Aku Bukan Anak Haram!

Published on June 24th, 2012 by | Category: BMI Menulis


anitaOleh Anita Sri Rahayu

Kutemui dua wajah perempuan muda, mungkin usianya tak jauh beda denganku. Hanya raut wajahnya sudah penuh dengan goresan liku hidup yang lebih banyak daripada aku. Dua orang ibu muda, yang juga BMI spertiku. Di sebuah pendopo berwarna kuning, tapi penuh dengan suara hingar-bingar. Teriakan penjual rujak, kartu telepon, baju dan lainnya. Itu sudah situasi biasa tempat umum di Hong Kong saat hari libur. Disitulah nanti aku harus meliput sebuah pengajian. Saat sampai ternyata belum dimulai, dan percakapanku dengan kedua ibu muda itu mengalir begitu saja.

“Demi anak, saya ingin dia lebih baik dari ibunya. Bisa sekolah tinggi dan berilmu,” ujar Sinta, usianya sama denganku, 27 tahun. Tapi dia sudah menikah saat masih belia, hingga kini anaknya berusia 12 tahun. Mengadukan sifat majikannya yang galak, dan kerja tanpa istirahat. Kulihat ada sedih yang mendalam.

“Niat Mbak mulia banget, pasti Allah memberi pahala besar dalam setiap keringat mba, wah besar juga anaknya ya, enak suda berkeluarga. Punya misi dalam hidup jadinya,” sahutku, berusaha memalingkan kesedihannya.

“Ibu, sebagai ibu saya ini tumpuannya, harapannya, beda Mba Nita. Rasa kangen terhadap keluarga atau suami, lebih kangen sama anak. Bahkan, setiap makan apa pun saya ingat anak, pasti nangis,” lanjutnya. Aku tak mampu menjawab, kali ini hanya melemparkan pandangan pada langit hitam penuh uap air, mungkin akan jatuh di pipiku sebentar lagi, hujan.

Belum sempat mencerna curahan hati Sinta, Eka menimpali, ”Suami saya kecelakaan, kini cacat dan tak bisa kerja lagi, demi dia dan anak saya, kangen sih, tapi harus sabar.”

Aku ceritakan kisah ibuku yang sabar mengurus bapak sakit stroke sejak aku kelas lima SD, agar Eka termotivasi. Hidup tak selalu lurus, kadang penuh semak belukar.

Kenapa ada hitam, bila putih menyenangkan, Tuhan? Bahkan, untuk shalat saja, kedua ibu itu sangat sulit mendirikannya di tempat kerja. Hanya ketika libur mereka bisa melakukannya. Memang banyak sekali majikan “The Kill and The Killer”, tapi aku yakin Tuhan Maha Pengasih, dan tahu siapa hamba-Nya yang teraniaya.

Sekilas bertemu mereka, sugguh sedih hatiku. Sedangkan banyak sekali kembaran ibu-ibu yang kini mengadu nasib di Hong Kong.

Tepat waktu Zhuhur tiba, dua ustadz yang akan mengisi tausiyah hari itu tiba. Tikar garis biru-merah (kalau di kampungku ini untuk jemur padi kalau panen tiba), meja kecil dari kardus yang dibungkus jilbab merah, speaker kecil menyambut kedatangan mereka. Sangat sederhana, jauh dari kata sempurna. Tapi niat berbagi ilmu nampaknya sudah mengantarkan mereka ke tempat ini, hingga wajah mereka tetap berseri gembira.

Baru aku sadari, selama ini aku adalah pemulung. Mereka yang tulus melempar ilmunya, dan aku memungutnya semampuku, kadang ingat dan paham, kadang hanya berpatok pada tulisan di buku kecilku. Tuhan tidak memberikanku kesempatan untuk sekolah formal, tapi bersentuhan dengan para ilmuwan sejati sudah keberuntungan besar bagiku.

Satu ustadz adalah seorang aktivis pemberdayaan masyarakat di daerahnya, satunya lagi manajer. Mereka duduk bersama kami, di atas tikar itu. Waktu seakan cepat sekali berjalan. Semoga akan selalu ada orang berilmu yang tulus berbagi, kini dan nanti.

Kembali ke kisah dua ibu muda tadi, status yang mereka sandang karena mereka sudah resmi menikah dan punya anak sesuai syariat agama dan norma yang berlaku di masyarakat. Tinggal melanjutkan perjuangan liku kehidupan. Tapi ada pertanyaan yang diajukan satu jamaah di sesi tanya jawab, membuatku ber-huuufft-huuffft..ria dalam hati. Mau menyangkal, tapi itu realitas yang benar di zaman sekarang banyak pasangan yang baru nikah lima bulan, tapi sudah melahirkan, atau kasus lainnya. Tak habis pikir memang.

“Begini Ustadz, apakah pasangan di luar nikah yang sudah mengandung, lalu menikah. Pernikahan itu sah atau harus menikah lagi setelah anak mereka lahir?” demikian cuplikan pertanyaan jamaah.

Ustadz menjelaskan panjang lebar. Perikahan yang sudah mencukupi rukun nikah, itu adalah sah. Jadi, tidak ada istilah nikah dua kali. Yang jadi permasalahan, bukan pernikahannya, tapi pada hak anak mereka kelak.

Meskipun setiap anak yang lahir adalah suci, tidak haram, karena dosa (berzina) ditanggung orang tua anak tersebut. Namun, dalam hukum Islam, si bapak anak tersebut tidak menduduki posisi sebagai ayahnya, artinya jika kelak anak tersebut menikah, maka ayahnya itu tidak boleh jadi wali nikahnya. Melainkan harus dari pihak ibu, adik, atau kakak laki-laki sang ibu. Bahkan, pencantuman nama saja harus nama ibu, bukan ayah. Misalnya, si ayah bernama Doni, si ibu bernama Indah, si anak bernama Lina. Nah, nama anak diluar nikah itu jadi Lina binti Indah, bukan Lina binti Doni. Namun, untuk menutupi aib dan masa depan si anak, biasanya pihak KUA tidak memberlalukan penerapan peraturan nama itu pada anak di luar nikah.

Pikiranku langsung memutar pita film bergendre novelisme Aku Bukan Anak Haram apa mungkin, tidak! Nenek moyangku dari ibu masih berdarah biru keraton Kasepuhan Cirebon Girang, nenek moyangku dari bapak konglomerat zaman Belanda dulu, sayang aku lahir diketurunan ke-8, saat harta mereka tak habis buat tujuh turunan katanya.

Ah, mana mungkin aku anak haram! Biar orang tuaku hanya petani, mereka itu baik dan bernorma, ibuku menyandang gelar ibu juga dengan proses nomal seperti Sinta dan Eka. Terus kenapa nama belakangku memakai nama ibuku?

Apa mungkin seperti teori yang dijelaskan sang Ustadz tadi? Hadeeeh…ini buat intermezo saja kawan! Tentunya ini karena faktor pemilihan nama yang pas saja, versi kaka perempuanku tercinta yang biasa ku panggil Aang (teteh/mba). Dulu dia tidak punya adik perempuan, akulah yang paling dia sayang, hingga masalah nama pun dia yang turun tangan. Bapak ingin memberiku nama Fatimah binti Hasan Mustofa tapi dia tolak, dan mengajukan nama favoritnya untuku, Anita Sri Rahayu (Rahayu itu nama ibuku).

Intinya, hindari hamil diluar nikah! Jangan lakukan! Taklukan bujukan setan dengan pernikahan! Nikah saja kalau sudah tidak kuat. Islam punya cinta yang suci, di dalamnya bukan hanya ada syahwat, tapi juga pahala. Aku bukan anak haram. Lagi pula, dalam Islam tidak dikenal anak haram! Semua anak lahir dalam keadaan suci. (Anita Sri Rahayu/ddhongkong.org).*

 

Get News Updates from DDHK on Your Email
SHARE THIS. SEBARKAN KEBAIKAN!

Tags: , ,


About the Author

DDHK News adalah Website Dakwah dan Informasi Dompet Dhuafa Hong Kong (DDHK) atau Dompet Dhuafa Association Ltd. DDHK adalah Cabang Dompet Dhuafa (DD) yang berkantor pusat di Jakarta (Indonesia). DDHK didirikan tahun 2004. Mendapatkan pengesahan dari pemerintah Hong Kong sebagai lembaga sosial-keagamaan. Profil Selengkapnya



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Back to Top ↑