumber DDHK News/www.ddhongkong.org
Tetap update berita dan artikel terbaru DDHK News di Ponsel Anda dengan mengetikkan: m.ddhongkong.org



